Rindu Nasionalisme Ekonomi dan Bela Pengusaha Lokal ala Kulonprogo
Gapura Kabupaten Kulonprogo @Nusantara

MALANGTODAY.NET  – Kulonprogo merupakan kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan ibukotanya adalah Wates. Daerah yang dulunya merupakan wilayah Kesultanan Ngayogyakarta itu memang tak setenar kota metropolitan lainya seperti Bandung, Jakarta dan Surabaya.

Daerah yang berbatasan langsung dengan Sleman itu pun sepi dari pemberitaan media. Namun dibalik senyapnya Kulonprogo, daerah ini berhasil mengentaskan masyarakat dari kemiskinan berkat kebijakan yang diterapkan oleh pemimpin daerah.

Pemimpin daerah Kulonprogo pun tak begitu terkenal bila dibandingkan dengan walikota seperti Ridwan Kamil, dan Bu Risma. Namun,  Hasto Wardoyo dikenal masyarakatnya sebagai pemimpin yang  mengangkat perekonomian  dengan berbagai inovasinya.

Pria kelahiran Kulonprogo 52 tahun silam itu memulai gerakan untuk mengentaskan perekonomian masyarakatnya dengan program Bela & Beli Kulonprogo dan mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan pelajar dan PNS di sana mengenakan seragam batik gebleg renteng, batik khas Kulonprogo, pada hari tertentu.

Ternyata, dengan jumlah 80.000 pelajar dan 8.000 PNS, kebijakan ini mampu mendongkrak industri batik lokal. Sentra kerajinan batik tumbuh pesat, dari cuma 2 menjadi 50-an.

Selain itu Hasto mewajibkan setiap PNS membeli beras produksi petani Kulonprogo, 10 kilogram per bulan. Bahkan beras raskin yang dikelola Bulog setempat, kini menggunakan beras produksi petani Kulonprogo.

Pria yang berhasil meraih penghargaan sebagai Dokter Teladan itu juga membuat PDAM mengembangkan usaha, dengan memprodusi air kemasan merk AirKu (Air Kulonprogo). AirKu kini menguasai seperempat ceruk pasar air kemasan di Kulonprogo.

Dikutip dari wikipedia, berbagai kebijakan lewat program Bela dan Beli yang ia gagas ternyata mampu menurunkan angka kemisikinan di Kulonprogo, dari 22,54 persen pada 2013 menjadi 16,74 persen pada 2014.

Selain itu dua perusahaan ritel modern yang biasanya membuka usahanya dengan berdampingan tidak itu tidak diizinkan untuk membuka usahanya di Kulonprogo kecuali bersedia bermitra dengan koperasi. Tentunya dengan syarat dan ketentuan tertentu. Salah satunya kewajiban menampung produk UKM di dalam gerai tersebut dan mempekerjakan karyawan dari anggota koperasi.

Jika sedang berada di Kulonprogo Anda pasti tidak akan menjumpai papan reklame iklan rokok. Pasalnya, kabupaten yang memiliki 12 kecamatan itu memang menolak sponsor dari perusahaan rokok. Dalam hal ini bupati yang juga seorang dokter itu  membela hak kesehatan bagi rakyatnya.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here