Foto: Ari Winardi bersama rekan di Freeport (Dhimas)

MALANGTODAY.NET – PT Freeport Indonesia di Kabupaten Mimika Papua saat ini berhenti beroperasi. Perusahaan asal Amerika itu tidak bisa ekspor, karena belum menerima syarat perubahan Kontrak Karya (KK) menjadi Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Freeport telah menghentikan kegiatan produksinya sejak 10 Februari 2017. Akibat pemberhentian aktivitas tambang, banyak pekerja yang saat ini mulai dirumahkan.

Salah satu pekerja, Ari Winardi mengatakan kalau sebagian karyawan dirumahkan untuk sementara. Namun untuk urusan gaji dan hak lainnya masih tetap diterimakan.

“Makin parah e, banyak pengurangan,” kata pria asli Jombang tersebut ketika dihubungi MalangTODAY.net melalui pesan singkat, Sabtu (25/02).

Bedasarkan data per 31 Desember 2015, PT Freeport Indonesia menyerap tenaga kerja sebanyak 32.416, terdiri dari pekerja langsung PT Freeport Indonesia dan pekerja dari perusahaan-perusahaan kontraktor yang disewa Freeport. Dari 32.416 pekerja itu, 12.085 adalah pekerja langsung atau karyawan Freeport.

Karyawan PT Freeport (Dhimas)

Menteri ESDM, Ignasius Jonan, telah menyampaikan sikap tegasnya mengenai masalah ini. Jonan juga telah memberi 3 opsi untuk Freeport antara lain, pertama pemerintah akan membuka perundingan guna tentang stabilisasi investasi yang diinginkan Freeport.

Jika opsi pertama ditolak, ada opsi kedua revisi UU Minerba Nomor 4 Tahun 2009. Namun untuk mengubahnya tersebut butuh waktu panjang. Jika opsi tersebut ditolak juga, pemerintah mempersilakan Freeport Indonesia untuk melakukan gugatan ke Abitrase Internasional sebagai opsi ketiga.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here