KOTA MALANG – Gelombang unjuk rasa penolakan terhadap revisi UU KPK terjadi di Malang. Sejumlah mahasiswa menggelar aksi demo pagi tadi.

Jika di Jakarta unjuk rasa diwarnai aksi ricuh dengan pihak kepolisian, di kota Malang puluhan mahasiswa dari Forum Mahasiswa Hukum Peduli Keadilan, Fakultas Hukum Universitas Brawijaya berunjuk rasa dengan damai.

Mereka melakukan aksi teatrikal yang menyimbolkan ketidakseutujuan terhadap pemerintah yang mengesahkan revisi UU KPK.

“Kami kecewa tidak bisa datang ke Jakarta. Teatrikal ini yang bisa kita lakukan di Malang dan mendukung perjuangan teman-teman di Jakarta. Percuma juga demo di DPRD Kota Malang nggak bakal didengar,” Koordinator Aksi, Dimas Pasha.

Dalam aksi di depan gedung DPRD kota Malang, nampak sebuah pocong bertuliskan ‘KPK’ digeret menggunakan tali rafia oleh seorang berjas hitam gagah menggunakan kacamata.

Nyanyian “Ibu Pertiwi” dari puluhan massa pun juga mewarnai penggeretan pocong yang tak berdaya sepanjang aspal depan DPRD kota Malang itu.

“Pocong itu menyimbolkan KPK yang ‘dimatikan’ oleh pemerintah melalui revisi. Aksi ini juga bentuk kekecewaan karena pemerintah memilih capim yang tak berkompeten,” ujarnya.

Tak hanya penyeratan pocong, beberapa massa juga menutupi wajahnya dengan sebuah kardus yang di bagian matanya dibolongi. Mereka juga membentangkan poster bertuliskan “Cukup Cintaku yang Kandas KPK Jangan”, “Dicari Jatidiri KPK” dan, “#RIP KPK”.

“Paper bag itu menggambarkan kalau pemerintah meskipun seakan menutup diri dari masyarakat pas pembuatan revisi UU kpk, tapi masyarakat itu bisa melihat dan mendengar lho kan kita bolongi matanya walaupun kecil,” jelasnya.

Dalam unjuk rasa tersebut, total tiga puluh mahasiswa tersebut mengakhiri teatrikal dengan menyebarkan bunga ke atas pocong sembari melakukan orasi dan pembacaan puisi bergantian satu persatu.

Pewarta: Bob Bimantara Leander
Foto: Bob Bimantara Leander
Penyunting: Fia

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.