KOTA BATU – Pemkot Batu menunjukkan keseriusannya dalam merealisasikan wacana proyek kereta gantung. Kemarin (9/9), bertempat di Balai Kota Among Tani, digelar acara bertajuk ”Cable Car Gathering”.

Sejumlah pihak hadir dalam acara tersebut. Ada jajaran forum komunikasi pimpinan daerah (forkopimda), kepala desa (kades), serta perwakilan dari Doppelmayr Austria, Hans Jones. Nama terakhir itu digadang-gadang bakal menjadi arsitek dalam pembangunan kereta gantung di Kota Batu.

Selain mereka, Advisor Among Tani Foundation Prof Dr Eddy Pratomo, serta perwakilan anggota DPRD Kota Batu turut menghadirinya. Sejumlah pemaparan terkini terkait wacana tersebut disampaikan dalam acara tersebut.

Seperti dijelaskan anggota tim pengkaji lapangan proyek kereta gantung, Tomy Satrio. Perwakilan dari pemerintah pusat itu menjelaskan estimasi biaya yang dibutuhkan untuk merealisasikan mimpi pemkot sejak tahun 2012 tersebut.

”Estimasi biayanya mencapai Rp 400 miliar hingga Rp 500 miliar,” terang dia. Angka itu menyusut dari perhitungan awal yang dilakukan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Batu.

Seperti diketahui, sebelumnya bappeda sempat menyebut kebutuhan dana hingga Rp 1 triliun untuk proyek kereta gantung tersebut. Untuk memenuhi biaya tersebut, Pemkot Batu telah memastikan bakal melibatkan warga.

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) bakal dilibatkan untuk mengakomodasi warga yang ingin memiliki saham proyek kereta gantung.

Sayangnya, progres dari wacana tersebut belum diketahui kemarin. ”Kalau untuk keterlibatan BUMDes maupun koperasi masih belum ada kajiannya. Setelah ini pasti akan kami pertimbangkan,” sambung Tomy.

Penegasan terhadap pembiayaan proyek tersebut juga disampaikan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. ”Kereta gantung ini bukan milik Pemkot Batu atau pun milik investor. Tapi milik masyarakat Kota Batu semuanya.

Saya ingin warga Kota Batu turut andil dalam penanaman saham, meski hanya sedikit, ya semampunya,” kata dia. Seperti diketahui, ide tersebut kini sedang dikaji lebih dalam oleh pemkot. Salah satunya yakni melibatkan otoritas jasa keuangan (OJK).

Di sisi lain, Perwakilan Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Batu, Arif Nugroho, berharap pembagian saham proyek tersebut juga bisa melibatkan investor. Dia mengusulkan agar pembagiannya 55 banding 45 persen.

Rinciannya, 55 persen saham dimiliki warga, sementara 45 persen sisanya boleh dimiliki investor. ”Nah, kalau sudah seperti itu tinggal nanti pengawasannya seperti apa. Jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan seperti tidak adanya transparansi dan sebagainya,” kata dia.

Terpisah, CEO Among Tani Foundation Ganisa Pratiwi menjabarkan bila beberapa teknis pembahasan proyek tersebut masih menemui kendala. Salah satunya yakni penentuan lima titik stasiun kereta gantung.

Sebelumnya, rute sudah didesain dengan panjang 14 kilometer. ”Ada masukan dari TNI terkait gangguan penerbangan saat latihan dan sebagainya, lalu kami ubah (rutenya). Termasuk rute yang bebas dari SUTET yang ada di Kota Batu,” kata dia.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Bayu Mulya

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.