MALANG KOTA – Satu per satu inovasi sekolah peserta Green School Festival (GSF) 2019 di tingkat SD bermunculan. Ini terlihat selama penjurian yang berlangsung sejak pekan lalu. Pada penjurian hari terakhir kemarin, SDN Sukoharjo 1 dan Sukoharjo 2 memamerkan terobosan masing-masing.

Untuk SDN Sukoharjo 2 misalnya, membuat potensi lidah buaya menjadi keunggulan sekolahnya. ”Kami pilih lidah buaya untuk dikembangkan pada isu tanaman hijau karena kaya manfaat. Selain itu, menanamnya pun juga mudah. Cukup di pot saja nggak ribet,” ujar Kepala SDN Sukoharjo 2 Dra Heriani MM.

Lidah buaya dipercaya dapat meningkatkan ketahanan tubuh hingga melembapkan kulit. Untuk pengolahannya simpel. Wali murid membantu siswa memotong lidah buaya, setelah itu mengupasnya.

Nah, baru siswa yang memasukkan daging lidah buaya ke dalam blender. Cukup ditambahkan sirup manis dan es batu. Jadilah, produk minuman segar dengan harga jual Rp 2 ribu. ”Kalau setiap hari nggak karena anak-anak bosen juga kan,” tambahnya.

Selain jus lidah buaya, SD yang terletak di kawasan Kotalama ini juga punya koleksi barang recycle. Ada banyak produk  sampah dari kaleng cat sampai tas dari plastik kemasan makanan diolah menjadi barang kerajinan.

Juri GSF 2019, Drs Didik Bekti Purwianto MPd mengatakan, SDN Sukoharjo 2 cukup berpotensi juara. Karena dikatakannya wali murid sangat mendukung (aktif) serta guru dan anak tampak semangat.

”Tapi, isu belum maksimal. Belum bunyi meskipun presentasinya baik. Bahasanya baik, tapi kalau masuk 9 isu kuranglah,” bebernya.

Pada ajang tahunan yang digelar Dinas Pendidikan Kota Malang ini memang mengusung tema sembilan isu. Yaitu, tata lingkungan sekolah, energi, air limbah, tanaman hijau, sampah dan polusi. Juga isu inovasi teknologi, ramah anak, sekolah sehat, serta literasi dan publikasi medsos.

Sementara itu, di SDN Sukoharjo 1 sendiri punya keunikan dalam memanfaatkan lahan terbatas. Sekolah ini berimpitan dengan bekas bioskop Garuda. ”Kebetulan, karena berimpitan, jadinya memanfaatkan ruang terbatas untuk sekolah nyaman bagi anak dan lingkungan,” jelas Kepala SDN Sukoharjo 1 Dra Erna Juwita MPd.

Persoalannya, karena lahan bekas bioskop Garuda tidak terawat, pihaknya mengajukan ke Pemerintah Kota Malang dan Dinas Pendidikan Kota Malang untuk merawat bangunan bekas bioskop itu.

Bangunan heritage ini lantas disulap menjadi musala dan kamar mandi yang lebih nyaman bagi siswa dalam beribadah. ”Kami desain dengan kenyamanan ekstra buat anak-anak. Bagaimana caranya, lahan ini bisa bikin anak-anak tidak takut,” jelasnya.

Sementara lahan di belakang sekolah ditanami aneka sayur, buah, dan pihaknya membuat vertical garden untuk menanam aneka tanaman. Bangunan lawas yang langsung terasa dari pintu masuk SDN Sukoharjo 1 dibuat menyenangkan dengan kehadiran siswa-siswi yang mengenakan baju ala suku Kalimantan. Dengan rok dan hiasan dari daun sejenis daun rumbia, mereka membuat aura sekolahnya kental dengan konsep Bhinneka Tunggal Ika.

Di sisi lain, penutupan penjurian GSF untuk SD ini akan dilanjutkan dengan penjurian di tingkat SMP selama enam hari. Lalu dalam agenda GSF nanti, akan ada malam penganugerahan dan pameran mading 3D di Graha Cakrawala UM pada 6 November.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntolib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.