Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (istimewa)
Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (istimewa)

MALANGTODAY.NET Presiden Joko Widodo kembali mencalonkan dirinya sebagai presiden di tahun 2019 nanti. Yang menarik, pernyataan Jokowi berupa kalimat-kalimat atau diksi ketika sedang berpidato kerap menuai kontroversi. Baik sebagai presiden maupun saat sedang berkampanye.

Pernyataan tersebut tentu terlontar karena satu hal lain dan sebagainya ya Zens. Merangkum dari IDN Times, berikut empat pernyataan Jokowi yang menuai pro dan kontra.

BACA JUGA: Teka-teki Pengganti Risma, Megawati Mau Ajukan Keponakannya?

1. Politikus sontoloyo

“Itulah kepandaian para politikus, memengaruhi masyarakat, hati-hati saya titip ini, hati-hati. Hati-hati banyak politikus yang baik-baik, tapi juga banyak politikus yang sontoloyo,” kata Jokowi saat bagikan sertifikat tanah di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan pada Selasa (22/10/2018).

Di kesempatan lain, Jokowi pun menjelaskan maksud pernyataannya mengenai politikus sontoloyo. Ia menjelaskan bahwa politik sontoloyo adalah politikus yang suka mengadu domba.

Menurut Jokowi, kalau politikus masih memakai cara-cara lama seperti itu, masih politik kebencian, politik sara, politik adu domba, politik pecah belah, itu yang namanya tadi politik sontoloyo.

2. Politik genderuwo

Pernyataan kontroversial lainnya terlontar tak berselang jauh setelah pernyataannya mengenai politikus sontoloyo. Saat acara pembagian sertifikat tanah di GOR Tri Sanja, Slawi, Kabupaten Tegal, Jumat (9/11/2018), Jokowi menyampaikan kekhawatirannya terhadap perilaku elite politik yang suka menakut-nakuti masyarakat.

“Cara-cara seperti ini adalah cara-cara politik yang tidak beretika. Masa masyarakatnya sendiri dibuat ketakutan? Enggak benar kan? Itu sering saya sampaikan itu namanya politik genderuwo, nakut-nakuti,” kata Jokowi.

3. Jokowi ingin tabok penyebar fitnah

Pernyataan ini terlontar dari bibir Jokowi saat membagikan 1.300 sertifikat tanah untuk warga Lampung Tengah di Lapangan Tenis Indoor Gunung Sugih, Lampung Tengah pada Jumat (23/11/2018), Jokowi menegaskan sikapnya terhadap hoaks-hoaks yang menurutnya sudah keterlaluan.

“Coba di medsos, itu adalah pidato tahun 1955. Kok saya ada di bawahnya? Lahir saja belum, astagfirullah, lahir saja belum, tapi sudah dipasang. Saya lihat di gambar kok ya persis saya. Ini yang kadang-kadang haduh, mau saya tabok orangnya di mana, saya cari betul,” kata Jokowi saat itu.

4. Salah sebut amnesti dan grasi Baiq Nuril

“Kalau sudah mengajukan grasi ke Presiden, nah nanti itu bagian saya. Semuanya ada alur dan proses yang harus diikuti. Sehingga tidak bisa mengambil kebijakan sendiri,” kata Jokowi menanggapi kasus Baiq Nuril.

Seharusnya, yang dapat diberikan Jokowi kala itu adalah amnesti karena menurut Undang-undang Nomor 22 Tahun 2002 mengenai Grasi, disebutkan bahwa seseorang bisa mengajukan grasi jika sudah berketetapan hukum tetap.

Selain itu, pidana yang dijatuhkan kepada seseorang yaitu berupa pidana mati, seumur hidup, atau minimalnya 2 tahun. Hal itu tidak sesuai dengan pidana Baiq.


Penulis: Ilham Musyafa
Editor: Ilham Musyafa

Loading...