MALANG KOTA – Upaya menyatukan suara Nahdlatul Ulama (NU) di bursa Pemilihan Bupati (Pilbup) Malang 2020 terus menggelinding. Kemarin (5/8) figur Nahdliyin yang bersaing merebut kursi bupati berkumpul di Pondok Pesantren (Ponpes) Sabilurrosyad, Gasek, Kelurahan Karangbesuki, Kecamatan Sukun.

Koalisi atau penggabungan beberapa kandidat dari Nahdliyin yang diinisiasi Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) Jawa Timur KH Marzuki Mustamar itu membentuk tim Lanjah Siyasah atau panitia seleksi (pansel). Tugasnya menjaring kader NU sekaligus mengerucutkan menjadi satu calon.

Forum tertutup yang dijadwalkan pukul 13.00 itu baru mulai pukul 14.15. Dari empat figur Nahdliyin yang disebut-sebut bakal maju dalam Pilbup Malang 2020, tampak tiga figur yang hadir.

Yakni, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Malang dr Umar Usman, Ketua DPC PKB Kabupaten Malang Ali Ahmad, dan Plt Bupati Malang sekaligus incumbent H.M. Sanusi. Sementara Saifullah Maksum, salah satu kandidat yang kini menjabat ketua DPP PKB itu tidak hadir.

Plt Bupati Sanusi Tinggalkan Forum Lebih Awal

Selain ketiga figur yang akan disatukan, forum tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh NU Jatim. Di antaranya, Wakil Rois Syuriah PW NU Jatim KH Anwar Iskandar dan anggota DPRD Jatim dari PKB Fatchullah.

Sedangkan dari kalangan akademisi tampak Rektor Universitas Islam Malang (Unisma) Prof Dr H. Maskuri Bakri MSi dan Rektor Universitas Islam Raden Rahmat (Unira) Malang Dr Hasan Abadi.

Sebelum pertemuan berlangsung, Plt Bupati Malang H.M. Sanusi yang datang sekitar pukul 13.45 sempat mencium tangan KH Marzuki Mustamar. Namun, orang nomor satu di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang itu pulang lebih awal, yakni pukul 15.00.

Sumber wartawan koran ini yang ikut dalam pertemuan itu mengungkap, sebelum dibentuk tim Lajnah Siyasah, Marzuki sempat memberi arahan tentang pentingnya memilih pemimpin dari kalangan NU. ”Beliau mengikhtiarkan pemimpin dari NU,” kata sumber tersebut.

Usai Marzuki memberi arahan, kemudian dilanjutkan Wakil Rois Syuriah PW NU Jatim Anwar Iskandar. ”Pak kiai (Anwar Iskandar) ingin menyatukan suara NU. Mengurangi potensi perbedaan sikap dalam berorganisasi,” lanjutnya.

Setelah itu, baru dibentuk tim Lajnah Siyasah. Institusi yang berada di bawah naungan PC NU Kabupaten Malang itu bertugas mengawal Pilbup Malang 2020.

Mulai menggodok kader Nahdliyin yang akan maju dalam pilbup hingga menetapkan satu yang paling layak. ”Konsepnya ya mengembalikan NU dalam satu suara. Dan baru kali ini NU membentuk tim yang khusus membidangi politik,” katanya.

Tim Pansel Berwenang Keluarkan Rekom Cabup NU

Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Malang, personel yang tergabung dalam tim Lajnah Siyasah berasal dari kalangan akademisi, politisi, dan ulama.

Mereka adalah Rektor Unisma Prof Dr H. Maskuri Bakri MSi, Syaiful Arif, Ustad Sibaweh, Ustad Arifin, dan Ketua Yayasan PP Darun Najah Karangploso H. Abu Yazid Al-Bustomi Muchtar.

”Intinya, tadi (hasil rapat koordinasi) disepakati menunjuk para kiai untuk menggodok itu (kader NU yang maju dalam Pilbup Malang). Namanya Lajnah Siyasah,” ujar KH Marzuki Mustamar, ketua PW NU Jatim yang juga pengasuh Ponpes Sabilurrosyad usai pertemuan.

Lajnah Siyasah ini bersifat ad hoc. Tim tersebut yang akan menyeleksi siapa kader NU yang paling layak diusung dalam Pilbup Malang 2020. ”Tim ini juga bisa memberi SK (surat keputusan calon yang diusung NU),” kata Marzuki.

Setelah memutuskan calon yang diusung, Lajnah Siyasah juga yang akan berkeliling ke calon pemilih untuk mengenalkan calon dari NU. Tugasnya, tim tersebut mengedukasi dan memberikan pencerahan di daerah-daerah. ”Ini lho calon yang pas untuk NU. Ini lho berpolitik bermaslahat,” imbuhnya.

Marzuki menambahkan, tim ini bekerja selama dibutuhkan. ”Suatu saat mungkin tidak ada pilbup. Tapi, misalnya ada kisruh di daerah lain terkait pilkades, maka tim ini kami turunkan untuk meredam kisruh,” jelasnya.

Ditanya kapan tim bekerja? Marzuki memasrahkan sepenuhnya kepada anggota Lajnah Siyasah. Jika terlalu tergesa-gesa dan memunculkan kader prematur, risikonya figur dari NU akan dibabat oleh calon lain.

Atau jika terlalu lambat mengusung figur, menurut dia, juga tidak pas. ”Tentu, masa kampanyenya kurang,” kata Marzuki.

Marzuki menegaskan, meski saat ini sudah ada beberapa figur NU yang mencuat di media massa, tim Lajnah Siyasah tidak terpaku kepada figur tersebut. ”Bisa jadi ada figur lain yang sebelumnya tidak pernah muncul,” kata dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Maliki Malang itu.

Disinggung mengenai ketidakhadiran Saifullah Maksum, Marzuki menegaskan pihaknya tidak mengundang. ”Pak Saifullah Maksum dan pengurus pusat. Ya, urusannya pusat. Saya hanya mengundang yang di daerah saja,” kata dia.

Hingga kini, Marzuki mengaku tidak ada figur NU yang mendatanginya untuk meminta restu maju dalam Pilbup Malang. ”Tidak ada (yang meminta restu). Kalau berkomunikasi biasa. Misalnya dengan Pak Hasan Abadi, ya pas saya diundang ke Unira. Dengan dokter Umar (ketua PC NU Umar Usman) juga begitu,” katanya.

PKB-NU Harmonis

Sementara itu, Wakil Ketua Tanfidziyah DPW PKB Jawa Timur Hikmah Bafaqih mengatakan, adanya Lajnah Siyasah tersebut bentuk kepedulian NU terhadap politik. Dalam arti, NU tidak terjun langsung dalam politik praktis. Melainkan membentuk tim ad hoc.

”Tim itulah yang ditugaskan NU untuk menggodok proses recruitment. Tentu tetap berkonsultasi,” ungkapnya saat ditemui seusai acara rakor PW NU Jatim.

Hikmah membenarkan kelima personel yang ditunjuk menjadi tim Lajnah Siyasah. Rencananya, langkah NU membentuk pansel itu akan diikuti PKB. ”Nah, dari PKB nanti akan membentuk juga,” terang perempuan yang juga ketua Pimpinan Wilayah (PW) Fatayat Jatim itu.

Sebagai kader NU yang kini aktif di PKB, Hikmah mengaku bersyukur atas pembentukan tim Lajnah Siyasah. Karena hal itu menunjukkan bahwa hubungan antara NU dan PKB sangat harmonis. ”Tentu, dukungan dari kiai NU juga sangat penting,” terangnya.

NU Tidak Boleh Berpolitik Praktis

Sementara itu, Ketua PC NU Kabupaten Malang dr Umar Usman yang juga akan maju dalam Pilbup Malang 2020 itu mengaku pasrah. Apa pun keputusan tim Lajnah Siyasah akan ditaatinya. ”Kalau ditunjuk ya siap. Apalagi kalau sudah diperintah oleh kiai,” terangnya.

Menurut Umar, pembentukan Lajnah Siyasah itu penting. Tujuannya untuk menyiasati agar NU tidak terlibat langsung dengan politik praktis. ”Secara khittoh  kan NU tidak boleh berpolitik praktis. Makanya dibuat tim itu untuk dijadikan jembatan,” tuturnya.

Terpisah, Plt Bupati Malang H.M. Sanusi menyatakan, dia tidak berpartisipasi penuh dalam rapat tersebut dikarenakan jadwal pertemuan molor.

”Acara mestinya sudah dimulai pukul 13.00, tapi jam setengah tiga baru dimulai. Makanya pukul 15.00, saya izin untuk ke RSSA,” kata Sanusi saat ditemui terpisah tadi malam (5/8).

Sesuai dengan jadwal Bagian Humas dan Protokol Setda Kabupaten Malang, kemarin memang ada tiga agenda yang dijadwalkan untuk dihadiri Sanusi. Salah satunya yakni menemui salah satu bocah asal Poncokusumo yang saat ini sedang dirawat di RSSA Malang pada pukul 15.00.

Dalam pertemuan singkat tersebut, Sanusi menuturkan bahwa dirinya hanya sempat mengikuti kegiatan istighotsah. ”Nggak ada rekomendasi, saya hanya datang ketemu Kiai (Marzuki), yang lainnya itu urusan NU,” sambungnya.

Pun terkait dengan rencananya untuk menggandeng PDIP. Jika sebelumnya Sanusi berani blak-blakan soal keinginannya tersebut, kemarin pria berlatar belakang pengusaha tebu itu relatif lebih menahan diri. ”Bergantung partai, lihat saja nanti,” tukas Sanusi.

Pewarta : M.Badar Risqullah, Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.