SETIAP tahun, Pemkot Malang membangun drainase untuk menanggulangi banjir. Tapi hingga kini, Kota Malang belum bebas banjir. Bahkan, ada beberapa kawasan yang jadi zona merah langganan banjir. Masihkah dilanda banjir pada musim hujan November mendatang?

+++

GUNA mengukur keseriusan pemkot menanggulangi banjir, Jawa Pos Radar Malang memantau sejumlah titik langganan banjir. Di kawasan Jalan Galunggung misalnya, tidak terlihat pembangunan di kawasan tersebut.

Sejak era mantan Wali Kota Moch. Anton, warga sekitar sudah menyampaikan keluhannya. Berharap ada penanggulangan sehingga aman ketika memasuki musim hujan. ”Tapi, belum ada perbaikan sampai saat ini. Dulu ada tim dari Pemkot Malang survei lokasi, tapi tidak ada kelanjutannya lagi,” ungkap Tutik, warga yang juga berjualan degan di kawasan Jalan Galunggung, kemarin.

Sebenarnya, pemkot sudah menyiapkan solusi untuk menanggulangi banjir di Jalan Galunggung dan sekitarnya. Mulai kawasan Pulosari, Gadingkasri, Jalan Terusan Dieng, dan Jalan Bondowoso.

Proyek yang digadang-gadang mampu menanggulangi banjir di lima kawasan zona merah banjir itu adalah drainase sistem jacking (pengerukan di bawah tanah). Drainase sepanjang 1,4 kilometer itu membentang dari Jalan Bondowoso menuju Kali Brantas di Jalan Tidar. Tapi, proyek yang menghabiskan anggaran Rp 38 miliar itu tidak tuntas sejak 2013 lalu.

Tutik berharap, pemerintahan yang dipimpin Wali Kota Malang Sutiaji ini mampu menanggulangi banjir. Dia tidak peduli apa pun langkahnya, asalkan bisa membuat Jalan Galunggung absen banjir saja dia sudah senang.

Di Galunggung, banjir terjadi karena sungai di perbatasan Kelurahan Pisang Candi dan Gadingkasri tidak mampu menampung luapan air sehingga meluber ke ruas jalan raya.

”Sungainya memang ada di perbatasan antara Kelurahan Pisang Candi dengan Kelurahan Gadingkasri, tapi yang paling terdampak adalah warga Gadingkasri,” kata dia. ”Saya terpaksa tutup kalau sedang terjadi banjir,” katanya.

Sementara pantauan di kawasan Jalan Letjen S. Parman, kondisinya juga tidak banyak berubah. Upaya yang dilakukan pemkot untuk menanggulangi banjir di kawasan tersebut adalah pemasangan box culvert.

”Sejauh ini masih belum ada (penanganan khusus). Terakhir ya itu, box culvert,” papar Heri S. W., ketua RW 5 Purwantoro. Dia memaparkan, box culvert dipasang sekitar enam bulan lalu. Tujuannya untuk memperlancar arus air.

Sutiaji Ungkap 26 Titik Rawan Banjir

Sementara itu, Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan, pihaknya mencatat 26 titik rawan banjir. Di antaranya, di Jalan Pulosari, Jalan Rejekwesi, Jalan Galunggung, Jalan Jombang, Jalan Jupri, Jalan Bandulan, Jalan Bukit Barisan, Jalan Simpang Sulfat, dan Jalan Borobudur.

Meski begitu, pihaknya meminta warga tidak khawatir karena sudah menyiapkan berbagai upaya penanggulangan banjir. ”Ada dua upaya untuk mengatasi banjir,” kata Sutiaji.

Upaya pertama, dia mengajak seluruh elemen masyarakat menggiatkan kerja bakti. Dalam waktu dekat ini, Sutiaji akan melayangkan surat edaran (SE) ke RT-RW agar mereka membiasakan kerja bakti di lingkungan masing-masing.

”Jangan membuang sampah sembarang dan membiasakan berlaku hidup bersih,” kata alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang itu.

Sutiaji juga menerjunkan aparatur sipil negara (ASN) untuk bersih-bersih seminggu sekali. Setiap Rabu misalnya, dinas lingkungan hidup (DLH) diminta menginventarisasi titik drainase yang terjadi penyumbatan, lalu diminta membersihkannya. ”Sampah di drainase tersebut diambil,” kata dia.

Sutiaji memaparkan alasannya kenapa upaya yang dilakukan adalah membersihkan sampah. Menurut dia, mayoritas penyebab banjir adalah terjadinya penyumbatan drainase.

Disinggung mengenai sejumlah titik banjir karena sungai atau drainase tidak mampu menampung luapan air hujan, Sutiaji membenarkan. ”Ada juga yang disebabkan penyempitan drainase, tapi rata-rata yang adanya penyumbatan sampah di drainase. Makanya, kami menyatakan darurat sampah,” kata dia.

Khusus banjir yang disebabkan luapan air yang tidak tertampung drainase, Sutiaji menginstruksikan bawahannya untuk membangun drainase. ”Ada juga normalisasi drainase,” katanya.

Empat Kawasan Masuk Zona Merah

Terpisah, analis kebencanaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Mahfuzi mengatakan, pihaknya sudah menyiapkan antisipasi dan mitigasi bencana jelang musim hujan. Misalnya, menyiagakan personel terlatih. ”Bukan banjir ya, tapi genangan air. Tugas kami salah satunya ya antisipasi,” kata dia.

Dia juga gencar sosialisasi, pelatihan kesiapsiagaan, dan juga imbauan kepada warga. Sebelum musim hujan, warga diimbau rutin melakukan pengecekan drainase, sungai, dan sistem outlet saluran tertutup lainnya.

”Kami sudah imbau dan melakukan bersama-sama warga secara gotong-royong. Namun, warga memang perlu memulai dari diri sendiri,” imbuhnya.

Saat ini pihaknya masih menunggu arahan BMKG dan Jasa Tirta terkait peringatan dini curah hujan dan debit sungai. Mahfuzi menyebut, ada 4 kawasan yang masuk zona merah genangan air. Di Galunggung, S. Parman, Sawojajar, dan Gadang. ”Kawasan itu masuk zona merah karena sering menjadi kawasan genangan air,” ucapnya.

Rp 16 M untuk Tanggulangi Banjir

Sedangkan Wakil Ketua II DPRD Kota Malang Asmualik menambahkan, pihaknya sudah memanggil dinas pekerjaan umum dan perumahan rakyat (PUPR). Dalam hearing itu, dia menilai PUPR belum sepenuhnya melakukan antisipasi. ”Memang ada sejumlah titik yang disampaikan,” kata politikus PKS itu.

Di Galunggung misalnya, proyek drainase jacking yang belum kelar membuat banjir belum tertanggulangi. Asmualik menyebut, masalah hukum yang belum rampung membuat eksekutif belum bisa melakukan apa-apa.

”Untuk jacking, saya koreksi dulu ke kontraktor yang lama, ini harus segera selesai,” kata dewan dari Dapil Blimbing itu.

Di RAPBD 2020 Kota Malang, Asmualik menyebut anggaran penanggulangan banjir sekitar Rp 16 miliar. ”Ini nanti setelah jadi APBD, nanti PU segera tindak lanjuti,” pungkasnya.

Sementara itu, pakar Planologi Institut Teknologi Nasional (ITN) Maria Kristina Endarwati memaparkan, banjir didominasi oleh faktor alam. Meski terdapat beberapa faktor yang disebabkan oleh tindakan manusia.

Misalnya, berkurangnya daerah resapan air. ”Selain itu, intensitas hujan kadang berlebih sehingga penampungan air over capacity,” kata dia.

Selain banjir, juga disebabkan gangguan pada saluran penampung air. Misalnya tersumbat sampah. Menurut Maria, biasanya hal itu terjadi di kota-kota besar. ”Bisa dikatakan, sampah jadi penyebab utama banjir dan harus menjadi perhatian penting,” katanya.

Pewarta : nr1, nr10, Fajrus Shidiq, Eri
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.