Rabu Pagi, Rupiah Menguat Tipis ke Rp 13.330
Ilustrasi uang (Istimewa)

MALANGTODAY.NET – Nilai Tukar rupiah kembali menjadi perbincangan hangat seantero negeri ini. Pasalnya dalam penutupan perdagangan pasar spot Kamis sore (4/10/2018) kemarin harga dolar menembus angka Rp 15.165. Ini artinya nilai tukar rupiah kembali turun hingga 0,63 % dibandingkan hari sebelumnya.

Berdasarkan keterangan Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat ini disebabkan oleh faktor eksternal. Faktor inilah yang menurutnya membuat kurs rupiah terus mengalami pelemahan akhir-akhir ini.

Baca Juga: Gunakan Jet Pribadi, Miliarder Ini Terjun Langsung Ke Palu untuk Kirimkan Bantuan

“Kalau hari ini, memang mayoritas berasal, terutama trigger-nya, dari luar yang sangat dominan,” kata Sri Mulyani dikutip dari Tirto.id, pada Jumat (5/10/2018).

Lebih lanjut Sri Mulyani menyebutkan defisit APBN Italis menjadi salah satu faktor eksternal yang memicu sentimen negatif yang mempengaruhi para pelaku pasar investasi. Ia juga menambahkan bahwa hingga kini pemerintah terus melakukan pengendalian impor terhadap 1.147 produk konsumsi. Pihaknya juga akan terus melakukan pemantauan barang produksi dalam negeri setiap pekannya.

“Bauran kebijakan dari Bank Indonesia itu berhubungan dengan suku bunga, dengan makroprudensial, dan policy mereka mengenai intervensi untuk menciptakan perubahan yang bisa di-absorb (diserap) dan disesuaikan oleh perekonomian,” tambahnya.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengakui tekanan faktor eksternal memang sulit dibendung, khususnya terkait suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed). Parahnya, kenaikan suku bunga FED ini diprediksi akan terus terjadi hingga tahun depan.

Selain itu, faktor eksternal lainnya seperti kenaikan harga minyak mentah dunia dan penyerapan tenaga kerja AS yang diniali baik oleh investor juga menjadi faktor eksternal yang menyebabkan turunnya nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Bunga Cinta Bermekaran, 5 Zodiak Ini Punya Kehidupan Asmara yang Indah di Bulan Oktober

Prediksi Dampak Terburuk

Mengutip Torto.id, menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira, berlanjutnya pelemahan nilai rupiah ini dapat mengancap sektor riil yangberkaitan dengan impor dan utang swasta. Ia menambahkan banyak BUMN yang akan mengalami kesulitan karena kesulitan membayar hutang. Hal ini akan berdampak pada sistem ekonomi secara keseluruhan.

“Potensi gagal bayarnya akan berdampak sistemik ke ekonomi keseluruhan,” kata Bhima.

Selain itu, naiknya harga dolar juga akan menyebabkan biaya produksi menjadi mahal. Akhirnya harga barang-barang akan semakin tinggi. Kenaikan harga barang-barang yang tak diimbangi dengan daya beli dan konsumsi domestik akan membuat profit bisnis menjadi menurun.


Penulis : Kistin Septiyani
Editor : Kistin Septiyani

Loading...