Pengusaha: 'Kecintaan Kita Terhadap Kopi Nusantara Perlu Ditumbuhkan'
Penutupan Festival Dan Bursa Kopi Petani Kabupaten Pasuruan.

MALANGTODAY.NET – Kopi, rasanya sudah menjadi sebuah bagian hidup yang tak terpisahkan dari masyarakat. Tapi yang menjadi pertanyaan, apakah kopi nusantara sudah menjadi raja di negerinya sendiri? Dengan luasan lahan yang berhektar-hektar, benarkah kopi bangsa ini mampu menjadi pilihan pertama bagi geberasi milenia?

Founder Repoeblik Telo sekaligus pengusaha yang memiliki konsentrasi besar pada kopi, Unggul Abinowo menyampaikan, peluang dari bisnis kopi ini sangatlah besar jika dikerjakan secara serius. Karena saat ini, penduduk Indonesia sudah mencapai 260 juta jiwa. Sebagian besar di antara mereka pun selalu hidup dengan kebiasaan minum kopi.

Namun sayangnya, lanjut Unggul, tak banyak peminum kopi di nusantara yang mencintai produksi petani yang ada di dalam negeri. Sekitar 40 sampai 60 persen kopi di impor dari luar negeri. Padahal, banyak sekali petani di berbagai daerah Indonesia yang menghasilkan kopi dengan kualitas yang sangat bagus.

“Kecintaan kita pada kopi dari dalam negeri inilah yang perlu ditumbuhkan,” katanya dalam penutupan Festival dan Bursa Kopi Petani Kabupaten Pasuruan kerjasama antara Apeki Kabupaten Pasuruan dan Repoeblik Telo, Minggu (8/10) malam.

Lebih lanjut bapak dua anak ini menyampaikan, kebiasaan yang beredar di masyarakat saat ini cukup disayangkan. Karena masyarakat cenderung lebih bangga mengkonsumsi kopi yang berasal dari negeri orang. Alhasil, pertumbuhan bisnis kopi yang didalangi oleh orang asing semakin tumbuh.

Sedangkan nasib petani kopi tak banyak yang mengetahuinya. Dengan hasil produksi yang awalnya melimpah, bukan tidak mungkin lama kelamaan petani merasa capek dan berhenti untuk memproduksi kopi secara mandiri. Maka sebelum itu terjadi, generasi masa kini harus lebih ditingkatkan kesadarannya akan pentingnya mencintai kopi nusantara.

Namun di sisi lain, suami dari Anggraini Dewi ini juga merasa bangga. Karena meski masih ada gejolak dari masyarakat yang seakan acuh pada perkembangan kopi nusantara, ternyata masih ada anak muda yang dengan bangga mengenal lebih dekat apa itu kopi nusantara.

Dengan perkembangan teknologi dan globalisasi, menurutnya semakin banyak saja barista di berbagai daerah Indonesia. Bahkan mereka tak segan untuk mempromosikan kopi asli dari masing-masing tempat tinggalnya. Perkembangan ini memang sudah seharusnya diiringi dengan kecintaan seseorang pada kopi yang dimiliki di dalam negeri.

“Sekarang, anak-anak sudah banyak yang paham betul dengan jenis kopi. Padahal zaman saya dulu, saya nggak pernah tahu itu,” terangnya sembari tersenyum bangga.

Melihat perkembangan yang juga merupakan peluang itu, Unggul pun berusaha untuk ikut mendorong pertumbuhan produksi kopi nusantara, utamanya di kawasan Pasuruan dan Malang Raya. Sebab ia menilai, perkembangan yang ada harus diimbangi dengan segala kreativitas yang ada.

Senada, Ketua APEKI Kabupaten Pasuruan, Abdul Karim menyampaikan, kesejahteraan petani kopi saat ini cukup memprihatinkan. Pasalnya, tak sedikit yang merasa kesulitan dalam memasarkan produknya. Terkadang, harga yang dipatok dari para distributor pun tak pantas dengan keinginan para petani itu sendiri.

“Maka perlu rasanya bagi kami untuk memangkas itu semua agar pendistribusian kopi bisa lebih efektif,” paparnya.

Dia pun berharap, setiap petani di Kabupaten Pasuruan khususnya, dapat langsung mendistribusikan kopinya ke pengusaha kopi. Salah satunya ke cafe atau rumah usaha lain yang memang menyediakan kopi. Sehingga, jalur antara petani dan pengusaha semakin jelas dan tidak ada lagi mavia yang berkutat diantara mereka.

“Karena jika tidak ada yang meracik kopi, maka kopi pasuruan akan susah menjadi tuan rumah di kabupaten pasuruan sendiri,” pungkasnya.

Dalam penutupan Festival dan Bursa Kopi Petani Kabupaten Pasuruan tersebut, pendamping petani kopi Kabupaten Pasuruan, Muslim Mustadjah juga turut hadir. Dia pun turut menyuarakan aspirasi para petani lokal yang saat ini membutuhkan dukungan dari masyarakat. Terutama dengan gerakan untuk mencintai kopi yang diproduksi secara mandiri oleh anak bangsa.

Festival yang digelar di Waroeng Daoen itu memang sudah diselenggarakan selama satu bulan penuh. Beragam kegiatan untuk mendukung pertumbuhan kopi nusantara dilakukan. Mulai dari workshop kopi nusantara, pelatihan menjadi barista, hingga lelang kopi. Kegiatan yang dibuka langsung oleh Bupati Pasuruan, Irsyad Yusuf pada awal September lalu itu pun resmi ditutup dengan manis pada Minggu (8/10) tadi malam.(pit/ind)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.