Naik Pesawat Bawa Powerbank, Penumpang Wajib Perhatikan Ini!
ilustrasi larangan membawa powerbank di pesawat @inikata.com

MALANGTODAY.NET – Direktorat Jenderal Perhubungan Udara baru saja mengeluarkan peraturan baru untuk para maskapai dan penumpang pesawat. Surat Edaran (SE) nomor 015 Tahun 2018 tersebut berisi tentang ketentuan yang harus dipatuhi para penumpang yang membawa serta powerbank  atau baterai lithium cadangan saat akan melakukan penerbangan.

Melalui keterangan tertulisnya, Dirjen Perhubungan Udara, Agus Santoso menyampaikan, SE tersebut ditujukan pada maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang melaksanakan penerbangan di dalam atau dari wilayah Indonesia.

Baca Juga: Lanjutan Sidang Adik Dituntut Kakak Ipar, Replik JPU Dituntut Dianggap Tak Sesuai Fakta

Peraturan ini menurutnya muncul sebagai upaya nyata perlindungan keselamatan dalam penerbangan di Indonesia. Karena baru-baru ini terjadi ledakan kebakaran power bank akibat meledaknya power bank di tas jinjing yang diletakkan di hatrack dalam sebuah penerbangan di China oleh maskapai penerbangan China.

“Kejadian tersebut menjadi alarm bagi seluruh dunia terhadap potensi ancaman keselamatan penerbangan dengan adanya perkembangan teknologi dan kebiasaan sosial penumpang pesawat membawa powerbank kemana-mana,” katanya.

Menurut Agus, SE tersebut berkaitan dengan adanya potensi resiko bahaya meledak atau kebakaran pada powerbank. Hal itu dinilai sangat membahayakan keselamatan penerbangan.

Baca Juga: Ratusan Foto Bugil Tentara Wanita Kembali Bocor, 55 Prajurit Wanita Dihukum

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebelumnya terdapat kajian terkait bahayanya membawa powerbank dan baterai lithium cadangan dengan ukuran daya tertentu pada penerbangan. Sehingga pihaknya melakukan pengawasan dari awal terutama terkait besaran daya dari peralatan-peralatan tersebut.

“Hanya peralatan dengan daya yang besar yang kami tangkal, yang kecil silahkan saja dengan perlakuan tertentu sesuai aturan, hal ini juga mulai diatur diberbagai negara maju dalam hal penerbangan, yang selalu responsif demi menjaga keselamatan penerbangan,” ujar Agus.

Menurut Agus, pencegahan ini sangat perlu karena terkait dengan keselamatan penerbangan yang tidak bisa ditawar. Dengan adanya Surat Edaran ini, petugas regulator dan operator di lapangan mempunyai pegangan terhadap penanganan barang-barang tersebut baik di bandara maupun di saat penerbangan.

Baca Juga: Jagoan Modifikasi, SMK Pesantren Juara Umum se-Jatim

Di sisi lain, Agus juga menghimbau para penumpang untuk mengikuti dan mematuhi ketentuan dalam aturan tersebut serta bekerjasama dengan petugas terkait segala sesuatu pengaturan dalam SE ini demi keselamatan dan keamanan penerbangan. Karena keselamatan dan keamanan penerbangan adalah tanggung jawab bersama semua pihak, baik regulator, operator maupun penumpang.

Dalam SE Keselamatan ini, maskapai domestik dan asing diinstruksikan untuk menanyakan kepada setiap penumpang pada saat proses lapor diri (check-in) terkait kepemilikan powerbank atau baterai lithium cadangan.

Maskapai juga harus memastikan bahwa powerbank atau baterai lithium cadangan  yang dibawa penumpang dan personel pesawat udara harus memenuhi beberapa ketentuan. Diantaranya bahwa  powerbank atau baterai lithium cadangan  yang dibawa di pesawat udara tidak terhubung dengan perangkat elektronik lain. Maskapai  harus melarang penumpang dan personel pesawat udara melakukan pengisian daya ulang dengan menggunakan powerbank  pada saat penerbangan.

Baca Juga: Sutiaji Ingin Jadi Walikota Hanya Satu Periode Saja

Powerbank atau baterai lithium cadangan tersebut harus ditempatkan pada bagasi kabin dan dilarang pada bagasi tercatat. Peralatan yang boleh dibawa hanya yang mempunyai daya per jam (watt-hour) tidak lebih dari 100 Wh. Sedangkan peralatan  yang mempunyai daya per jam (watt-hour) lebih dari 100 Wh (Wh < 100)  tapi tidak lebih dari 160 Wh (100 ≤ Wh ≤ 160) harus mendapatkan persetujuan dari maskapai dan diperbolehkan untuk dibawa maksimal dua unit per penumpang.

Untuk peralatan yang mempunyai daya per jam lebih dari 160 Wh (Wh ≥ 160) atau besarnya daya per jam (watt-hour) tidak dapat diidentifikasi, maka peralatan tersebut dilarang dibawa ke pesawat udara.

Untuk peralatan powerbank atau baterai lithium cadangan yang tidak mencantumkan keterangan jumlah Wh maka perhitungan jumlah Wh dapat diperoleh dengan beberapa cara seperti yang tercantum di SE tersebut. Apabila jumlah tegangan/ voltase (V) dan jumlah arus/ kapasitas (Ah) diketahui maka perhitungan daya per jam (Wh) dapat dikalkulasikan dengan rumus E = V x I.

Baca Juga: Menawan Kukuhkan Dua Puluh Lima Program Demi Kemajuan Kota Malang

E = daya per jam, satuannya adalah watt-hour (Wh),
V = tegangan, satuannya adalah volt (V),
I = arus, satuannya adalah ampere (Ah).

Apabila hanya diketahui miliampere (mAh) maka untuk mendapatkan ampere-hour (Ah) harus dibagi 1000. Contohnya jika jumlah voltase  5 V dan jumlah kapasitas 6000 mAh, maka  jumlah daya per jam adalah 6000 mAh : 1000 = 6 Ah. Sedangkan daya perjamnya adalah 5 V x 6 Ah = 30 Wh sehingga masih boleh dibawa dalam penerbangan.

Untuk semua penyelenggara bandara harus memastikan penumpang dan personel pesawat udara tidak membawa Powerbank atau baterai lithium cadangan dalam bagasi tercatat. Serta harus memastikan daya per jam powerbank atau baterai lithium cadangan yang ditemukan saat pemeriksaan keamanan di Security Check Point (SCP) sesuai dengan ketentuan-ketentuan di atas.

Baca Juga: Enam ASN Pemkot Batu Diperiksa, Ada Apa?

Selain itu penyelenggara bandara juga harus  segera menindaklanjuti Surat Edaran ini dengan membuat Standard Operating Procedure (SOP). Sedangkan kepada Kantor Otoritas Bandar Udara di seluruh Indonesia diinstruksikan untuk melaksanakan pengawasan atas pelaksanaan Surat Edaran ini.

Loading...