Ilustrasi Gajah Mati @metro
Ilustrasi Gajah Mati @metro

MALANGTODAY.NETKepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bengkulu-Lampung Abu Bakar Cekmat memprediksi kepunahan gajah di Bengkulu tidak akan bisa dicegah lagi.

“Sepertinya kita tidak bisa mencegah kepunahan gajah di Bengkulu. Hanya bisa memperlambat,” katanya (20/10) dikutip dari Antara.

Pernyataan itu menggambarkan suramnya masa depan satwa langka dilindungi gajah Sumatera (Elephas maximus Sumatranus) di wilayah Provinsi Bengkulu.

Data yang dikumpulkan Abu menunjukkan populasi satwa berbelalai panjang tersebut terus menyusut. Diperkirakan tersisa 70 individu gajah liar yang hidup berkelompok dan terpisah.

Penyusutan populasi dikarenakan perburuan liar untuk perdagangan bagian tubuh gajah, konflik yang tinggi antara manusia, pihak perkebunan dan gajah serta habitat yang terfragmentasi akibat alih fungsi lahan untuk berbagai kepentingan.

Abu mengatakan saat ini kelompok-kelompok kecil gajah “terperangkap” dalam kantong-kantong habitat yang rentan terhadap gangguan. Kondisi ini dikhawatirkan semakin mempercepat kepunahan gajah sebab potensi konflik semakin tinggi.

Tidak hanya potensi konflik, gajah yang hidup berkelompok dan tidak bisa bertemu dengan kawanan lain membuat potensi perkawinan sekerabat atau “inbreeding” semakin tinggi.

Perkawinan sekerabat diketahui bisa menurunkan fungsi genetik sehingga dikhawatirkan mempercepat kepunahan satwa tersebut.

Bila tak ada upaya nyata, kepunahan satwa kunci itu tak bisa dihindarkan, kata Abu dalam rapat koordinasi pembentukan koridor gajah yang digelar di Bengkulu, Rabu (18/10).(zuk)