JawaPos.com – Bebasnya pergaulan serta banyaknya sumber informasi lewat internet saat ini membuat remaja bisa mendapatkan ruang yang lebih luas untuk mengonsumsi apapun seputar edukasi seks. Padahal, informasi yang ada bisa saja menyesatkan di tengah gelora dan hasrat remaja yang sedang memuncak.

Alhasil, banyak remaja yang sudah berhubungan intim rara-rata di usia 18 tahun. Padahal, ancaman penyakit serta kehamilan atau pernikahan dini selalu menghantui.

Hasil survei tentang kaum muda dari Reckitt Benckiser Indonesia menunjukkan bahwa 95 persen muda-mudi telah mengetahui tentang Penyakit Menular Seksual (PMS), namun pengetahuan dan pemahaman mereka hanya terbatas pada HIV / AIDS. Sementara, ada banyak penyakit menular lainnya yang masih kurang dipahami seperti kencing nanah, sipilis, herpes, dan infeksi jamur Candida.

Temuan lain mengungkapkan bahwa 57 persen anak-anak muda sepakat bahwa sekolah secara proaktif telah mengedukasi dan memberikan informasi tentang pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi, termasuk tentang PMS.

Ironisnya, 73 persen responden anak-anak muda merasa topik tentang pendidikan seksual dan kesehatan organ reproduksi dari sekolah belum memadai. Survei tersebut juga menemukan bahwa kaum muda memiliki informasi yang belum memadai mengenai kesehatan organ reproduksi dan pendidikan seksual.

“Data kami mengungkapkan bahwa teman sebaya dan internet merupakan sumber yang paling nyaman bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan informasi tentang kesehatan seksual dan organ reproduksi, meskipun faktanya, ada banyak konten yang tidak bisa dipercaya atau informasi yang salah yang tidak layak dikonsumsi mereka,” kata Direktur CSR Reckitt Benckiser Indonesia dr. Helena Rahayu Wonoadi, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/7).

Helena mengatakan, dari 500 responden, ada 33 persen yang sudah melakukan aktivitas seks penetrasi. Dari angka tersebut, 58 persen dari mereka melakukan hal tersebut di umur 18-20 tahun.

Minimnya pemahaman remaja tentang edukasi seks dan berbagai dampaknya dapat dilihat dari beberapa mitos yang salah dipahami oleh mereka, di antaranya:

1. Posisi Seks

Mitos yang salah itu termasuk 54 persen responden yang tidak yakin bagaimana posisi seksual sambil berdiri dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan.

2. Peluang Kehamilan

Tercatat, 57 persen responden percaya bahwa pria yang melakukan masturbasi sebelum melakukan hubungan seksual akan mengurangi peluang kehamilan. Banyak yang tak mengetahui pasti apakah hubungan seks pertama bisa langsung menyebabkan kehamilan atau tidak.

3. Alat Kontrasepsi

Survei memaparkan bahkan ada rasio 50:50 di antara para remaja yang menggunakan kontrasepsi saat melakukan aktivitas seksual penetrasi. Selanjutnya, untuk mengeksplorasi lebih banyak pengetahuan tentang kondom, hasil survei memperlihatkan bahwa ada perspektif yang berbeda di antara kaum muda dalam hal penggunaan kondom. Sebagian besar remaja memahami pentingnya kondom sebagai alat kontrasepsi, namun mereka setuju jika penggunaan kondom akan membuat aktivitas seksual mereka tidak nyaman.

Reckitt Benckiser Indonesia juga mencatat bahwa ada tiga hal yang juga kerap dilakukan remaja untuk mengalihkan dorongan seksual mereka. Tiga aktivitas itu adalah:

1. Olahraga

Ketika para remaja merasa adanya kebutuhan untuk mengekspresikan dorongan seksual mereka, 60 persen dari para remaja memutuskan untuk menyibukkan diri dengan

berbagai aktivitas, seperti berolahraga dan latihan fisik lainnya.

2. Bahas dengan Teman

Bagi para responden perempuan, selain menyibukkan diri, mereka lebih suka untuk menyalurkan dorongan seksual itu dengan fantasi seks dan membahasnya dengan teman sebaya terpercaya mereka.

3. Nonton Film Porno

Sedangkan bagi para responden laki-laki, bermasturbasi dan menonton film porno adalah cara utama mereka untuk mengekspresikan dorongan seks mereka.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.