Mahfud MD Ingatkan Pentingnya Iptek di Masa Depan
Mahfud MD@twitter

MALANGTODAY.NET – Pakar Hukum Tata Negara dan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahfud MD bercerita pernah menjalin kerja sama dengan Firts Travel pada tahun 2011 saat dirinya menjadi Ketua Alumni Universitas Islam Indonesia (UII). Namun hubungan tersebut akhirnya ia putus karena melihat gelagat yang tidak baik dari jasa travel tersebut.

“Saya dulu ketua alumni UII, tahun 2011 membawa peserta 750 orang, murah sekali waktu itu Rp 12 juta lancar, berikutnya saya bawa lagi 500 orang itu sampai di Jakarta penerbangannya ditunda, ini sudah dari seluruh Indonesia, sampai di Bandara ini ditunda tiga hari, padahal orang sudah cuti dan harus mengurus sendiri di situ, masih bisa berangkat,” ceritanya, dikutip dari Antara.

Kemudian, pada rombongan yang ketiga, menurut dia, jamaah diberangkatkan secara terpisah.

“Suaminya terbang ke Jeddah, istrinya terbang lewat mana, itu sehingga di Mekah pun menjadi terpisah-pisah, sehingga umroh menjadi kurang menyenangkan, 2011, 2012, 2013, akhirnya saya putus tidak boleh kerja sama dengan Fisrt Travel karena ini akan terjadi sesuatu, dan sekarang sesuatunya itu terjadi betul,” katanya.

Ia mengatakan, operasi First Travel tersebut seperti meniup balon, dengan mengumpulkan dana-dana para jamaah untuk memberangkatkan jamaah sebelumnya.

“Jadi dana yang dikumpulkan sekarang itu untuk membiayai orang yang diambil kemarin, orang yang diambil kemarin untuk sebelumnya lagi, itukan membengkak terus, akhirnya sampai sekarang 72 ribu, saya waktu itu langsung putus, saya tidak mau lagi dengan First Travel dia juga karena tidak mau mengeluaran secarik kertaspun, bahwa anda bayar,” katanya.

Di sisi lain, ia menegaskan tidak ada kewajiban negara untuk mengganti korban dugaan penipuan yang dilakukan oleh First Travel yang gagal memberangkatkan umroh.

“Negara tidak berkewajiban, kewajiban hukumnya tetap kepada yang menipu, kalau yang menipu tidak cukup yaitu yang menjadi korban, makanya dihukum dia,” ucapnya di Jakarta, Senin (21/8).

Menurut Mahfud, negara tidak harus bergantung, kecuali negara berbaik hati. ‚ÄúTetapi kewajiban negara tidak ada, kalau negara berbaik hati kita pujilah,” ucapnya.(zuk)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.