Mau Ditata seperti Apa Kawasan Wisata religi Ampel?

SEGALANYA ada di Ampel. Mulai tempat ibadah, cagar budaya, sentra jajanan, pasar busana muslim, pusat kuliner, sampai perbukuan. Juga, kehidupan masyarakat multietnis. Daya tarik tersebut membuat Ampel menjadi penyumbang wisatawan terbesar di Kota Pahlawan. Meski begitu, keberadaan ’’secuil Arab di Surabaya Utara’’ yang kondang itu dinilai belum sepenuhnya tertata.

Mengacu data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Surabaya, jumlah wisatawan yang berkunjung selama Januari–Juli 2019 mencapai 955.448 orang. Angka tersebut meningkat dibanding tahun sebelumnya dalam periode yang sama, yakni 435.158 orang. Naik lebih dari dua kali lipat. Pengunjung tidak hanya berasal dari Jatim. Tahun ini tercatat ada 1.241 turis luar negeri yang datang ke Ampel. Mayoritas dari Malaysia, Polandia, Singapura, dan Tiongkok.

Pemkot merancang beberapa program penataan agar warga dan peziarah semakin nyaman. Beberapa sarana dan prasarana dibenahi. Misalnya, perluasan gedung parkir. Juga, pembangunan museum yang tengah disiapkan.

Kepadatan lalu lintas menjadi pemandangan yang akrab dijumpai sehari-hari. Termasuk Jumat pagi (9/8). Kendaraan yang parkir di tepi jalan ditambah truk bongkar muat membuat pengendara yang melintas harus melambatkan laju.

Kemacetan itu sebenarnya jadi problem klasik di Ampel. Masih ada banyak masalah lain yang perlu dicarikan solusi. Misalnya, sentra PKL mangkrak, sampah, tidak adanya peta wisata, hingga aksi BAK (buang air kencing) sembarangan.

’’Ampel itu wisata bodong. Durung ketoto (belum tertata),’’ kata Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ampel M. Khotib ketika dijumpai di rumahnya di Ampel. Penggiat sejarah itu menyebut keamanan peziarah juga belum diantisipasi. ’’Beberapa waktu lalu onok turis kejeglong di trotoar. Bingung arep digowo nang ndi,’’ ucap Khotib, lantas tertawa.

Menurut dia, persoalan itu akan lebih cepat ditangani jika kawasan wisata Ampel memiliki pos kesehatan. Namun, jangankan sarana pengobatan, pusat informasi yang lengkap untuk wisatawan saja belum jelas. Para wisatawan tidak tahu harus mulai dari mana dan lanjut ke arah mana untuk bisa menikmati wisata Ampel secara efektif.

Pria yang lahir dan tumbuh di Ampel itu mendukung wacana pemkot untuk menata kawasan wisata yang tengah digembor-gemborkan. Penataan harus melibatkan banyak pihak dan berdasar perencanaan yang matang. ’’Bukan cuma infrastrukturnya, melainkan konten wisata harus dipikirkan,’’ jelasnya. Konten itu, di antaranya, papan penunjuk arah spot, peta wisata, dan paparan objek yang bisa dinikmati pengunjung.

Kepala Bappeko Eri Cahyadi menyebut pemkot telah menggodok sejumlah program untuk membuat destinasi lebih rapi. Mulai penataan sentra PKL, tempat jualan, sampai parkir. Rute peziarah yang datang akan diperjelas agar tidak semrawut. ’’Dengan begitu, ekonomi PKL akan lebih terbantu. Peziarah juga bisa merasakan kuliner Surabaya yang menjamur di Ampel,’’ jelas Eri.

Perubahan nanti juga terjadi pada beberapa bangunan di Jalan Pegirian. Rumah potong hewan (RPH) dipindahkan dan diubah jadi museum. Pengelola masjid dan makam Ampel mulai mengumpulkan ratusan peninggalan Sunan Ampel yang masih tercecer di beberapa kota. Mulai surat, buku, sampai kitab kuno akan dikumpulkan di Surabaya.

Selain membangun museum, pemkot berencana menata parkir secara besar-besaran. Pemkot bakal membangun gedung anyar di kompleks Terminal Wisata Religi Ampel. Rencana itu cukup konkret. Sebab, proyek sudah masuk lelang dan dianggarkan ratusan juta. ’’Nanti ditingkat. Insya Allah tingkat tiga,’’ kata Eri. Lantai paling bawah untuk bus. Lantai 2 dan 3 difungsikan untuk mobil

Niaga dan Properti Ikut Menggeliat

Pengunjung datang ke Ampel tidak hanya untuk berziarah atau berekreasi. Banyak pula warga asing yang melakukan penelitian. Sasarannya adalah arsitektur bangunan lawas dan budaya masyarakat Ampel.

Lurah Ampel M. Imzak menyebutkan bahwa banyaknya wisatawan membawa berkah bagi masyarakat. Ampel menjadi pusat niaga yang digandrungi para pengusaha. Berdasar data kelurahan, tercatat ada 1.440 industri kecil yang berdiri di sekitar makam. Itu belum termasuk jumlah pedagang yang berjualan di pinggir jalan.

Imzak menjelaskan, ada puluhan gang di wilayahnya. Itu sudah menjelma jadi semacam sentra-sentra perdagangan mungil. Tiap gang memiliki keistimewaan masing-masing. Misalnya, Ampel Kembang yang dikenal sebagai pusat jajanan tradisional. ’’Masyarakat menyambut baik bertambahnya pedagang dengan menghias gerbang gang pada tahun ini. Seluruhnya dibikin tematik dan berkaitan dengan wisata religi,” tutur Imzak.

Ampel sebagai pusat niaga secara otomatis juga mendorong sektor properti. Harga tanah terus merangkak setiap tahun. Bahkan, berdasar penelusuran Jawa Pos, nilai tertingginya sudah mencapai Rp 40 juta per meter persegi.

Wakil Ketua Apersi Jatim Koko Wijayanto menjelaskan, posisi Ampel memang sangat strategis untuk berdagang. Fenomena itu mendorong melesatnya nilai jual properti di sana. Termasuk sewa ruko yang kabarnya sudah mencapai di atas Rp 70 juta per tahun.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.