MALANG KOTA – Warga di kawasan Muharto, Kedungkandangan, harus lebih waspada menjelang musim hujan. Sebab, kawasan tersebut versi  Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang masuk rawan longsor.

Analis Bencana BPBD Kota Malang Mahfuzi mengaku hampir setiap bulan pihaknya menerima rilis dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) terkait daerah rawan longsor.

Daerah tersebut meliputi Kecamatan Sukun dan Kedungkandang karena memiliki angka kerawanan yang tinggi. ”Kalau daerah rawan longsor itu di Muharto karena kontur (tanah)-nya  terjal.

Sebenarnya, hampir semua kecamatan (di Kota Malang) itu punya potensi longsor. Wilayah yang punya lereng, tebing yang curam, pinggiran sungai yang di atasnya dibuat hunian itu rawan semua,” papar Mahfuzi.

Menurut dia, kejadian longsor di Muharto sebelumnya karena beratnya tekanan dari atas permukaan. Selain karena padatnya hunian, air hujan yang langsung turun ke aliran sungai, tanpa resapan, menjadi salah satu penyebabnya. Apabila sudah masuk musim hujan, air turun di rumah-rumah tanpa resapan.

Sehingga langsung menghantam ke tanah dan mengalir ke sungai. ”Itu bisa mengikis ya. Air di sungainya juga demikian, debit air semakin besar dan berat bisa menimbulkan gerusan di pinggiran sungai. Itu semakin mengurangi daya dukung tanah karena hampir tiap hari tergerus,” terangnya.

Sejalan dengan hal itu, pihak BPBD Kota Malang tak henti-hentinya melakukan sosialisasi guna meminimalisasi hal mengkhawatirkan.

Di antaranya, terkait pelarangan kawasan sempadan dan bantaran sungai untuk dibangun hunian. Masyarakat juga diminta tidak melakukan aktivitas yang merusak tepian sungai.

”Ada banyak solusinya, salah satunya dari aspek struktural bisa dipasang bronjong (gabion), plengsengan (bangunan dinding penahan tanah), dan memasang pengarah sungai,” ungkapnya.

Jika pembuatan plengsengan dirasa kurang realistis karena membutuhkan anggaran besar, masyarakat bisa melakukan penanaman rumput di tepian sungai. ”Gunanya juga untuk mengikat tanah biar gak jatuh tanahnya (longsor),” tutur Mahfuzi.

Selain itu, pihaknya juga menganjurkan masyarakat tepian Sungai Brantas itu untuk membuat sumur resapan, biopori, dan injeksi di sana.

”Itu biar air yang jatuh dari atas langsung mengarah ke sumur-sumur itu, biar ndak langsung ke sungai. Sumur-sumur itu juga bisa buat konservasi air sebagai tabungan air di musim kemarau nantinya,” pungkas Mahfuzi.

Pewarta : Mva
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.