Salah satu gaya berpidato Prabowo Subianto (kiri) dan Donald Trump (kanan) (ist)
Salah satu gaya berpidato Prabowo Subianto (kiri) dan Donald Trump (kanan) (ist)

MALANGTODAY.NET Masih ingat dibenak kita tentang bagaimana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memenangkan pilpres tahun 2016 dengan slogan ‘Make America Great Again’. Kini Calon presiden RI nomor urut 02 Prabowo Subianto bicara ‘Make Indonesia Great Again’.

Melansir dari CNN, Jumat (12/10/2018), Prabowo mempertanyakan mengapa tidak ada pemimpin Indonesia yang berani berbicara lantang seperti presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memiliki semboyan ‘America First’ dan ‘Make America Great Again’.

Prabowo mengutarakan hal tersebut saat berpidato dalam acara Rapat Kerja Nasional Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhajurrosyidin di Pondok Gede, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

“Dia mengatakan America First. Dia mengatakan Make America Great Again,” ucap Prabowo.

“Kenapa kok bangsa Indonesia tidak berani mengatakan ‘bagi Bangsa Indonesia, Indonesia First. Make Indonesia Great Again’,” lanjutnya

BACA JUGA: Setelah Ingin Stop Kompetisi, Pentolan Bonek juga Setuju Klub Bubar!

Mengenang masa kampanye Donald Trump

Pangkas Jumlah Imigran Legal Ini Niatan Trump
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (Istimewa)

Selama masa kampanye, Trump hampir selalu didera kontroversi dan menjadi sasaran berbagai tuduhan. Ia berhasil menang meski dia sendiri tak pernah bisa membuat Partai Republik bersatu mendukungnya.

Trump yang ketahuan tidak membayar pajak selama bertahun-tahun, mengancam akan melarang warga muslim masuk ke Amerika. Trump juga pernah mengancam akan mengusir para imigran ilegal dan membangun tembok di perbatasan dengan Meksiko.

Melalui laman detik, Kamis (11/10/2018), Direktur Eksekutif Indo Barometer M Qodari mengatakan, “Perjalanan elektabilitas Trump sebetulnya yang menarik, pertama adalah dia yang tadinya ‘underdog’ di kalangan Republikan kemudian jadi calon paling tinggi. Selama melawan Hillary Clinton sebetulnya kalah kalau bicara popular vote. Tapi kalau di sana pakainya electoral vote, kalau bicara popular vote dia kalah,”.

Menurut Qodari, jurus-jurus Trump terbukti mampu mengalahkan Hillary. Trump, menurut pengamatan Qodari, sering menumbuhkan pesimisme dalam pidatonya.

“Trump ambil isu yang tak digunakan teman-temannya sesama capres AS, menggunakan cara frontal dan konfrontatif, menyebarkan ketakutan dan pesimisme, dan ternyata itu dimakan kalangan menengah ke bawah,” tutur Qodari.

Meski kelihatannya Trump mampu mengambil hati sebagian rakyat Amerika Serikat, tetapi ada variabel lain yang jadi penentu kemenangan Trump. Menurut Qodari, ada perbedaan sistem politik antara AS dengan Indonesia.

“Di AS walaupun ada banyak partai, yang besar dua saja. Dua partai ini punya party ID yang tinggi pemilih, loyalisnya besar, bisa dibilang 50:50. Trump ini berdiri atau maju di atas dukungan partai yang sudah besar, itu berbeda dengan Gerindra. Indonesia ini multipartai, tak ada yang dominan,” ujar Qodari.

Hasil exit poll nasional yang dirilis Politico usai pilpres AS tahun 2016 seperti pernah diberitakan detikcom, mendukung asumsi tentang perubahan yang diinginkan para pemilih AS. Ketika ditanya mengenai hal yang paling penting untuk presiden baru AS, sebagian besar yakni sebanyak 36 persen pemilih mengatakan mereka menginginkan “pemimpin yang kuat”.

Sementara 16 persen pemilih menginginkan pemimpin yang “peduli dengan orang-orang seperti saya” dan 16 persen pemilih lainnya menginginkan pemimpin yang “memiliki nilai-nilai yang sama dengan saya.”

Persentase pemilih yang menginginkan pemimpin yang kuat tersebut — karakter yang dijadikan fokus tim Trump selama kampanye lewat slogan “Make America Great Again” — dua kali lebih tinggi dari persentase pemilih yang menginginkan pemimpin yang kuat dalam exit poll nasional serupa saat pilpres 2012 silam.

Kesamaan ‘Jurus’ Trump dan Prabowo

Gerindra Yakin Lihat dari Sisi Berbeda, Inilah 5 Prestasi Prabowo Subiyanto Prabowo Subianto Sebagai Calon Presiden 2019
Prabowo Subianto @Istimewa

Walau ada perbedaan sistem demokrasi dan karakter masyarakat, Qodari menyoroti adanya persamaan antara Prabowo dengan Trump. Salah satunya adalah materi pidato yang disampaikan.

BACA JUGA: 5 Kisah HororLegendaris Kampus ITB Bandung, Bayanginnya Aja Ogah!

“Menurut saya secara garis besar jurusnya memang ya tadi, menyebarkan rasa takut dan pesimisme. Harapannya masyarakat akan tidak puas dengan kinerja pemerintah, mereka akan mencari pemimpin yang lain di luar incumbent. Gimana menyebar ketakutan? Misal dengan sebar ‘ada ancaman dari China’,”

“Termasuk isu Ratna Sarumpaet dimakan karena mereka memanfaatkan yang sesuai tujuan mereka. Dikesankan Ratna ini dianiaya, kemudian dikatakan bahwa Ratna adalah salah satu timses Prabowo, dikesankan bahwa rezim incumbent semena-mena. Kalau Ratna tak mengaku (bohong) dan buktinya nyata dari kepolisian, kasus Ratna dipakai luas dan massif,” papar Qodari.

Selain itu isu soal ancaman ekonomi juga menurut Qodari sama-sama dipakai oleh Trump dan Prabowo. Begitu pula halnya dengan isu imigran gelap. Sementara itu Trump pada Pilpres 2016 memang bukan melawan petahana, tetapi melawan calon yang didukung oleh petahana saat itu Barack Obama.

Tetapi intinya, kata Qodari, narasi yang dibangun sama-sama membuat publik merasa tak puas dengan petahana.

“Pada dasarnya begini, peluang incumbent adalah tingkat kepuasan. Dengan pesimisme yang berkembang, kalau kepuasan menurun apalagi di bawah 50% memang mekanismenya reward and punishment, kalau kepuasan di atas 50% pasti dipilih kembali dan kalau di bawah 50% bisa tidak dipilih. Intinya membangun ketidakpuasan kepada pemerintah,” ujar Qodari.


Penulis: Ilham Musyafa
Editor: Ilham Musyafa

Loading...