Semangat menuntut ilmu di usia yang tak lagi muda ditunjukkan Elicia Kusuma S.M. Mahasiswi Jurusan Manajemen Universitas Katolik Widya Karya ini bakal menjalani prosesi wisuda S-1 di usia 76 tahun pada 27 Juli 2019. Gelar sarjananya dipersembahkan untuk almarhum mamanya, Widyawati Kusuma.

FAJRUS SHIDDIQ 

Wisuda Buat Mama

Walau aku tak lagi muda

Ingin tetap bisa berkarya

Seperti waktu masih belia

Upaya menggandakan talenta

Di usia senja tetap bermakna

Anak cucu penyemangat kita

 

Bersama keluarga tercinta

Unjukkan bakti buat Mama

Anakmu telah tuntaskan janjinya

Tuk wujudkan mimpi lama kita

 

Mama…, ku masih ada tugas di dunia

Amanat Bapa yang amat mulia

Mohon doa dari Mama senantiasa

Agar kami tetap berada di jalan-Nya

 

Pantun berjudul Wisuda Buat Mama itu tersaji di halaman pembuka buku berjudul ”500 Pantun Rohani” yang disusun Elicia Kusuma S.M.

selama sebulan penuh. Itu bukan tugas kuliah, tapi kemauan Elicia sendiri untuk berkarya. Dia mengarungi masa belajar di kampus Katolik di Jalan Bondowoso sejak 2015 dan akan diwisuda pada 27 Juli.

Sayangnya, perempuan kelahiran 30 September 1943 itu belum bisa bercerita panjang lebar kepada koran ini. Selasa (9/7) dia sedang mengantarkan suaminya, Eddyanto Kusuma, memeriksakan kesehatannya di Rumah Sakit Islam Aisyiyah Kota Malang. ”Iya saya bersyukur akan diwisuda, tapi hari ini (kemarin, Red) saya di rumah sakit,” singkatnya.

Di kampusnya, Elicia memang banyak dikenal. Bukan hanya karena semangatnya untuk tetap kuliah di usia lanjut, tapi dia juga membukukan prestasi di bidang akademik dan nonakademik.

Kahumas Universitas Katolik Widya Karya Agustinus Indradi ingat betul saat Elicia mendaftar sebagai calon mahasiswa baru. ”Siapa yang mau daftar kuliah?” kata Agus–sapaan Agustinus Indradi– mengingat pertanyaannya untuk Elicia 4 tahun lalu.

”Maaf, bisa nggak ya saya mendaftarkan diri saya sendiri?” sambung Agus, menirukan jawaban Elicia waktu itu.

Agus menyatakan, kehadiran Elicia sebagai warga kampus seolah mengingatkan kembali pentingnya belajar. Mulai dari kecil hingga tua. Dalam perjalanannya, Elicia menurutnya tercatat sebagai salah satu mahasiswa yang rajin.

”Kalau kuliah, beliau diantar suaminya. Kadang suaminya langsung pulang, kadang menunggunya di kampus,” kata penulis sejumlah buku ajar tersebut.

Agus mendengar langsung dari Elicia bahwa keinginan perempuan tersebut untuk kuliah di usia lanjut, terlecut dari permintaan ibunya dulu.

Ibu Elicia, kata dia, sangat menginginkan satu dari empat anaknya bisa lulus menjadi sarjana. ”Nah, kebetulan dari cerita beliau, ketiga saudaranya memang tidak ada yang lulus kuliah,” kata pegiat pentigraf (cerpen tiga paragraf) itu.

Agus mengatakan, Elicia dulu pernah kuliah di jurusan kedokteran. Ketika itu Elicia sudah berkeluarga. Di saat yang sama, anak Elicia sedang sakit. Agus mengatakan, Elicia kemudian memilih untuk membiayai anaknya dan meninggalkan kuliah.

Padahal, dia melanjutkan, saat itu Elicia kuliah juga diniatkan untuk menebus janji seorang anak terhadap ibunya. ”Kami merasa terhormat, sebagai kampus, menerima mahasiswi seperti Bu Elicia,” kata pria berusia 53 tahun itu.

Mei lalu Elicia menjalani sidang skripsi. Agus menceritakan, Elicia saat itu diantar suaminya. Hanya, karena suaminya sedang sakit, dia datang dengan menggunakan kruk. ”Kalau melihat beliau, semangatnya tentu tidak kalah dengan mahasiswa muda.

Saya masih ingat saat kuliah dulu, beliau sempat sakit mata. Sering beliau membawa obat tetes mata, tapi tetap fokus kuliah,” bebernya.

Awal tahun 2019, Agus mengatakan, kampusnya mengadakan pelatihan menulis pantun rohani. Ada juga pelatihan menulis pentigraf. Agus mengatakan, Elicia bersemangat mendaftarkan diri untuk ikut kegiatan tersebut.

Padahal, Elicia bukan mahasiswi jurusan bahasa atau sastra. ”Kalau saya nulis buku sendiri bisa nggak ya?” Agus mengingat Elicia menanyakan itu kepadanya.

Karena melihat Elicia bersemangat, Agus memintanya agar mahasiswi tersebut membuat deadline. Pada 25 Juni, dia mengatakan, deadline yang disepakati untuk Elicia menyelesaikan buku pantunnya.

”Tidak saya sangka. Beliau datang ke ruangan tepat di tanggal dua lima, dan menyodorkan dokumen,” tuturnya. Dia menyebut ada 513 pantun karangan Elicia.

Agus kemudian mengurangi pantun tersebut menjadi 500 saja. Buku berjudul ”500 Pantun Rohani” tersebut, kata dia, saat ini dalam proses akhir pencetakan.

”Janji membahagiakan Mamanya, membuat karya itu menjadi mercusuar bagi Bu Elicia. Nanti pantunnya akan beliau bacakan saat prosesi wisuda,” paparnya.

Agus menyebut, semangat Elicia bisa menjadi contoh bagi mahasiswa muda. Saat prosesi wisuda nanti, Elicia diminta kampus untuk memberikan sambutan sebagai wakil wisudawan.

”Hari ini (kemarin, Red) ujian skripsi terakhir. Bu Elicia sudah lebih dulu sidangnya. Kami juga bangga Bu Elicia bisa membahagiakan Mamanya,” pungkasnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.