Era revolusi industri 4.0 menjadi titik balik bagi Universitas Ma Chung. Di usianya yang masih tergolong remaja, 12 tahun, kampus ini terus melakukan transformasi dan inovasi. Karena hanya langkah itulah yang menjadikan Ma Chung mampu bertumbuh dalam perubahan zaman.

…………..

Dies Natalis XII Universitas Ma Chung Senin (8/7) menjadi tonggak pembaruan dan harapan baru. Ini karena di momen tersebut, perguruan tinggi swasta (PTS) di bawah Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera berganti nakhoda. Ya, Rektor Universitas Ma Chung Dr Chatief Kunjaya secara resmi telah menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada rektor yang baru, Dr Murpin Josua Sembiring SE MSi. Pelantikan dilakukan oleh Ketua Yayasan Harapan Bangsa Sejahtera Tee Teguh Kinarto di Balai Pertiwi kemarin sore setelah rangkaian dies natalis.

Dalam sambutannya, Chatief membeberkan bahwa pada medio lima tahun kepemimpinanya,  Ma Chung telah mengalami banyak kemajuan. Tidak hanya riset dan prestasi dosen-mahasiswa, tapi juga posisi pemeringkatan di jajaran Kemenristekdikti. Dulu ketika dirinya dilantik pada 2015, Ma Chung berada di posisi 352. Sedangkan saat ini, di level 125. ”Dalam waktu empat tahun melejit lebih dari 200 tingkat. Tinggal sedikit lagi di jajaran 100 kampus terbaik Indonesia,” ungkapnya. ”Inilah yang akan menjadi pekerjaan rumah (PR) rektor baru,” sambung dia.

Mendapat amanah itu, Murpin mengaku akan mengkonkretkan semua mandat yang diberikan kepadanya. Tentu semua dilakukan melalui proses belajar mengajar maupun menyiapkan para lulusan yang tidak hanya unggul di bidang akademik. Namun, juga memiliki karakter yang baik, pencipta harmonisasi kehidupan di mana pun berada. ”Tuntutan era generasi milenial dan era revolusi industri 4.0 sangat berpotensi terjadi degradasi moral dan budi pekerti. Itulah pentingnya kenapa menyiapkan lulusan yang berkarakter,” ujarnya.

Asa tinggi terhadap Murpin juga disematkan Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDikti) Wilayah VII Jatim Dr Ir Suprapto DEA. ”Saya beri waktu enam bulan untuk membangun Ma Chung lebih baik. Kalau lewat dari itu tidak ada perubahan berarti, maka akan saya tarik kembali ke Surabaya,” kata Suprapto. ”Tugas rektor itu berat, terlebih di era revolusi industri 4.0. Karena ada tuntutan upgrade dosen menguasai tata cara pembelajaran dan aspek penting di bidang penelitian,” tukasnya.

Sementara itu, dalam prosesi dies natalis ini, Universitas Ma Chung memberikan penghargaan kepada dosen, pegawai, dan para mahasiswa. Yakni, medali penghargaan 10 tahun pengabdian, Soegeng Hendarto Awards, serta Entrepreneurship Awards.

Pewarta :Ren
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Nenny Fitrin

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.