MALANG KOTA – Pembahasan seputar LGBT (lesbian gay biseksual transgender) seolah tiada habisnya. Ada yang pro, ada pula yang kontra.

Termasuk soal ‘apakah perilaku LGBT itu bisa menular?’

Ada yang menyebut bahwa perilaku LGBT itu memang bisa menular. Tapi Dosen Jurusan Sosiologi FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik) UB (Universitas Brawijaya), I Wayan Suyadnya, SP, MSos punya pendapat berbeda. Kepada radarmalang.id ia menjelaskan bahwa LGBT adalah orientasi sosial, bukan penyakit.

“Memarjinaljan mereka (justru) akan membuat komunikasi dan benturan terus menerus terjadi. Semua pihak perlu melihat ini sebagai isu yang sensitif,” jelasnya.

Dia lantas mengatakan bahwa LGBT itu tidak menular. Bahkan, pada 1990, WHO telah mengeluarkan LGBT dari daftar penyakit.

Ia menjelaskan bahwa lingkungan sifatnya hanya memantik seseorang memilih orientasi seksual.

“Anggapan bahwa orang pada awalnya gay dan kemudian (bersosialisasi dengan gay) lalu akan menjadi gay rasanya kecil kemungkinan,” jelasnya.

Namun ia sendiri mengakui bahwa penerimaan LGBT di Indonesia memang sangat rendah. Dia lantas membeberkan data penelitian Fakultas Psikologi UI (Universitas Indonesia) tahun 2015.

Penelitian yang didanai Kementerian Kesehatan RI itu menunjukkan penerimaan LGBT masih rendah. Berada di angka 3 persen yang menerima, sementara 90 persen menolak keberadaan LGBT.

“Padahal selama ini LGBT juga sudah dikeluarkan dari konsep gangguan mental lho,” tandasnya.

Pewarta : Rida Ayu
Foto : Istimewa
Editor: Indra M

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.