KABUPATEN – Magnet Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di ajang kontestasi Pemilihan Bupati (Pilbup) Malang 2020, tidak hanya mampu memikat politikus tanpa kendaraan. Bahkan, tokoh Nahdliyin yang juga punya basis kaum sarungan, juga ingin mengundi nasib lewat partai banteng moncong putih itu.

Kemarin (11/9) terdapat tiga tokoh Nahdlatul Ulama (NU) yang mengambil formulir pendaftaran calon bupati dan calon wakil bupati (cabup dan cawabup) di kantor DPC PDIP Kabupaten Malang.

Ketiganya adalah Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PC NU) Kabupaten Malang dr Umar Usman, Rektor Universitas Raden Rahmat (Unira) Hasan Abadi, dan Wakil Ketua Umum Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) PB NU Juma’ali.

Umar mengambil berkas lebih awal. Mengenakan baju koko warna putih, dia tiba di kantor DPC PDIP pada pukul 09.45. Kepada wartawan koran ini, Umar mengatakan ada dua alasan yang membuat dirinya akhirnya mendaftar lewat PDIP.

”Yang paling utama, saya ingin semakin merukunkan antara nasionalis dengan religius,” kata Umar.

Sebagai tokoh Nahdliyin, Umar ingin menekankan label religius yang dia pegang saat ini juga bisa bersinergi dengan kaum nasionalis yang identik dengan PDIP. ”(Alasan) yang kedua karena yang membuka (pendaftaran) duluan adalah PDIP.

Motivasinya karena PDIP ini adalah partai pemenang pemilu di Kabupaten Malang. Tentu saya sangat menghormati posisi ini,” beber pria yang kini menjabat direktur RSUD Kota Malang itu.

Meski dirinya adalah kader NU yang secara umum berarfirmasi kepada PKB, Umar sepertinya berharap kepastian. Apalagi, tidak hanya dia yang berharap rekom PKB. Selain Umar, ada tiga kader lain yang juga menunggu rekom dari Ketua DPP PKB Muhaimin Iskandar.

Yakni, Plt Bupati Malang H.M. Sanusi, Ketua DPC PKB Ali Ahmad, dan Ketua DPP PKB Saifullah Maksum. Jika dibanding ketiga ”pesaingnya” itu, barangkali Umar kalah dekat sehingga memilih mendaftar lewat PDIP.

Menyusul setelah Umar Usman, Rektor Unira Hasan Abadi juga mengambil sekaligus mengembalikan formulir pendaftaran sebagai calon bupati Malang di kantor DPC PDIP. ”Kami ambil dan kembalikan (formulir) hari ini (kemarin) sebagai bukti bahwa kami serius tidak sekadar ambil formulir. Karena sudah diistikharahi,” kata Hasan usai menyerahkan dokumen pendaftaran.

Terkait pilihannya melamar PDIP, dia merasa satu visi dengan PDIP. ”PDIP selama ini terkenal dengan gerakan marhaennya memperjuangkan wong cilik. Begitu pun kami sebagai kader Nahdlatul Ulama merasa sebagai bagian dari grassroot atau wong cilik,” jelasnya.

Menjelang sore, Wakil Ketua Umum Lesbumi PB NU Juma’ali pun menyusul mengambil formulir pendaftaran di kantor DPC PDIP. Didampingi para budayawan yang berasal dari Malang Raya, pria yang akrab disapa Ki Juma’ali tersebut turut menambah daftar calon bupati dari PDIP. ”Ki Juma’ali ini ingin berkiprah membangun Kabupaten Malang melalui konten kebudayaan,” kata pria berusia 42 tahun tersebut.

Meski mengaku berangkat murni dari keinginannya sendiri, boleh jadi Ki Juma’ali bisa menjadi kuda hitam dalam kontestasi Pilbup 2020 di Kabupaten Malang. Hal ini mengingat rekam jejaknya sebagai Pengurus Lesbumi PB NU serta anggota tim pemenangan Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam kontestasi politik Pemilu 2019 pada April lalu.

Pewarta : Farik Fajarwati
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.