Keong Sawah Jadi Pengganti Daging Sapi? Emang Bisa?
Tutut @ swamedium.com
Editor : Annisa Eka Safitri

Penulis : Annisa Eka Safitri

MALANGTODAY.NET – Keong Sawah (Pila ampullacea) tiba-tiba menjadi viral akibat gagasan Menteri Pertanian Amran Sulaiman, untuk mengganti daging sapi dengan daging keong.

Gagasan ini adalah alternatif yang dicanangkan oleh Amran sebagai pengganti konsumsi protein daging sapi. Karena harga daging sapi tak kunjung turun dan tetap bertengger diangka Rp. 100 ribu per kilogram.

Keong sawah banyak dikonsumsi secara luas di berbagai wilayah Asia Tenggara dan memiliki nilai gizi yang baik, karena mengandung protein tinggi.

Meskipun demikian, kewaspadaan perlu diberikan karena keong sawah adalah inang dari beberapa penyakit parasit. Selain itu, hewan yang diambil dari daerah persawahan ini dapat menyimpan sisa pestisida di dalam tubuhnya.

Berdasarkan penelitian dari Positive Deviance Resource Centre, hewan yang sering disebut tutut ini ternyata menyimpan kandungan gizi tinggi.

Tutut mengandung kandungan protein 12 persen, kalsium 217 miligram, rendah kolesterol, 81 gram air dalam 100 gram keong sawah. Sisanya, mengandung energi, protein, kalsium, karbohidrat, dan fosfor.

Kandungan vitamin pada keong sawah cukup tinggi, dengan dominasi vitamin A, E, niacin dan folat. Tutut juga mengandung zat gizi makronutrien, berupa protein dalam kadar yang cukup tinggi pada tubuhnya. Berat daging satu ekor keong sawah dewasa bisa mencapai empat sampai lima gram.

Jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 260 juta orang, sangat membutuhkan protein tinggi dari daging sapi. Namun, kebutuhan tersebut tak bisa dipenuhi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, prognosa produksi daging sapi dalam negeri periode 2017 tercatat sebesar 354.770 ton. Sedangkan perkiraan kebutuhan daging sapi mencapai 604.968 ton, dengan 40 persen kebutuhannya ditopang dari impor daging sapi.

Sementara data dan potensi tentang tutut, hingga saat ini masih belum jelas keberadaannya. Serta tidak mudah merubah kebiasaan dan perilaku masyarakat untuk mengkonsumsi keong sawah.

Setelah melihat secara komprehensif tentang fenomena tutut sebagai pengganti sapi, hal itu menjadi sangat mustahil untuk diterapkan sebagai alternatif pengganti protein. Seperti yang sudah di canangkan oleh Menteri Pertanian tersebut.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda