Merawat orang gila, apalagi jumlahnya mencapai puluhan orang, tentu bukanlah perkara mudah.

Namun, pasangan suami istri (pasutri) ini telah mendedikasikan hidupnya merawat orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) sejak 2013 lalu. Bagaimana mereka melakukannya?

IMRON HAQIQI

Bangunan yang berlokasi di Jalan Darmo, Desa Pamotan, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang, itu terlihat terpencil. Tak ada rumah warga di sekitar gedung yang jika sepintas dilihat dari luar, mirip gudang atau pabrik rumahan.

Selebihnya, di areal tersebut dikelilingi hamparan kebun tebu. Di atas pintu gerbang, terdapat papan bertuliskan ”Yayasan Tangan Kasih Bensu”.

Seorang perempuan paro baya langsung mendekat saat wartawan koran ini mengetuk pintu gerbang.

Mengenakan baju lusuh serta rambut yang tidak begitu rapi, dengan cekatan dia membukakan gerbang. ”Silakan masuk,” ungkapnya dengan sopan.

Tak lama berselang, Pdt Ben Sunarwan dan Priska Kristian pun menyambut ramah. Wartawan koran ini pun lantas diajak ke ruangan tempat para ODGJ dirawat.

Ya, pasutri ini sudah mendedikasikan hidupnya untuk merawat para ODGJ itu. ”Sekarang jumlah anak asuh kami ada 69 orang,” ujar Ben.

Dia menjelaskan, semua ODGJ yang dirawat di tempatnya adalah perempuan. Ben yang juga tercatat sebagai rohaniawan Bethel Indonesia (salah satu kelompok atau sinode Gereja Kristen Protestan) itu menganggap perempuan adalah orang yang seharusnya mempunyai perhatian lebih.

”Di samping itu, perempuan yang kerap menjadi korban kekerasan dalam suatu lingkungan sosial,” ujarnya.

Dia menjelaskan, mereka yang dirawat di tempatnya adalah orang gila yang hidup di jalanan. ”Jika waktu kami berkunjung ke suatu tempat, lalu bertemu dengan orang gila di jalanan dan tidak terurus, langsung kami bawa ke sini,” terangnya. Dia menyebut ada yang berasal dari Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Bali.

Dari 69 ODGJ tersebut, pria berusia 50 tahun itu membagi mereka menjadi beberapa kelas. ”Dibagi sesuai tingkat kegilaan mereka,” tuturnya.

Dia merinci untuk kelas 0 adalah kelas bagi ODGJ yang sangat parah, yaitu orang yang masih buang hajat di tempat, masih teriak-teriak, dan masih berbicara tidak sopan.

”Salah satu alasan kami mengapa gedung ini kami bangun di tengah kebun tebu seperti ini ya karena kami tidak ingin teriakan mereka mengganggu warga sekitar,” bebernya.

Sebelumnya, yayasan yang awalnya dikenal warga sekitar dengan nama Pondok Waras itu pernah menempati rumah tidak jauh dengan Balai Desa Pamotan yang di kanan kirinya ada pemukiman warga.

”Namun, lama-kelamaan kami menyadari kalau teriakan mereka mengganggu warga sekitar, akhirnya kami pindah ke sini,” paparnya.

Selain kelas 0, ada anak asuh yang naik ke kelas 1. Kelas ini diisi ODGJ yang masih suka berbicara sendiri, tertawa, tapi sudah tidak buang hajat sembarangan. Kemudian kelas 2 diisi ODGJ lansia. ”Bagaimanapun taraf keparahan mereka, kalau usianya sudah lansia kami taruh di kelas 2,” lanjut Ben.

Selanjutnya, untuk kelas 3 diisi ODGJ yang hampir sembuh.  ”Yang sudah kelas 3 kami sudah bisa mengajari mereka membuat kerajinan rajut untuk dibuat tas, taplak, maupun penutup kepala,” katanya.

Sedangkan untuk kelas 4 diisi ODGJ yang sudah sembuh. ”Orang-orang di kelas ini diisi ODGJ yang sudah normal. Mereka sudah bisa memasak, menyapu, dan melakukan pekerjaan lain untuk membantu saya merawat adik kelasnya. Termasuk yang membukakan gerbang tadi adalah siswa kelas 5,” katanya.

Tidak ada cara-cara khusus dalam merawat dan menyembuhkan para ODGJ. Ben mengatakan, pihaknya hanya selalu membimbing mereka dengan firman-firman sesuai dengan yang ada di Injil.

”Setiap pagi kami suruh mereka berolahraga, kemudian saat sore kami berikan bimbingan dari firman-firman yang ada di Injil agar mereka berperilaku dan berbicara yang baik,” tuturnya.

Menurut Ben, keputusannya membuat yayasan yang menampung ODGJ itu berawal dari mimpi yang selalu hadir dalam tidur Priska, istrinya.

”Saya seperti dibisiki Tuhan untuk merawat para ODGJ, satu dua kali mimpi itu saya abaikan, khawatir itu hanya bisikan setan saja,” sahut Priska.

Namun, mimpi itu terus hadir setiap malam selama kurang lebih empat tahun. Hingga dia mengutarakan kepada suaminya. ”Akhirnya kami bersepakat dan memantapkan keyakinan untuk merawat ODGJ,” tuturnya.

Menurut Priska, komitmen merawat ODGJ itu dimulai 2013 lalu dengan membawa pulang 3 orang. ”Setelah itu kami terus cari di jalan-jalan hingga sekarang,” tuturnya.

Selama merawat ODGJ, Priska mengakui, itu bukanlah hal yang mudah. Selain ODGJ yang membutuhkan perhatian lebih, tantangan lain juga datang dari luar, seperti komplain dari warga sekitar.

”Waktu awal-awal dulu, yang kami lakukan mendapat protes dari warga sekitar. Hanya, kami terus tabah karena niat kami hanya untuk kebaikan,” ujar Priska.

Selain itu, saat ada ODGJ yang sakit, dia juga agak kesulitan mendapatkan pengobatan ke puskesmas atau rumah sakit terdekat. Hal itu karena ODGJ tersebut memang tidak memiliki identitas diri.

”Tapi, sekarang ini kami sudah bekerja sama dengan salah satu rumah sakit saat anak asuh kami membutuhkan perawatan,” tambahnya.

Dari total 69 ODGJ yang dirawat, Priska menyatakan, 30 orang di antaranya sudah mulai bisa hidup normal. ”Yang sudah sembuh dan mengetahui rumah keluarganya yang kami antarkan pulang,” terangnya.

Namun, yang sembuh namun tak mengetahui alamat keluarganya atau tidak ingin kembali ke keluarganya, tambah Ben, mereka memilih untuk tetap bertahan dan membantu anak asuh yang lain.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.