KABUPATEN – Pengendara yang melintas di tol Malang–Pandaan (Mapan) sebaiknya waspada. Jangan terlalu kencang memacu kendaraan. Sebab, jalur tol seksi III (Singosari–Lawang) diselimuti kabut tebal.

Jarak pandang hanya sekitar 100–200 meter. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Satklim Malang memperkirakan, kabut tebal yang berlangsung sejak kemarin (28/7) itu berlangsung hingga besok (30/7).

KBO Lantas Polres Malang Iptu Edy Purnama memaparkan, kabut tebal itu terjadi pada pagi hari, sekitar pukul 04.00–06.30. Siang hari kabutnya hilang. Kemudian malam hari datang lagi, sekitar pukul 21.00 ke atas.

”Yang terkena kabut di tol ini ya sejak pintu masuk gerbang Singosari hingga exit tol Lawang. Perkiraan di KM 83 sampai KM 87,” ujar Edy saat ditemui di pos jaga Karanglo kemarin.

Edy menyatakan, kabut tebal ini juga menyelimuti kawasan Singosari, Lawang, Kepanjen, dan kawasan Kebonagung, Pakisaji. Namun, yang perlu diwaspadai ketika menyelimuti area tol. Sebab, kendaraan yang melintasi tergolong kecepatan tinggi.

Meski sementara ini pihaknya tidak menerima laporan adanya kecelakaan akibat kabut di tol Mapan, dia tetap mengimbau pengendara tetap berhati-hati. ”Kabut tebal ini memang fenomena alam. Tentu, pengendara harus mewaspadainya,” kata dia.

Selain itu, Edy juga menyarankan pengguna tol menyalakan fog lamp (lampu kabut) saat melintasi area berkabut. Cahaya fog lamp akan menjadi penanda bagi pengendara lain sehingga bisa meminimalisasi kecelakaan.

Agar aman, ketika melintasi area berkabut, pengendara diharapkan berada di kecepatan 40–60 kilometer per jam. ”Kabut ini kan lumayan tebal dan mengganggu pengendara. Dan jarak pandang mata pun hanya 100–200 meter. Jadi, ya hati-hati,” kata dia.

Sementara itu, salah satu pengguna tol Mapan, Heri Purwanto membenarkan adanya kabut tebal. Kabut itu dirasakan sejak masuk dari gerbang tol Lawang hingga Singosari. Setelah memasuki Kota Malang, kabut sudah hilang.

”Pandangan sedikit terganggu,” kata pria yang bekerja sebagai marketing di sebuah perusahaan swasta itu.

Sementara itu, data BMKG Satklim Klas II Malang, fenomena kabut tebal diperkirakan berlangsung selama tiga hari, yakni Minggu (28/7) hingga besok (30/7). Kabut terjadi pada pagi hari dan malam hari. Sedangkan suhu udara rata-rata berkisar 19–28 derajat Celsius.

Biasanya Terjadi di Musim Hujan

Kasi Observasi dan Informasi Stasiun Klimatologi Kelas II Malang Anung Suprayitno menyatakan, kabut tebal terjadi karena adanya pemanasan matahari yang sangat kuat. Di saat bersamaan, terjadi penguapan air di udara yang sangat tinggi.

”Dari kejadian itulah kemudian terjadi kabut. Dan dalam satu tahunnya tidak menentu terjadi berapa kali,” ujar Anung.

Menurut Anung, fenomena kabut terjadi paling sering terjadi pada musim hujan. Namun, tidak menutup kemungkinan terjadi pada musim kemarau. Khususnya di daerah yang berada di dataran tinggi seperti di Malang Raya.

”Kalau uap air tinggi dan pemanasan oleh matahari juga tinggi, musim kemarau juga terjadi kabut. Contohnya ya Malang yang berada di dataran tinggi ini,” ungkapnya. ”Berbeda dengan dataran rendah atau datar. Sangat kecil potensi adanya kabut,” kata Anung.

Anung tidak bisa memastikan sampai kapan kabut tebal yang menyelimuti tol Mapan itu berakhir. Namun, dalam prediksi sementara akan terjadi selama dua hari ke depan. ”Karena ini (kemarin) masih libur. Mungkin untuk prediksi sampai kapan terjadinya. Besok (hari ini) kami update lagi,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Laboratorium Transportasi dan Penginderaan Jauh Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB) Hendi Bowo Putro ST MT menyatakan, keberadaan kabut tebal sangat berbahaya bagi pengguna tol. Karena itu, dia memaparkan dua poin yang perlu dilakukan pengendara.

Pertama, pengendara harus bisa mengukur kecepatannya sehingga tetap terkendali. ”Tidak ada ukuran pasti mengenai kecepatannya berapa. Intinya, harus bisa mengendalikan kendaraan dengan baik,” kata dosen ilmu transportasi itu.

”Kedua, kalau ada kabut, fog lamp harus menyala,” tambah pria kelahiran Jakarta, 10 September 1975, itu. 

Dari Batu, Kendaraan Mengular hingga 1 Km

SEMENTARA itu, arus lalu lintas dari arah Kota Batu menuju exit tol Singosari macet. Pantauan Jawa Pos Radar Malang di Jalan Perusahaan kemarin (28/7) sekitar pukul 15.30, kendaraan dari arah Batu lewat Karangploso (Kabupaten Malang) mengular hingga sekitar 1 kilometer. Sementara dari arah sebaliknya, Singosari–Karangploso tampak lancar.

KBO Lantas Polres Malang Iptu Edy Purnama menyatakan, kemacetan di simpang Karanglo (Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang) dipicu beberapa hal. Di antaranya, pengerjaan underpass (jalan bawah tanah) mengakibatkan pemberlakuan sistem buka tutup di simpang Karanglo. Misalnya ketika pelebaran jalan dan finishing underpass.

”Terjadinya kemacetan itu karena belum selesainya beberapa itu (pengerjaan underpass). Kalau sudah selesai ya tidak akan macet lagi,” ungkap Edy.

Selain itu, juga dipicu traffic light. Menurut dia, pengaturan traffic light di simpang Karanglo belum sempurna total. Hingga kini, pihaknya masih mencari formulasi yang tepat. ”Itu (traffic light) kan masih belum sempurna penuh. Jadi, masih harus dilakukan rekayasa-rekayasa lalin,” tutur Edy.

Meski dia mengakui kawasan simpang Karanglo sering macet, tapi Edy menilai kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya. Berdasarkan pantauannya, sebulan belakangan ini kepadatan kendaraan di kawasan tersebut tidak terlalu parah. ”Sudah sekitar 1 sampai 1,5 bulan ini sudah tidak seperti dulu (kepadatan arus lalu lintas). Kalau dulu kan setiap hari macet panjang,” tutupnya.

Pewarta : M.Badar Risqullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Mahmudan

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.