Perjuangan Muhammad Ali mendirikan Taman Kelinci di Pujon tidaklah mudah. Tantangan dari orang tua dan istrinya sempat menjadi penghalang. Namun, berkat keuletannya, kini dia sudah memanen hasilnya. Wisata edukasi miliknya di Pujon itu sudah dikunjungi sekitar 1.000 wisatawan saat libur panjang.

MIFTAHUL HUDA

Cibiran, penolakan, hingga hinaan menjadi duri yang sempat menghalangi Muhammad Ali di awal-awal akan mendirikan Taman Kelinci. Namun, semua itu bisa dia lalui.

Dia masih ingat ketika mengutarakan niatnya saja, sudah ada yang mencibir jika konsep wisatanya seperti sekolah taman kanak-kanak saja. Sebab, konsepnya memang wisata edukasi untuk anak-anak.

Tak hanya itu, dari orang-orang terdekatnya, Ali juga tidak mendapat restu. Karena spekulasinya terlalu besar. Mulai harus melepas pekerjaannya sebagai mantri hewan hingga menjual 12 sapi untuk membiayai pembangunan taman yang mirip taman di negeri dongeng itu.

Wisata ini memang seperti Okunoshima, sebuah pulau di Jepang yang dihuni ratusan kelinci. Taman ini memang hampir mirip dengan Pulau Okunoshima.

Karena itu dinamai Taman Kelinci. Ada 50 kelinci dilepas bebas di taman itu. Wisatawan boleh berinteraksi langsung dengan kelinci.

”Modal awal saya ya karena kecintaan saya terhadap kelinci. Sebab, basic saya seorang peternak kelinci,” kata pria asal Dusun Brau, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, ini.

Ali memang terlahir dari keluarga peternak. Peribahasa buah jatuh tak jauh dari pohonnya barangkali sesuai bagi dirinya. Namun, itu hanya berlaku sementara baginya.

Pada 2016, pria yang juga pernah menjadi penyuluh kesehatan hewan ternak ini justru banting setir. Dia mencetuskan ide membikin satu taman yang di dalamnya terdapat ratusan kelinci, persis negeri dongeng.

”Saya 10 tahun menjadi mantri hewan itu merasa jenuh. Beternak kelinci pun saat itu mulai sepi permintaan. Dari situlah, saya tercetus untuk membikin tempat wisata seperti saat ini karena bingung mau diapakan kelinci saya ini,” imbuhnya.

Saking bingungnya, dia harus memanfaatkan kelinci ternaknya saat itu. Dia rela memberikan secara cuma-cuma kelinci ternaknya kepada tetangga dan masyarakat di desanya.

Barulah sekitar 2016, Ali lantas meminta izin menggunakan lahan salah satu temannya agar digunakan tempat wisata. Proses itu pun tidak berjalan mulus, banyak kendala yang harus ditemui.

”Orang tua waktu itu menyesalkan. Katanya, sudah enak menjadi penyuluh kesehatan hewan, malah nekat bikin taman seperti itu, yang hasilnya masih belum dapat diketahui,” papar Ali.

Sembari menyeduh kopi hangat di ruangannya siang itu, dia mengingat-ingat kembali masa-masa sulitnya merintis Taman Kelinci tersebut. Sudah 12 sapi terjual hanya untuk membiayai pembangunan taman seluas 1 hektare itu.

Ini dilakukan karena sudah berapa investor yang ditemui selalu menolak dengan gagasan yang dia tawarkan. Ada yang beranggapan jika itu hanya buang-buang uang saja. Tak jarang pula dia justru mendapat cibiran.

”Tak ada satu pun investor yang mau saya ajak. Malah saya dikatai, bikin wisata kok seperti taman TK,” kenangnya.

Pembangunan tempat wisata itu sempat terhenti selama sebulan. Itu dikarenakan minimnya modal. Kebiasaannya menjual sapi setiap satu pekan sekali itu tidak lagi dilakukan.

Karena sudah tidak ada lagi sapi yang bisa dijual. Jika dirata-rata, sapi yang dia jual mencapai harga Rp 18 juta per ekor.

”Ya mungkin karena itu, keluarga saya tidak mendukung. Semua sapi-sapi saya jual hanya untuk membangun wisata ini. Berkali-kali saya ditegur, termasuk istri saya pun tidak setuju,” ujar pria dua anak tersebut.

Masa sulit itu berlangsung selama 10 bulan. Keputusannya itu kemudian menuai titik terang. Investor yang dulunya menolak dan bahkan mencibir, kini mulai tertarik setelah bangunan hampir 80 persen.

Keyakinannya yang kuat ternyata menghasilkan jalan yang baru. Semua orang tiba-tiba mendekat kepadanya. Dukungan demi dukungan mulai terlihat, tak terkecuali orang tua dan keluarganya yang dulunya tidak setuju, kini restu dari orang-orang terdekatnya mulai terlihat.

”Begitu setengah bangunan sudah tampak, mereka semua datang untuk menyumbang investasi. Ya, pikir saya waktu itu memang perlu adanya pengembangan. Tentu saya terima,” candanya.

Perjalanannya tidak berhenti di situ saja. Dia harus mulai memasarkan tempat wisata itu. Karena lokasi wisata edukasi itu di perlintasan jalur menuju wisata paralayang, mudah bagi wisatawan untuk datang.

”Ya, di situ keuntungannya. Selain itu, saya rutin menjalin kerja sama dengan biro travel dan instansi seperti sekolah dan lain-lainnya. Karena di sini juga kami tawarkan paket edukasi,” kata pria penikmat makanan soto ini.

Pria berusia 39 tahun ini juga memaparkan jika untuk saat ini, ada sekitar 50 ekor kelinci yang berada di tempat wisatanya. Dia menjelaskan saat weekend tiba, pengunjung (wisatawan) mencapai 600 orang. Sementara saat musim liburan tiba pengunjung di sana mencapai 1.000 orang lebih.

”Ya bisa dibilang saya tukar sapi dengan kelinci. Alhamdulillah, tempat ini ramai hingga saat ini,” tutupnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.