MALANG – Tahun ini Indonesia diketahui mengirim film untuk berlaga di Oscar 2020 mendatang dalam kategori Best International Feature Film atau dulu dikenal sebagai Best Foreign Language Film.

Komite Seleksi Film Indonesia kemudian menetapkan film ‘Kucumbu Tubuh Indahku’ garapan Garin Nugroho yang berhak untuk maju ke Oscar 2020 mewakili Indonesia.

Indonesia telah berulang kali mengirimkan film-filmnya ke Oscar, namun selalu gagal masuk nominasi, pun memenangkan piala penghargaan bergengsi tersebut. Meski demikian, Indonesia terus berusaha setiap tahunnya.

Aktor sekaligus anggota Komite Seleksi Film Indonesia untuk Oscar, Reza Rahadian menyebut keputusan tetap mengirim film untuk berlaga adalah demi “menjaga hubungan baik”.

“Kita sudah mengirim 22 kali, dan kalau tidak salah ada yang sempat masuk 65 besar,” ungkap Reza saat konferensi pers di XXI Lounge Plasa Senayan, Jakarta, Selasa (17/9).

Disebut Reza, meski film karya anak bangsa Indonesia tidak menggaung di ajang Oscar tersebut, Indonesia tetap melakukan tradisi mengirimkan film guna menjaga hubungan baik. Reza mengkhawatirkan apabila Indonesia tidak lagi mengirim film, maka peluang untuk diundang oleh pihak penyelenggara Academy Awards akan sirna.

“Mungkin akan dianggap mengundurkan diri, menolak atau bagaimana. Peluangnya malah bakal hilang juga,” imbuhnya.

Indonesia diketahui telah mengirim lebih dari 20 film, yang berarti juga selama dua dekade setiap tahunnya. Indonesia tertinggal dibandingkan Vietnam yang filmnya pernah masuk nominasi sekali dari 14 film yang mereka kirimkan, serta tertinggal dari Nepal, dengan mengirimkan sembilan film ke Oscar dan pernah sekali tembus ke dalam nominasinya.

Pihak Oscar sendiri memang hanya meminta syarat administrasi dan aspek teknis film, bukan dari segi tema. Sehingga kekuatan cerita dan teknis sinema menjadi andalan selain dari promosi ke juri Academy Awards yang bisa mencapai enam ribu orang.

Bagi Reza, yang terpenting adalah bagaimana cara bisa menggaungkan karya Indonesia ke Hollywood. “Kalau ditanya publisitas ya penting, jelas. Karena saya pelajari dari 10 negara yang ikut tahun lalu untuk masuk Best Foreign Language itu memang publisitasnya nggak main-main,” beber Reza.

Reza pun menilai rencana untuk membuat film yang dikhususkan untuk berlaga di Oscar merupakan langkah yang tidak adil. “Enggak adil lah, kita buat satu film terus yang lain gak bisa ikut karena sudah buat aturan untuk buat film ini dan repotnya belum tentu masuk juga. Jadi PR kita masih banyak,” pungkasnya.

Penulis: Elsa Yuni Kartika
Foto: Istimewa
Penyunting: Fia

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.