Kegagalan kontingen Kota Malang mempertahankan runner-up pada Porprov VI Jatim 2019 menimbulkan tanda tanya. Faktor penyebab kegagalan dan bagaimana solusinya dikupas dalam diskusi antara Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kota Malang dan Jawa Pos Radar Malang kemarin (18/7).

***

Target minimal bertahan di posisi runner-up digaungkan KONI Kota Malang jauh-jauh hari sebelum ajang Porprov IV. Namun apa mau dikata, Kota Malang hanya di peringkat IV dengan meraih 40 medali emas, 49 medali perak, dan 49 medali perunggu.

Hasil tersebut merosot dua tingkat jika dibandingkan Porprov V Jatim 2015 lalu yang berlangsung di Banyuwangi. Saat itu Kota Malang menjadi runner-up dengan meraih medali emas 42, perak 32, dan perunggu 50.

Dalam diskusi di Jawa Pos Radar Malang kemarin, Ketua KONI Kota Malang Eddy Wahyono mengakui memang secara peringkat turun. Namun, raihan medali meningkat. Namun apa pun itu, masyarakat tahunya hanya hasil akhir.

Padahal, Eddy menambahkan, ada sejumlah proses yang tidak pernah bisa dipahami. Proses inilah yang ingin dia paparkan. Di antaranya, adanya perubahan kebijakan Pemprov Jatim yang awalnya menggelar porprov tiap dua tahun, tiba-tiba setelah 2015 berubah jadi empat tahun sekali.

”Sehingga usia atlet yang sudah kami disiapkan untuk Porprov 2017 banyak yang tidak bisa tampil di 2019. Karena pada 2017 tidak ada porprov,” tandas Eddy.

Atas hasil yang kurang menggembirakan itu, KONI tidak akan menyalahkan cabang olahraga. Sebab, mereka itu dia anggap sudah maksimal berjuang. Hanya, kebanyakan terlalu percaya diri bisa meraih target tinggi.

Sementara selama persiapan belum mengantisipasi kekuatan calon lawannya. ”Ibarat mau perang, senjata sudah siap. Namun, belum tahu kekuatan lawan. Inilah persoalannya,” tandas pria yang juga ketua Harley Davidson Club Indonesia (HDCI) Regional Malang ini.

Tak mau menyalahkan siapa pun, Eddy dalam waktu cepat akan mengumpulkan semua cabor. ”Langkah paling awal (setelah kegagalan) akan mengevaluasi cabor secara keseluruhan,” kata Eddy.

Menurut dia, saat ini cabor harus melek terhadap kekuatan atlet kota dan kabupaten lain di Jawa Timur. Jangan hanya pasif. ”Bahwa peta kekuatan lawan sudah sejauh itu,” kata dia. Cabor, Eddy melanjutkan, harus lebih mempersiapkan diri dan meningkatkan kualitas dalam pembinaan serta pelatihan.

Selama ini masih ada anggapan, metode latihan yang dilakukan cabor masih konvensional. Belum ada sinergi atau menerapkan sport science. ”Jadi, nantinya akan ada strategi. Apakah nanti ada sport science, update metode pelatihan,” ungkap Eddy. Soal anggaran, dia menyebut sebenarnya memang kurang ideal.

Dia menjelaskan, tahun ini KONI Kota Malang mendapatkan dana hibah Rp 12,5 miliar. ”Jumlah tersebut sama saat penyelenggaraan Porprov 2015 lalu,” kata dia. Padahal, di tahun ini atlet yang diberangkatkan lebih banyak dan venue porprov empat daerah, yaitu Gresik, Lamongan, Tuban, dan Bojonegoro. Berbeda dengan Porprov 2015 hanya berlangsung di Banyuwangi.

Dengan anggaran yang ngepres, cukup sulit berprestasi. ”Kalau bicara prestasi adalah pembinaan, kalau pembinaan ya butuh anggaran. Kalau mau prestasi, anggaran harus mendukung,” ungkap dia. Dari anggaran tersebut, sekitar Rp 9 miliar tersedot untuk porprov.

Jika dari cabor, harus terus berbenah. Dari atlet, menurut dia, sudah menunjukkan semangat yang tinggi. ”Mereka kan dari proses seleksi.

Mereka semua bersemangat dalam porprov ini,” kata dia. Malah bonus yang diberikan untuk peraih medali emas sangat besar yaitu Rp 30 juta. ”Ini untuk merangsang mereka agar lebih bersemangat lagi,” kata dia.

Namun, Eddy melanjutkan, hasilnya masih belum bisa bagus. ”Apa pun sudah kami lakukan, mungkin memang belum beruntung,” kata dia

. Untuk bisa menjadi runner-up, sebenarnya bisa saja dengan jalan pintas. Misalnya mengambil atau menyewa atlet dari provinsi lain. ”Namun untuk apa, kalau bukan pembinaan sendiri hasil itu tidak akan membanggakan,” kata dia.

Wakil Ketua KONI Husnun Djuraid menambahkan, dalam penyelengaraan porprov saat ini dan di Banyuwangi lalu memang berbeda. ”Di Banyuwangi semua ditanggung tuan rumah, untuk akomodasi hingga transportasi,” kata dia.

Nah, di porprov ini semua dibebankan pada KONI masing-masing daerah. Jadi, butuh anggaran besar. Saat ini, tuan rumah hanya tempat penyelenggara saja.

Meski demikian, semua harus bangkit. ”Teman-teman di cabor juga harus lebih melek ilmu, pengetahuan, dan teknologi (iptek) olahraga. Kalau soal potensi banyak di Kota Malang,” kata dia.

Pengamat olahraga Yunan Syaifullah Helmi menambahkan,  Kota Malang harus lebih serius dalam mengembangkan olahraga. ”Kalau bicara romantisme masa lalu (jadi runner-up porprov). OK, itu masa lalu dan itu jadi cermin untuk ke depan,” kata dia. Yang penting, ke depan harus ada kebijakan yang kuat. Jangan parsial, selama ini prestasi wilayah KONI.

”Soal prestasi olahraga ini harus multikolaborasi,” kata dia. Mulai dari KONI, disdik, dispora, sekolah, dan orang tua siswa/atlet.

”Harus ada kebijakan kuat, yang menata tentang masa depan olahraga di Kota Malang. Kalau saya, sederhana. Mungkinkah wali kota berani membuat diskresi, membuat multievent wali kota cup yang jadi rutin,” kata dia.

Selama ini, lanjut Yunan, event seperti ini tidak ada di Kota Malang. Padahal, penyelenggaraan ini punya impack besar.

”Supaya memacu cabor dan lembaga yang sebelumnya agak pasif atau diam, bisa bergerak,” kata dia. Event ini bisa menjadi pemanasan sebelum nantinya di porprov. ”Dan event ini harus dibuat tahunan,” harap dia.

Pewarta : Aris Dwi Kuncoro
Copy Editor : Dwi Lindawati
Pnyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.