JawaPos.com – Aksi protes terus bergejolak akhir pekan ini. Sabtu (17/8), warga Hongkong alias Hongkongers turun ke jalan. Melakukan long march dari Hoi Sham Park hingga Whampoa Station di Hum Hong Road. Menariknya, aksi tersebut tidak mengganggu geliat pariwisata Hongkong hingga tadi malam.

Pukul 3.30 waktu setempat, ratusan Hongkongers berbaju hitam tumpah di Hoi Sham Park. Mereka berjalan menempuh rute sejauh 2 km sambil berorasi. Menyatakan protes agar Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi dicabut dan menuntut adanya demokrasi. Ada pula yang mengibar-ibarkan bendera Inggris dan Hongkong sebelum 1997. Sebagai bentuk protes bahwa Hongkongers bukan orang Tiongkok.

“Tiongkok itu jahat, mereka melakukan genosida dan tidak menghargai hak asasi manusia (HAM). Warga Hongkong tidak mau,” tegas Paladin Cheng, salah satu pengunjuk rasa. Dia ingin Hongkong merdeka. Meminta bantuan negara Barat (Inggris dan Amerika Serikat) untuk membantu negaranya lepas dari kekuasaan Negeri Panda tersebut.

Paladin menilai long march kemarin adalah pemanasan untuk aksi yang lebih besar hari ini, Minggu (17/8). Ribuan Hongkongers berencana menduduki Victoria Park Minggu (17/8) siang ini. Sebagai bentuk protes serius, mereka menyuarakan demokrasi dan menolak keras RUU Ekstradisi.

Wartawan Jawa Pos Agas Putra Hartanto

Isu yang beredar, Tiongkok sedang menyiapkan kekuatan militernya. Ikut turun tangan menangani aksi protes tersebut. Menurut Tiffany, seorang pengunjuk rasa perempuan, isu tersebut hanya untuk menakut-nakuti massa untuk turun ke jalan. “Kalau mereka memang datang, kami menghilang. Kalau mereka pergi kami akan datang lagi untuk protes,” ujarnya.

Aksi tersebut berlangsung kurang lebih dua jam. Vincent, pengunjuk rasa lainnya, merasa khawatir demonstrasi yang sudah berlangsung sejak awal Juni itu mempengaruhi sektor pariwisata. Menurut dia dalam tiga bulan ini wajah Hongkong sudah tercoreng. Seolah tidak ramah bagi warga asing.

Sebab, unjuk rasa selalu digelar setiap akhir pekan. Umumnya selalu menyasar adalah objek-objek vital. Seperti, taman kota, gedung pemerintahan, hingga fasilitas transportasi publik.

Namun, Paladin tidak sependapat. Aksi protes tidak berpengaruh terhadap sektor pariwisata. “Karena kami melakukan protes dengan damai. Anda bisa lihat kami baik-baik saja. Tidak merusak fasilitas apa pun,” katanya.

Justru aksi demonstrasi tersebut malah menunjukkan identitas Hongkong yang sebenarnya. Negara bebas, adil, dan menjunjung tinggi HAM. Dengan begitu, turis akan semakin banyak berdatangan. Karena negara menjamin keamanan dan kenyamanan warga asing.

Pukul 19.00, wartawan Jawa Pos jalan kaki menyusuri selat Hongkong menuju Avenue of The Stars. Berjarak 2,7 km dari lokasi demonstrasi. Butuh sekitar 45 menit untuk sampai ke sana.

Hongkongers saat menggelar aksi di kawasang Hung Hom. Siang ini, massa akan menggelar aksi besar di Victoria Park. (Agas Putra Hartanto/Jawa Pos)

Avenue of The Stars merupakan salah satu spot favorit pelancong untuk menyaksikan Simphony of Light. Atraksi permainan lampu LED dan laser dari gedung-gedung pencakar langit di kawasan Central dan Wan Chai.

Nyala cahaya warna-warni memanjakan mata di tengah gelapnya langit malam. Alunan musik edm (electronic dance music) yang kekinian menambah kesan menakjubkan. Para wisatawan tak lupa menyiapkan smartphone mereka. Merekam momen indah kerlap-kerlip tarian cahaya. Belum afdol rasanya, jika ke Hongkong namun tidak menyaksikan Simphony of Lights.

Nyatanya, aksi protes di Hum Hong tidak mengganggu geliat pariwisata di Avenue of The Stars tadi malam. Ratusan turis mancanegara masih memadati lokasi yang berada di kawasan Tsim Sha Tsui itu. Ilya Z, seorang turis asal Ukraina, tidak terganggu dengan adanya demonstrasi. Dia masih merasa nyaman. Apalagi, aksi protes dilakukan dengan damai.

“Orang hongkong punya hak untuk memperjuangkan haknya dengan damai. Saya hanya terkesan dengan budaya mereka,” terangnya. Apalagi, mayoritas Hongkongers fasih berbahasa inggris. “Itu merupakan hal yang keren. Mereka juga open-minded,” imbuh pria 19 tahun itu.

Menurut Ilya, warga Hongkong mempunyai budaya paling baik di Asia, Eropa dan Amerika. Dia juga tidak segan mengungkapkan cinta dengan Hongkongers. Polisi sampai saat ini juga melakukan pengamanan dengan baik.

Pelajar salah satu Universitas di Shanghai itu menyatakan, butuh diskusi untuk meredam gejolak ini. Mendudukan dua belah pihak, masyarakat Hongkong dan pemerintah Tiongkok sehingga menghasilkan solusi. “Saya percaya Hongkong dan Tiongkok bisa menjadi teman yang baik. Hanya perlu banyak saling berbicara,” jelas Ilya.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.