MALANG KOTA – Lebih dari 100 massa tiba-tiba menyeruak melakukan aksi di depan Balai Kota Malang kemarin pagi. Sejumlah polisi kemudian mencegat dan melakukan negosiasi. Namun sayang, negosiasi gagal.

Massa kemudian berteriak semakin lantang dan memilih maju melawan. Personel pengendalian massa (dalmas) dari polwan awal, kemudian menghadang dengan mengangkat poster imbauan.

Massa seolah tidak menghiraukan imbauan. Polwan lainnya yang mengenakan kerudung putih-putih mengambil posisi di belakang polwan dalmas awal. Pasukan kerudung putih ini pasukan Asmaul Husna, prosedur baru di Polda Jatim. Puluhan polisi perempuan tersebut terdengar mengumandangkan salawat.

Namun, lagi-lagi massa tidak bisa dikendalikan. Masa kian lantang berteriak: rakyat bersatu tak bisa dikalahkan. Personel polwan kemudian mundur, giliran dalmas yang maju. Namun, massa semakin banyak berdatangan.

Lebih dari 100 orang. Mereka tidak dengan tangan kosong. Mereka melempari aparat dengan botol. Negosiator yang berada di pertahanan paling depan akhirnya mundur.

Karena kondisi semakin runyam, tim pengurai massa (raimas) yang mengendarai motor langsung masuk ke tengah-tengah massa. Anjing pelacak juga tidak mau ketinggalan, ikut masuk mengurai massa.

Saat itu massa sempat semburat, tapi dengan cepat kembali lagi. Akhirnya personel Brimob dengan tameng besinya maju melawan aksi massa. Di belakangnya, mobil water cannon langsung menyemprotkan air ke tengah area.

Saat itu massa langsung kocar-kacir. Terbelah menjadi dua. Namun, personel Brimob terus maju dan membelah jadi dua pasukan. Ke kanan dan kiri.

Mereka memukul mundur massa. Saat area steril, Brimob lanjut memasang security barrier. Begitu seharusnya standard operating procedure (SOP) pengamanan aksi massa oleh aparat dijalankan.

Aksi di atas merupakan simulasi untuk mengantisipasi jika ada aksi massa saat digelar pelantikan Presiden RI Joko Widodo pada 20 Oktober. Aparat kepolisian tidak mau kecolongan. Apalagi sampai ada korban jiwa. Karena itu dalam simulasi kemarin, tidak ada satu pun aparat yang membawa senjata api. Karena personel polisi dilarang membawa senjata.

Wakapolda Jatim Brigjen Toni Harmanto yang hadir menyaksikan simulasi tersebut menegaskan, aparat tidak diperbolehkan membawa senjata api.

Untuk mengamankan pelantikan presiden dan wakil presiden RI, kata dia, segala antisipasi harus dilakukan. ”Namun, sebesar apa pun potensi kerusuhan, anggota polisi tidak diperkenankan membawa senjata api,” pungkas Toni.

Pewarta : Fajrus Shidiq
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.