Atlet lempar pisau dari UIN Malang terus berlatih

KOTA MALANG – Untuk pertama kalinya cabang olahraga (cabor) lempar pisau digelar pada Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (PIONIR) IX UIN (Universitas Islam Negeri) Malang. Olahraga yang terbilang ekstrem ini sebenarnya sudah banyak diadakan di daerah kawasan timur seperti Papua dan Sulawesi. Karena hal itulah 2 kontingen UIN Malang sempat minder menghadapi lawannya dari daerah timur.

Seperti yang disampaikan Kholisoh, mahasiswa jurusan Pendidikan Guru Madrasah Ibyidaiyah. Gadis cilacap ini mengaku sedikit minder jelang diadakannya kompetisi bergensi itu. Bagaimana tidak, biasanya lempar pisau hanya sekadar kegiatan rutin yang ia tekuni di Resimen Mahasiswa Satuan 811 Wira Cakti Yudha UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Namun kali ini justru olahraga tersebut menjadi ajang kompetisi dan ia dipercayai sebagai wakilnya.

“Ya sempet minder sih. Tapi sejak awal Juni itu kami mulai menghempas rasa itu dan bangkit dengan berlatih setiap hari,” tegasnya. Sejak awal Juni 2019 ia beelatih mulai jam 8.00 pagi hingga 12.00 siang serta jam 16.00 sampai 18.00. Tak sendiri, ia dibimbing oleh anggota TNI  Dodikjur Rindam V Brawijaya. “Harus ini setiap hari latihan. Kalau nggak nanti kayak ilang feeling lemparnya,” tambah dia.

Sementara delegasi putrayakni diwakilkan oleh Muhammad Shofiyulloh Al kamil. Mahasiswa jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial ini menyatakan hal yang sama bahwa ia juga sempat minder. Namun tekadnya bersama Kholisoh untuk membanggakan nama almamater lebih besar dari ketakutannya.

“Kalau latihannya sih tiap hari. Nggak cuma latihan lempar tapi juga melatih kekuatan tangan dengan olahraga kayak push up dan pull up gitu,” ujar cowok Pasuruan ini. Di awal perjuangannya berlatih ia kerap mengalami rasa sakit pada lengan. Sebab ia berlatih tanpa adanya pemanasan seperti push up maupun pull up. “Tapi berkat pelatih, kami akhirnya terbiasa,” tambah dia.

Perlu diketahui, cabor ini akan diadakan di venue kampus UIN Pascasarjana dikarenakan membutuhkan tanah yang datar.  Pisau yang akan digunakan nantinya adalah pisau jasad dengan ukuran panjang 19 cm, lebar 2,5 cm dan berat 300 gram. Sementara papan saran memiliki tinggi 170 cm dengan lebar 40 cm. Jarak antar papan 2,5 meter sedangkan antar papan dengan peserta 1,5 meter.

“Jadi nanti itu kita 3 kali percobaan. Papan itu ibarat tubuh manusia, bagian atas diibaratkan kepala. Jadi semakin diatas nancapnya ya semakin tinggi poinnya,” tukas cowok yang akrab disapa Fiul itu.

Pewarta: Rida Ayu
Penyunting: Kholid Amrullah
Foto: istimewa

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.