ZETIZENID – Siapa sangka persiapan konser musik yang memakan waktu berbulan-bulan, pengorbanan tenaga dan finansial masih tetap punya potensi untuk gagal? Yap, selain akibat kesalahan kru, kegagalan konser juga dapat terjadi karena kondisi-kondisi tertentu yang berada di luar kontrol manusia. Hal itu disebut dengan force majeure.

Berasal dari bahasa prancis, force majeure mengacu pada keadaan di luar prediksi yang membuat seseorang atau suatu pihak tidak dapat memenuhi kontrak. Misalnya saja, bencana alam, kematian, kecelakaan, dan bahkan insiden seperti penyerangan atau terorisme. Contohnya, konser Ariana Grande di Manchester pada 22 Mei 2017 lalu.

Contoh lain datang dari pentas seni musik gelaran SMA Labschool Kebayoran, Sky Avenue 2016. Kala itu, Sky Avenue 2016 yang diadakan di area terbuka Lapangan Aldiron Pancotan terpaksa ditutup lebih awal karena terjadi badai yang mengakibatkan kondisi panggung, layar LED, dan tenda-tenda hancur, serta kabel mulai tergenang air.

“Semua terjadi dengan cepat, dalam kondisi penuh tekanan dan ketidakpastian,” kenang Shanisa Dewanto, ketua pelaksana Sky Avenue 2016 pada Zetizen.id. “Kami mencoba untuk tetap mempertahankan komunikasi dengan semua pihak, terutama sesama panitia supaya segala tindakan tetap mengikuti SOP,” imbuhnya.

Dalam menghadapinya, tim publikasi Sky Avenue tidak sembarangan. Di bawah arahan Merah Dhaka Satria, krisis tersebut berhasil teratasi hingga mereka memanen pujian dan ucapan dukungan. Dhaka berbagi tip menghadapi situasi tersebut. Apa saja? Simak yuk!

Perencanaan yang Matang
Dalam situasi yang hectic, pastikan kamu gak ikut-ikutan panik ya! Hadapi dengan hati-hati dan gak usah terburu-buru. Sebelum bikin perencanaan dan langkah-langkahnya, pastikan udah membaca situasinya terlebih dahulu. “Kita juga gak bisa ngontol komentar dari luar, jadi jangan gampang ‘panas’,” ujar Dhaka. Sebagai tindak pencegahan, penyelenggara atau promotor juga harus menyediakan segudang plan untuk permasalahan seperti macet, over capacity, tiket palsu, keterlambatan jadwal hingga hujan.

Komunikasi Terpusat
Pihak yang kecewa pastinya membutuhkan kepastian. Oleh karena itu, official statement berupa press release, klarifikasi, dan unggahan di akun resmi harus segera dibuat dengan akurat dan matang. Supaya gak menimbulkan miskomunikasi, informasi yang disampaikan wajib terpusat dan di bawah satu koordinasi media yang aktif dan responsif. Pengumuman atas sumber resmi juga penting untuk disampaikan sebagai sebuah disclaimer.

Jaga Hubungan Baik Ke Semua Pihak
Keadaan force majeure memang tak ada yang dapat memprediksi. Sebuah gelaran yang gagal bisa saja mendapatkan hujatan ataupun simpati. Well, dengan menjaga hubungan baik ke seluruh pihak, simpati akan datang ketika hal serupa terjadi. “Banyak dari rekan sekolah lain yang mendukung karena kami memang menjaga hubungan baik dengan mereka,” tukas Dhaka.

Penulis: Ananda Triana
Foto: Istimewa
Editor : Indra M

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.