MALANG KOTA – Kampung Gerabah di Kelurahan Penanggungan, Kecamatan Klojen, Kota Malang, terus dikembangkan.

Tidak hanya untuk meningkatkan perekonomian warga, keberadaan kerajinan tersebut juga perlu ditonjolkan dari aspek edukasi maupun sisi pariwisatanya.

Jadi, kerajinan tradisional yang sudah lama dijalani warga tersebut bisa bertahan.

Lurah Penanggungan Yuyun Nanik Ekowati mengatakan, pihaknya terus berupaya memfasilitasi warga agar bisa lebih berdaya lewat kerajinan gerabah.

Dengan harapan, ke depannya ada inovasi-inovasi baru dari apa yang sudah ada sebelumnya. ”Pastinya akan terus kami kembangkan. Baik untuk wisata maupun edukasinya,” ucapnya saat ditemui kemarin (9/7).

Dia menjelaskan, Kampung Gerabah harus bisa dikembangkan menjadi lebih besar lagi. ”Kami angkat kembali.

Jangan sampai keahlian yang dimiliki para orang tua di sini hilang karena tidak ada yang meneruskan,” ujar perempuan yang sebelumnya menjabat lurah Kasin itu.

Salah satu langkah kelurahan yang kini dilakukan adalah mematangkan kerja sama dengan beberapa pihak. Mulai dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang, sejumlah mal, dan pengelola hotel.

Hal tersebut penting untuk membantu para perajin gerabah di kelurahan yang dia pimpin semakin dikenal dan mendapatkan pasar baru.

”Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata, Red) kami ikutkan kegiatan dinas pariwisata. Dengan harapan, nantinya mereka yang bisa jadi tour guide buat wisatawan yang ingin tahu Kampung Gerabah,” harap ibu dua anak itu.

Tak hanya itu, kemampuan pokdarwis di bidang marketing juga perlu ditingkatkan lagi. Sebab, mereka yang akan melayani wisatawan yang mau membeli hasil gerabah, baik secara online maupun offline.

”Nanti kan ini dikembangkan juga ada wisata belanja dan wisata edukasinya. Karena itu, kami juga kenalkan pada pemasaran UMKM oyimas itu,” tuturnya.

Sementara itu, untuk menjaga keberlangsungan kerajinan gerabah, pelajaran pembuatan gerabah juga dijadikan muatan lokal (mulok) di SDN Penanggungan.

”Setiap minggu anak-anak dapat pelajaran terkait itu (gerabah, Red). Mulai dari cara membuat hingga melukisnya,” jelasnya. Adanya pelajaran gerabah itu menjadi pengenalan sejak dini kepada anak-anak. Jadi, ada generasi yang meneruskan kerajinan orang tuanya.

”Makanya, baik yang pokdarwis maupun sekolah tadi kami khususkan mereka yang asli Penanggungan. Ya, agar mereka mengerti dan tahu,” tegasnya.

Menurut Yuyun, saat ini yang masih menjadi kendala adalah pada lahan dan bahan baku gerabah yang semakin sulit didapat. ”Kalau bahan, biasanya masyarakat mengambil dari wilayah Kecamatan Wagir atau Kecamatan Pakisaji,” kata dia.

Karena itulah, dalam waktu dekat pihaknya akan menindaklanjuti usulan warga terkait lahan kosong di pinggir sungai yang dimungkinkan untuk dijadikan lahan gerabah juga. ”Usulan baru dari warga, lahan kosong tersebut inginnya mau dijadikan seperti di Dinoyo. Artinya, dimanfaatkan,” terangnya.

Dengan harapan, nantinya tidak hanya warga di wilayah RW 6 yang saat ini ada 104 perajin yang membuat gerabah. Hanya, perencanaannya itu masih belum terealisasi. ”Kami usahakan tahun ini. Apalagi, saya di sini masih baru 1 bulan dan melanjutkan inovasi sebelumnya,” ungkapnya.

Meski begitu, adanya Kampung Gerabah itu sendiri dirinya bertekad tidak hanya ingin kerajinan itu hilang. Tapi, juga bisa meningkatkan taraf perekonomian warganya. ”Bisa nantinya dengan jualan ataupun dengan wisatanya itu tadi,” tandasnya.

Pewarta : M.Badar Risqullah
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.