Fenomena topi awan Gunung Rinjani, Rabu, 17 Juli 2019. Kredit Antara Foto-/Rosidin
MALANGTODAY.NET– Baru-baru ini terdapat fenomena yang menakjubkan di puncak Gunung Rinjani yang menjadi perbincangan di internet. Terdapat bentangan awan yang terlihat seperti payung yang menutupi puncak gunung tersebut. Fenomena ini juga sempat menjadi perbincangan di twitter dari kemarin (17/7/2019). Salah satunya adalah tweet dari @IpungLombok yang berisi video dari fenomena awan lentikular yang ada di atas Gunung Rinjani. Tweet ini telah di retweet sebanyak 6.9 ribu kali dan like sebanyak 14.3 ribu. Awan yang berada diatas Gunung Rinjani ini disebut dengan awan altocumulus lenticularis. Awan ini sendiri merupakan awan yang umumnya tegak lurus terhadap arah angin, massa awannya tipis, dan berbentuk seperti lensa. Melansir tekno.tempo.co, Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca BMKG Agie Wandala Putra mengungkapkan “Awan jenis ini biasanya ditemui di sekitar area gunung,”

Proses Terbentuknya Awan Altocumulus Lenticularis

Awan altocumulus lenticularis dapat terbentuk karena arus udara lembap yang ada di kawasan gunung naik ke atas. Arus udara ini lalu menyebabkan pengembunan dan membentuk awan. Awan ini memiliki karakteristik yang spesial karena posisinya relatif tetap dan tidak bergerak layaknya awan jenis lain. Posisinya relatif tetap disebabkan oleh faktor pendukungnya yaitu udara yang naik di atas pegunungan secara berkelanjutan
Awan altocumulus lenticularis terbagi atas beberapa jenis berdasarkan bentuknya. Pertama adalah Altocumulus Standing Lenticularis (ACSL) yang terjadi di dataran rendah. Kedua, yaitu Stratocumulus Standing Lenticular (SCSL) yang terjadi di ketinggian menengah. Dan ketiga adalah Cirrocumulus Standing Lenticular (CCSL) yang terjadi di ketinggian yang lebih tinggi dari atmosfer. Awan ini dapat bertahan selama berjam-jam atau bahkan berhari-hari dan kemudian akan terpecah atau menyebar ketika ada perubahan angin atau cuaca.

Berbahaya dalam Dunia Penerbangan

Meskipun terlihat indah dan unik, awan ini berbahaya dalam dunia penerbangan. Awan ini merupakan awan yang harus dihindari oleh pesawat terbang. “Kalau terhadap penerbangan agak sedikit bisa menghasilkan turbulensi karena ada faktor gelombang gunung.” jelas Agie Wandala Putra, Kepala Sub Bidang Prediksi Cuaca BMKG. Kembali melansir tekno.tempo.co, Peneliti meteorologi di Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional Erma Yulihastin mengatakan, gelombang gunung merupakan suatu sistem aliran gelombang yang tampak di atmosfer dan terbentuk di atas angin yang arahnya menabrak suatu hambatan atau penghalang berupa gunung. “Hal ini terjadi karena ada angin yang bertiup sangat kuat itu memiliki arah tegak lurus terhadap penghalang atau gunung.” Awan jenis ini cenderung sangat jarang sekali terjadi, oleh karena itu banyak orang berbondong-bondong untuk mengabadikan fenomena unik ini. Fenomena ini sebelumnya pernah terjadi di gunung lain di Indonesia. Awan altocumulus lenticularis juga pernah terbentuk di atas Gunung Lawu dan Gunung Semeru.
Awan lenticularis terlihat di atas Gunung Lawu pada Jumat (8/3/2019) sumber: Twitter @KulitAri9_42_9
Awan lenticularis terlihat di atas Gunung Semeru pada Senin (10/12/2018) sumber: Twitter @Sutopo_PN  Penulis: Tria
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.