Iba melihat keluarganya yang nyaris meninggal dunia karena kekurangan darah, membuat jiwa sosial M. Masrokhin muncul. Dia bertekad ingin mengabdikan hidupnya untuk membantu sesama dengan cara donor darah. Padahal, alih-alih donor darah, sebelumnya, sejak kecil dia lihat jarum suntik saja takut.

 BIYAN MUDZAKY HANINDITO

Suasana panas terasa di bawah tenda warna merah putih depan kantor Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Malang Selasa (17/9). Maklum saja saat itu berjubel para pejabat Pemkot Malang dan relawan untuk merayakan HUT ke-74 PMI.

Di antara para relawan yang jadi ”bintang” itu adalah M. Masrokhin. Warga Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, itu diundang secara khusus bersama 28 relawan lain.

Mereka menerima penghargaan Satyalancana Kebaktian Sosial. ”Saya sebenarnya tidak menyangka bahwa saya akan mendapatkan penghargaan ini karena saya kalau donor, ya tinggal donor saja tanpa menghitung,” ungkap pria berusia 50 tahun ini.

Dari 29 relawan itu, M. Masrokhin tercatat terbanyak melakukan donor darah di PMI Kota Malang. Yakni, 111 kali donor. Itu tercatat sejak dia kali pertama donor pada 1993. Saat itu usianya masih 21 tahun.

Atas dedikasinya, dia mendapat penghargaan berupa cincin emas dari PMI tingkat nasional lengkap dengan piagam penghargaan untuk donor ke-100. Penghargaan itu diserahkan Wali Kota Malang Sutiaji.

Masrokhin menjelaskan, dia sama sekali tidak menyangka akan mendapat penghargaan semacam itu. Termasuk penghargaan dari Presiden RI Joko Widodo pada Februari lalu. Sebab, niatnya donor darah itu murni membantu sesama.

Bukan mencari penghargaan. Sebab, dia tidak bisa melupakan ketika salah satu keluarganya dulu ada yang sakit dan butuh darah. Bisa jadi tanpa ada transfusi darah saat itu, nyawanya terancam tak tertolong. Tanpa pikir panjang, dia merelakan darahnya didonorkan.

Kebetulan golongan darahnya sama: O. Padahal, kala itu dia masih sangat takut melihat jarum suntik. Seumur-umur belum pernah suntik. Tapi, karena tekad membantu keluarganya tadi begitu kuat, dia memberanikan diri donor darah. Artinya, urat nadinya harus ditusuk jarum suntik.

”Kala itu keluarga saya membutuhkan transfusi darah sekitar 4 labu. Alhamdulillah tertolong, dari situ saya sadar bahwa banyak juga orang yang membutuhkan transfusi darah. Sekarang rutin dalam setahun itu donor tiap bulan Maret, Juni, September, dan Desember,” jelasnya.

Di satu sisi pria kelahiran tahun 1969 ini suka merasa khawatir setiap saat akan melakukan donor. Sebab, dia orang yang sulit minum air. Jadi, tingkat hemoglobin dalam darahnya tinggi. ”Jadi, setiap mau donor itu saya paksakan harus habiskan minimal satu botol air mineral ukuran satu setengah liter,” terang dia.

Meski sering donor, dia begitu takut saat petugas medis salah lokasi saat menusukkan jarum. ”Saya pernah dua kali mengalami ada petugas donor yang menyuntik tidak tepat di urat nadinya,” kata dia sambil tertawa.

Setelah terbiasa donor, dia merasa tubuhnya sehat. Bahkan ketika donor, dia sudah bisa merasakan kenikmatan tersendiri ketika darahnya mengalir. ”Kan hitung-hitung amal dan berpahala walaupun saya tidak pernah berpikir ke arah sana saat di ruang donor,” imbuhnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.