MALANG KOTA – Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL Dikti) VII Jatim menginstruksikan kampus negeri dan swasta Jawa Timur (Jatim), terutama di Malang, untuk menerapkan pembelajaran online. Karena perkembangan dunia digital menuntut sistem ini dijalankan.

Sekretaris LL Dikti Jatim Dr Widyo Winarso MPd menyampaikan, sistem perkuliahan konvensional saat ini kurang efektif dan efisien. Sehingga, sulit bisa mencapai 16 kali tatap muka. Perlu diketahui, jumlah perguruan tinggi negeri (PTN) Kota Malang ada 4 lembaga dan sekitar 57 perguruan tinggi swasta (PTS).

”Sudah saatnya ya (kuliah online), tidak lagi 100 persen konvensional,” kata Sekretaris LL Dikti Jatim Dr Widyo Winarso MPd, saat ditemui pada acara ospek mahasiswa baru (maba) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Senin (9/9).

Menurut dia, kuliah online tersebut tidak akan mematikan atau menghapus kuliah sistem tatap muka dengan dosen. Namun, sistem online ini untuk melengkapi sistem perkuliahan konvensional. ”Sistemnya 50-50 nanti. Kan kampus harus menyiapkan sarana dan prasarana, ini masuk biaya tinggi,” terang dia.

Dia menambahkan, soal sumber daya manusia (SDM) butuh penyesuaian. Karena untuk menyiapkan dosen dan staf yang paham sistem daring perlu pelatihan intens.

Namun, dia memberikan solusi bahwa sebaiknya kampus membuat mata kuliahnya berbasis online terlebih dahulu. ”Bertahap. Jadi mata kuliah dulu, baru program studi yang online. Nanti kalau 50 persen mata kuliah sudah online, naik ke program studi yang online, lalu naik ke institusinya yang online,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kampus yang siap mendirikan perkuliahan online bisa bekerja sama dengan kampus lain. Artinya, kampus bisa bekerja sama dengan kampus yang sudah menyelenggarakan perkuliahan online lebih dahulu. ”Untuk perguruan teknologi seperti ITN, maka mahasiswa bisa ikut daring di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) misalnya,” ujar dia.

Hanya saja, masih kata dia, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia (Kemenristekdikti RI) tidak menargetkan kapan semua kampus menerapkan hal tersebut. Namun, pihaknya menginginkan sistem tersebut segera diterapkan di kampus. ”Nggak ada target. Tapi harapan kami secepatnya,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor I Universitas Negeri Malang (UM) Prof Budi Eko Sucipto menyatakan, kampusnya sejak tahun 2017 sudah menerapkan kuliah online. Di mana yang diterapkan sistem blended learning atau campuran kelas tatap muka dengan kelas online.

Perlu diketahui, jumlah yang menggunakan sistem daring ada 120 mata kuliah. ”Dengan blended learning, perhitungan tatap muka tetap 16 pertemuan, tapi jumlah jam kuliahnya berkurang,” jelas guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM ini.

Menurut dia, sistem tersebut mengurangi jam tatap muka perkuliahan. Seperti adanya tugas, diskusi, kuis, dan ujian. ”Kami sudah melaksanakan ini sejak beberapa tahun lalu,” ungkapnya.

Lebih lanjut, banyak mata kuliah yang diajukan UM untuk mendapat dana hibah Kemenristekdikti. Namun, Kemenristekdikti memberikan dana hibah untuk mata kuliah online sebesar Rp 250 juta. ”Kami mengajukan ke dan yang menentukan pusat,” ujar dia.

Terpisah, Rektor ITN Malang Dr Kustamar MT menyatakan, pihaknya siap melaksanakan perkuliahan online pada 2020. Sehingga, saat ini pihaknya masih melakukan persiapan. ”Semester ini dimantapkan dulu persiapannya,” kata Dr Kustamar MT.

Menurut dia, ITN Malang perlu mempersiapkan dosen dan mata kuliah serta infrastruktur untuk memorandum of understanding (MoU) dengan Kemenristekdikti RI.

Misalnya, untuk memasang instalasi Sistem Pembelajaran Daring (Spada) di ITN. Perlu diketahui, di IT ada 15 program studi (prodi). ”Rencananya, di tiap prodi ada satu mata kuliah daring sesuai di kurikulum yang baru,” ungkapnya.

Pewarta : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Imam Nasrodin

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.