KOTA BATU – Ini kesempatan menggiurkan bagi warga Kota Batu yang ingin investasi. Pemkot Batu memberi peluang, terutama warga ber-KTP Batu untuk patungan membuat kereta gantung. Nilai total kebutuhan antara Rp 400 miliar sampai Rp 500 miliar. Jembatan itu nantinya sepanjang 14 kilometer.

Ajakan investor lokal itu atas permintaan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko. Dia ingin dalam rencana proyek prestisius itu ada keterlibatan warga Kota Batu sendiri. ”Kalau instruksi dari Bu Wali (Dewanti) kan sekurang-kurangnya itu 20 orang investor lokal.

Namun, itu kan masih tahap awal. Ada kemungkinan yang bisa berubah,” kata Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Batu M. Chori kemarin.

Sebelum ke urusan investor, yang dipikirkan saat ini terkait pemilihan lembaga pengawas. Ini yang nantinya mengawal korporasi antara swasta dan pemerintah tersebut. Hal itu perlu dilakukan agar perencanaan, pembagian saham, dan yang lainnya dapat berjalan baik.

Chori menambahkan, karena ini proyek besar, setiap kajian selalu diadakan focus group discussion (FGD) dengan masyarakat. Upaya paling dekat, Pemkot Batu bersama tim kajian dari Pemerintah Pusat dan CEO proyek kereta gantung masih harus menekankan studi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal), dampak sosial, ekonomi, termasuk pola kerja sama dengan masyarakat.

”Apakah masyarakat secara individu, atau harus menjadi anggota UKM dan BUMDes terlebih dahulu untuk menjadi investor,” sambung Chori.

Dalam hal ini, Pemkot Batu bertindak sebagai tim percepatan, lantaran dana yang digunakan bukan dari APBD. Oleh karenanya, yang menjadi persoalan saat ini Pemkot Batu masih juga belum membentuk lembaga yang pasti terkait pengawalan ke depan.

”Kalau kemarin itu ada dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tapi masih belum koordinasi lebih lanjut,” ujar Chori.

Di sisi lain, Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko menegaskan jika tahap awal pembangunan kereta gantung akan segera masuk kajian. Ditargetkan proyek tersebut akan berakhir tahun 2021. Sementara disinggung terkait pembagian saham, Dewanti menegaskan jika hingga saat ini masih belum menemukan regulasi yang pasti.

Kan masih dalam kajian. Kemarin waktu gathering sifatnya stimulan. Setelah ini akan kembali kami diskusikan. Ya maksimal 50 orang warga Kota Batu yang bisa kita ajak diskusi, supaya kondusif,” sambung Dewanti.

Sebelumnya, kajian awal dari panjang 14 km tersebut akan ada beberapa titik stasiun dan sub-stasiun yang dimulai dari Desa Tlekung sebagai stasiun A, Kecamatan Junrejo-Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji-Desa Oro-Oro Ombo stasiun B penghubung, Kecamatan Batu-Kelurahan Ngaglik sebagai stasiun C atau Panderman, Kecamatan Batu-Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji.

”Itu masih kajian yang lama. Sekarang ini masih harus diurai lagi. Karena berkaitan dengan bahaya penerbangan TNI dan aktivitas paralayang,” ujarnya.

Terpisah, Kepala OJK Perwakilan Malang Sugiarto Kasmuri menegaskan, pihaknya bertindak sebagai regulator dalam pelaksanaan pembangunan proyek kereta gantung tersebut. Nantinya, OJK termasuk yang mengawasi terkait pembiayaan dari masyarakat dan juga investor.

”Sifatnya hanya regulator saja. Terkait pembagian saham pun kita masih dalam tahap awal. Masih fiktif pembagiannya karena prosesnya masih panjang, termasuk regulasi keterlibatan masyarakat sampai mana saja, itu belum dikaji,” katanya.

Dia menambahkan, sejauh ini langkah Pemkot Batu melibatkan beberapa pihak seperti Badan Pertanahan Nasioanl (BPN) Kemenkum HAM dan yang lainnya sangat tepat. Hal itu lantaran proyek tersebut termasuk berskala nasional.

Sugiarto menyebut, untuk kepemilikan saham kereta gantung ini nantinya akan milik bersama. Oleh karenanya, pengawasan yang ketat menjadi keharusan, agar nantinya pelaksanaan pembiayaan tersebut berjalan sesuai harapan. Namun, secara peraturan pemilik saham yang wajib lapor minimal senilai 5 persen.

”Belum ada kesepakatan antara masyarakat berapa persen, investor berapa persen. Masyarakat hanya boleh masuk seberapa jauh dan sebaliknya, belum sampai ke sana,” jelasnya.

Pewarta : Miftahul Huda
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.