Cabai Cina dan India Serbu Jawa Timur
Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifullah Yusuf MalangToday.net/Humas

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Timur menemukan cabai rawit merah kering impor asal Cina dan India beredar di pasar-pasar tradisional di Jawa Timur. Hasil investigasi, cabai impor ini ditemukan di Pasar Wage dan Pasar Ngemplak Kabupaten Tulungagung serta beberapa daerah lain di sekitar Tulungagung.

“Disperindag telah melakukan investigasi sesuai arahan Dirjen Perlindungan Konsumen dan Tata Niaga Kementerian Perindustrian,” kata Wakil Gubenrnur Jawa Timur, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dalam keterangan persnya.

Hasil investigasi, cabai rawit kering atau biasa disebut dengan cabai kresek ini dipasok ke pasar tradisional dari Surabaya dan Cirebon. Pasokan biasanya dilakukan dengan menggunakan sebuah truk besar berkapasitas 4-5 ton per minggu.

Cabai rawit kering yang dari Cina diketahui bermerk MEY, sedang yang dari India menggunakan merk dagang PJ. Cabai yang dari India dibeli pedagang di pasar Rp58 ribu per kilogram kemudian dijual lagi ke masyarakat Rp 70 ribu per kilogram. Sedangkan untuk cabai yang dari Cina dibeli pedagang pasar Rp 42 ribu per kilogram dan dijual lagi ke masyarakat Rp50-60 ribu per kilogram.

“Cabai ini biasanya disukai para pedagang kaki lima misalnya para penjual bakso dan soto,” ujar Gus Ipul.

Terkait temuan ini, Disperindag Jawa Timur telah melakukan beberapa langkah di antaranya dengan melakukan identifikasi serta pengawasan terhadap supliyer dan pedagang yang memasok cabe tersebut ke pasar trandisional. Selain itu, Disperindag juga melakukan uji kelayakan di Balai Besar POM Surabaya. “Kami juga telusuri rantai distribusinya,” kata Gus Ipul.

Selama ini, cabe rawit kering sebenarnya tidak terlalu laku dijual di pasaran Jawa Timur karena harga jual cabai biasanya tak sampai Rp 20 ribu per kilogram. Namun meningkatnya harga cabai hingga lebih dari Rp 100 ribu per kilogram menjadikan cabai rawit kering impor akhirnya masuk ke Jawa Timur.

Dari identifikasi awal, cabai dari Cina dan India ini sebenarnya masuk ke Jawa Timur melalui jalur resmi dan mengantongi izin dari Kementerian Perindustrian. “Karena ini cabe kering maka izinnya di Kemendag, kalau cabai basah izinnya ke Kementerian Pertanian,” ujar Gus Ipul.

Sementara itu, hingga saat ini harga cabai rawit di pasaran memang masih cukup tinggi karena target panen cabe di Jawa Timur pada musim panen kali ini hanya menghasilkan 16 ribu ton cabe dari target 25 ribu ton.

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here