MALANG KOTA – Polemik pelarangan penjemputan moda transportasi berbayar di kawasan Bandara Abdulrachman Saleh masih berlanjut. Kali ini Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) yang mengeluhkan bus pariwisata juga masuk daftar terlarang menjemput penumpang di bandara. Kebijakan tersebut diyakini terlalu memberatkan pihak pelaku industri wisata di Malang Raya.

Ketua DPC HPI Malang Raya Mokhamad Ansori menyatakan, pihaknya yang biasa menggunakan bus pariwisata untuk menjemput wisatawan domestik ataupun mancanegara turut menerima dampaknya.

Dia menyatakan, akhir-akhir ini pihaknya harus mondar-mandir keluar masuk bandara untuk menjemput kliennya yang dibawa ke bus yang harus berada di luar wilayah bandara. ”Jadi kami harus jemput wisatawan dari dalam bandara yang harus pakai taksi bandara juga. Dan bus itu harus ada di luar bandara,”  terang Ansori.

Dia menambahkan menurut dia hal ini berdampak pada kenyamanan para kliennya. Sebab, hal tersebut tidak ada dalam perjanjian yang mereka buat, dan dikhawatirkan akan membuat para kliennya kapok. Menurut dia, larangan tersebut mulai dirasakan biro perjalanan semenjak dua minggu terakhir.

”Sosialisasi hanya sebatas saat kami menjemput wisatawan di bandara saja, untuk duduk bersama dengan pihak-pihak terkait masih belum. Apalagi surat edaran yang kami dapatkan juga masih berbentuk draf, belum ada tanda tangan dan nomor resminya,” jelasnya.

Menurut Ansori, memasukkan bus pariwisata dalam daftar moda transportasi berbayar seperti taksi online dirasakan kurang pas. ”Kalau taksi online di situ dilarang ya masuk akal, kalau biro perjalanan menurut kami kurang pas. Karena biro perjalan itu yang merangkai perjalanan para wisatawan, yang menyumbang devisa negara,” imbuh Ansori.

Menurut dia, sektor pariwisata di Malang Raya yang sedang berkembang ini juga karena andil para pelaku industri pariwisata layaknya biro perjalanan dan pihak terkait lainnya. ”Kita memperjuangkan bandara itu untuk menjadi internasional. Mulai pelaku industri pariwisata dan pemerintah.

Kalau masih belum jadi (bandara) internasional saja sudah seperti itu, mending kita alihkan ke Juanda, biro perjalanan kan juga punya hak,” bebernya. Hal ini jadi pertimbangan pihaknya karena juga ada selisih harga tiket penerbangan yang lumayan menohok. Penerbangan dari Jakarta ke Surabaya lebih murah Rp 250 ribu per pax jika dibandingkan dengan Jakarta ke Malang.

Sementara itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang juga turut memberikan tanggapan terkait larangan moda transportasi berbayar mengambil penumpang di bandara. ”Tentu hal ini sedikit banyak akan berpengaruh pada jumlah wisatawan ke Malang ya,” terang Kepala Disbudpar Kota Malang Ida Ayu Made Wahyuni.

Hanya saja, Ida menyatakan hal ini masih perlu dikaji lebih jauh terkait dampaknya yang luas. ”Jadi itu kan kebijakan internal dari Bandara (Abd. Saleh), tapi kalau kebijakannya memiliki dampak yang luas ini kan perlu dibicarakan lebih lanjut,” imbuhnya.

Senada dengan Ansori, dia menganggap tidak masuk akal jika bus turut dilarang mengangkut di dalam bandara. ”Kalau taksi online masih masuk akal ya di mana-mana juga seperti itu. Tapi kalau bus, mestinya pengecualian ya,” tandas Ida.

Seperi diberitakan sebelumnya,  tak ingin Bandara Abdulrachman Saleh Malang semrawut, pengelola membatasi aktivitas transportasi berbayar, termasuk taksi online. Meski tetap boleh mengantarkan penumpang ke bandara, tapi mereka dilarang mengambil penumpang saat keluar bandara. Kebijakan tersebut juga berlaku untuk kendaraan travel, bus wisata, maupun mobil carteran.

Kepala Dinas Operasi Lanud Abdulrachman Saleh Kolonel Pnb NRP Erwin Sugiandi menjelaskan, kebijakan pembatasan transportasi berbayar tersebut dilakukan atas nama penertiban areal bandara.

”Kalau tidak ditertibkan, akan terlihat seperti pasar. Ini kan tanah kita, segala aturan yang kita gunakan intinya adalah untuk mengontrol agar kegiatan lanud tidak terganggu,” tegasnya beberapa waktu lalu.

Pewarta : nr1
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.