JawaPos.com – Indonesia diproyeksikan oleh para desainer fesyen menjadi kiblat muslim fesyen (modest) dunia pada 2020. Untuk menuju ke sana, ternyata banyak yang harus dipersiapkan oleh para pelaku di industri fesyen.

Sejalan dengan para desainer, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendorong pertumbuhan ekosistem modest fashion dan memaksimalkan potensi Indonesia untuk menjadi kiblat modest fashion dunia.

Catatan Bekraf, modest fashion yang merupakan bagian dari subsektor fesyen menjadi kontributor terbesar kedua terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). BPS mencatat fesyen sebagai subsektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi sebesar 18,01 persen atau setara dengan Rp 166 triliun pada 2016.

Dalam Program Modest Fashion Founders Fund (ModestFFFund) Celebration Days yang digelar selama empat hari, 19-22 September, di Gandaria City Jakarta, ditampilkan koleksi pakaian hasil karya 30 desainer dengan lebih dari 40 brand lokal.

Expert Modest Fashion dan Co-Founder Modest Fashion Weeks Franka Soeria menjelaskan, Indonesia bisa menjadi kiblat fesyen muslim dunia asalkan memahami pasar dan pesaingnya. Sebab menurutnya, banyak negara juga berambisi sama seperti Indonesia.

“Bisa sih asal benar tahapannya. Kolaborasi tahu posisinya bagaimana nih. Saingannya siapa. Malaysia, Turki, Dubai, Afrika Selatan juga mau lho. Tapi, belum ada yang jadi kiblat, semua sedang menuju,” kata Franka kepada wartawan, Jumat (20/9).

Beberapa syarat untuk bisa bersanding dengan negara modest fashion lainnya, lanjut Franka, adalah dengan mengubah perspektif dan cara pandang marketing modest fashion. Begitu pula dengan memperbaiki kualitas dan packaging dan branding.

Sedikitnya ada dua syarat untuk bisa menjadi kiblat fesyen muslim dunia menurut Franka. Pertama, Indonesia atau Jakarta harus memiliki pusat industri bahan baku fesyen atau aksesori pernak-pernik modest fashion.

“Produksinya harus kuat dulu. Kalau ke Turki itu kita bisa menemukan pusat produksi dan pusat belanja. Di sini, kita menemukannya di mana? Pusat belanja di mana? Paling Melawai atau belum ada yang terpadu,” tukasnya.

Kedua, adalah strategi pemasaran modest fashion. Dia menyesalkan banyak desainer lokal go international tetapi banyak mengikuti ajang-ajang fashion week yang tidak bergengsi. Baginya, untuk memasarkan modest fashion lokal ke luar negeri, bukan asal internasional dengan penyelenggara yang abal-abal.

“Jadi, jangan apa-apa ke internasional fashion week ini itu, jadi enggak asal luar negeri. Lihat dulu track record organisasinya. Dan kemudian modest fashion itu bukan sekadar kain, tetapi keseluruhan lebih dari itu,” tegas Franka.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.