Dunia seni di Malang Raya berduka. Salah satu maestro seni, Rachmad Budiri, mengembuskan napas terakhirnya kemarin (12/8) pukul 15.00 di RSSA Malang. Pendiri Budi Ayuga Art Performance itu telah menciptakan ratusan kreasi tari dan melahirkan sangat banyak penari profesional.

MOH. BADAR RISQULLAH

Suasana haru mewarnai Rumah Sakit Saiful Anwar (RSSA) kemarin sore. Puluhan keluarga dan kolega tampak bermata sembap. Mereka benar-benar kehilangan atas meninggalnya pria yang dikenal dengan panggilan Budi Ayoga itu.

Maklum saja, pria berusia 53 tahun itu meninggalkan banyak kenangan semasa hidup. Khususnya, dialah yang konsisten selama 35 tahun menghidupkan dunia tari di Kota Malang.

Melalui Budi Ayoga Dancer Performance, dia sudah menciptakan sekitar ratusan kreasi tari dance. Di Kota Malang khususnya, nama Budi Ayoga sudah menjadi ikon pagelaran seni dan beragam festival.

Termasuk dia pula yang menjadi salah satu pelopor Ijen Carnival pada 2012. Sekitar 300 peserta ikut dalam event lintas kota itu. Ada peserta dari Mojokerto, Kediri, Surabaya, dan kota tetangga lainnya.

Salah satu sahabat Budi Ayoga, Yongki Irawan, menjelaskan, sahabatnya itu meninggal sekitar pukul 15.00. Dia meninggal sebelum menjalani pemeriksaan.

”Padahal, kemarin (Minggu) masih stabil kesehatannya dan sempat berkomunikasi. Tapi, sekarang dia sudah tiada,” ungkap Yongki saat ditemui di RSSA kemarin.

Sebagai teman karibnya, Yongki  tak bisa melupakan kenangan bersamanya. Mulai dari beragam event, dia sering kali menemaninya. Sejak masuk rumah sakit usai mengalami kecelakaan kerja 17 hari lalu hingga meninggal, dia selalu mendampingi.

Menurut dia, kiprah Budi Ayoga di dunia seni sangat besar. Itu sejak dia mendirikan Budi Ayoga Art Performance Studio pada 1985. Sebelum ada Budi Ayoga, dia mendirikan Kitaro Club.

Yakni, lembaga seni yang mengajarkan sulap, master of ceremony (MC), badut, penyanyi, teater, dan tari. ”Dia sangat konsen sekali dengan itu (kesenian),” kenang dia.

Di era itu, peminat dunia seni di Kota Malang masih minim. Tak banyak yang mau menggeluti kesenian. Maklum saja karena kesenian belum bisa mendatangkan penghasilan ekonomi yang tinggi. Honornya kecil.

Namun, karena darah seni sudah mengalir pada diri Budi Ayoga, dia konsisten pada jalur seni. Dia bertahan dengan segala cara meski rekan-rekannya sudah meninggalkan kesenian. ”Saya kagum. Jadi, yang bertahan cuma dia waktu itu,” jelasnya.

Dia bekerja keras di dunia seni. Tiap hari mengajar kelas tari di sejumlah sekolah. Mulai tingkat SLTP, SMA, dan perguruan tinggi di Malang. Baru pada 1991, dia hijrah ke Jakarta karena ada kontrak sebagai pengajar senam aerobic. ”Tapi, pada 1993 bila tidak salah, dia akhirnya memilih kembali ke Malang,” ucap pria asal Bareng, Kota Malang, itu.

Ketika balik ke Malang, nama Budi Ayoga kian melambung. Ratusan murid tari bergabung di lembaganya itu. Bahkan, mereka banyak yang sukses mewakili event lomba tari, baik di tingkat lokal maupun nasional.

”Kalau penghargaan sudah banyak yang dia berikan. Dia sering dipercaya mengisi acara seni di sini (Kota Malang),” ungkapnya.

Sebelum meninggal, imbuh Yongki, kondisi Budi Ayoga sempat membaik. Namun kemarin pagi, kondisi teman karibnya itu kembali tidak stabil. Itu akibat infeksi luka bakar saat atraksi sulap menghibur warga Kelurahan Celaket pada 27 Juli lalu.

Ya, 40 persen tubuhnya terbakar. Dia langsung dilarikan ke RS Lavalette sebelum dirujuk ke RSSA. ”Infeksinya sudah menyebar luas hingga ke ginjal. Jadi, harus dilakukan perawatan selanjutnya. Tapi, sebelum itu dilakukan dia sudah meninggal,” jelasnya.

Sementara itu, sebelum meninggal Rachmad Budiri banyak memiliki kenangan dengan sesama teman seniman. Salah satunya bersama Imam Muslikh yang selama dua hari belakangan ini terbayang wajah temannya itu.

”Saya juga sempat berpikir pesimistis dengan acara The Great Magical Dancer yang digagas Budi Ayoga. Apakah akan terlaksana atau tidak,” terangnya saat ditemui di RSSA.

Acara itu sendiri merupakan acara yang akan memperingati kiprah Budi Ayoga Dancer selama 35 tahun ini. Event tersebut rencananya akan berlangsung di Gedung Gajayana pada 24–26 Agustus. Dan Budi Ayoga sendiri akan menampilkan Fire Dance Magic Illusion.

”Makanya saya kepikiran. Acara itu bakal terlaksana nggak ya. Padahal, saat itu beliau masih sedang dirawat di rumah sakit,” ungkapnya. ”Meski saat ini beliau sudah tiada, semoga acara ini tetap berjalan,” harapnya.

Di sisi lain, Jawa Pos Radar Malang juga kehilangan sosok pembuat maskot Green School Festival (GSF). Berkat kiprahnya itulah, event yang setiap tahun diadakan itu memiliki icon. Sehingga menambah keunikan tersendiri.

”Dia dulu yang membuat maskot itu. Tahun 2018 lalu. Jika bukan karena dia, GSF tidak akan ada maskotnya,” terang Bachtiar Eko Saputro, staf event organizer Jawa Pos Radar Malang saat diwawancarai. Karena itu, dia sangat berduka atas meninggalnya Budi Ayoga. ”Semoga amal ibadahnya diterima di sisi Tuhan. Aamiin,” tutupnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Abdul Muntholib

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.