Belajar setelah Salat Tahajud Kunci Sukses Ndaru Peraih Emas di OSN
Saat Muhammad Ndaru Lang Lang Buana menunjukkan mendali emasnya (Istimewa)

MALANGTODAY.NET Halaman SMPN 4 Kepanjen tampak sepi Senin pagi (8/7/2019). Namun di kantor sekolah, beberapa guru yang terlihat rapat. Saat rekan-rekan media mengutarakan niat untuk wawacara dengan Muhammad Ndaru Lang Lang Buana, Heru Nurgianto MPd, wakil kepala kurikulum SMPN, menyarankan untuk datang langsung ke rumahnya.

”Karena sekarang masih libur, jadi bisa langsung ke rumahnya saja, Mas,” terang Heru sambil memberi alamat rumah Ndaru di Desa Ngajum, Kecamatan Ngajum.

Saat ditemui di rumahnya, peraih medali emas Olimpiade Sains Nasional (OSN)  tingkat SMP bidang ilmu pengetahuan sosial (IPS) tingkat nasional 2019 ini terlihat  masih mengantuk.

Rupanya, dia baru tiba di rumah dari lokasi pelaksanaan OSN di Universitas Negeri Jogjakarta dini hari. Namun, pelajar berusia 14 tahun ini tetap bersemangat menceritakan pengalamannya mengikuti OSN yang baru dia ikuti itu.

”Senang sih dapat (medali emas, Red), tapi ya tidak terlalu girang juga. Sebab, ada banyak teman lainnya dari Jawa Timur yang tidak seberuntung seperti saya,” kata bungsu tiga bersaudara tersebut.

Dia mengungkapkan, ada 24 siswa perwakilan Jawa Timur yang mengikuti OSN, termasuk dirinya. Ada yang ikut bidang matematika, ilmu pengetahuan alam (IPA), dan ilmu pengetahuan sosial (IPS).

Saat bertolak ke Jogjakarta, menurut Ndaru, hampir semuanya menunjukkan optimismenya untuk menggondol medali. ”Mereka juga sangat rajin belajar, tidak seperti saya,” ujarnya polos.

Karena itu, dia sendiri mengaku awalnya pesimistis bakal bisa mendapat medali emas. Apalagi saat di lokasi OSN, dia mengetahui  ada 408 peserta dari seluruh Indonesia yang mengikuti tiga bidang ilmu sains, semuanya rajin belajar.

”Melihat mereka, saya berpikir mendapat medali perunggu maupun perak saja sudah bersyukur,” tuturnya.

Setelah melewati tahapan OSN, tak disangka, dewan juri saat pengumuman malah menyebut Kabupaten Malang menjadi peraih juara II yang disusul namanya ikut disebut.

”Saya terkejut, sampai tiba-tiba nangis,” katanya. Sementara juara I, dia melanjutkan, jatuh kepada salah satu siswa asal Semarang.

Sudah ikut olimpiade sejak SD

Sebelum berhasil meraih medali emas di tingkat nasional, Ndaru kerap mengikuti berbagai lomba dan olimpiade sejak di bangku SD. Ketika kelas 5 SD, dia tercatat sebagai juara III lomba siswa berprestasi tingkat Kabupaten Malang.

Kemudian dia juga pernah ikut OSN bidang matematika meski akhirnya tak lolos di tingkat Kabupaten Malang. ”Pada awal naik kelas 8 beberapa waktu lalu juga pernah ikut Kompetisi Matematika Nalariah Realistik (KMNR), tapi gagal juga di tingkat provinsi,” akunya.

Sementara itu, Slamet, ayah kandung Ndaru, juga sempat terkejut saat mendengar kabar dari Jogjakarta bahwa anak bungsunya berhasil meraih medali emas. ”Padahal, di rumah sepertinya Ndaru tidak terlalu rajin belajarnya,” tuturnya sembari tersenyum.

Dia mengaku hampir tidak pernah menyuruh Ndaru untuk belajar. ”Sinau nopo ora geh kulo boten pernah ngengken (belajar apa tidak saya juga tidak pernah menyuruh, Red),” imbuhnya.

Hanya, Slamet melanjutkan, sejak kecil anak laki-lakinya itu tampak memiliki passion di bidang IPS. Salah satu yang diingatnya  adalah kesukaan Ndaru membaca peta. ”Saking seringnya dia sampai hafal kayaknya,” tuturnya.

Kebiasaan itu, menurut pria yang bekerja sebagai pedagang itu, berlanjut ketika Ndaru mulai mengenal internet. ”Kemudian ketika mulai mengenal internet dia sering ke warnet untuk melihat Google Maps,” katanya.

Slamet yakin, anaknya tidak akan terlepas dari pertolongan Tuhan. Sebab, menurut dia, beberapa bulan semenjak ikut kompetisi OSN di tingkat kabupaten pada Maret lalu, hingga berhasil lolos di tingkat nasional anaknya kerap terlihat bangun dini hari untuk melaksanakan salat Tahajud. ”Setelah itu dilanjut belajar hingga pukul lima pagi,” terangnya.

Guru pembimbing Ndaru, Dra Sulistyowati, mengungkapkan jika siswanya itu terbilang pandai dan rajin di sekolah. ”Ketika belajar dia sangat serius dan fokus, di samping itu dia juga cerdas dalam menangkap pelajaran,” katanya.

Di sekolahnya, Ndaru termasuk salah satu siswa dari kelas unggulan yang di dalamnya berisi siswa-siswi berprestasi.

Selama enam hari mengikuti lomba, mulai 30 Juni–6 Juli, perempuan berusia 56 tahun itu juga mengetahui bagaimana Ndaru selalu bangun dini hari untuk melaksanakan Tahajud sebelum belajar sampai pagi hari. ”Ketika teman-temannya yang lain tidur, dia justru belajar sampai pagi,” tutupnya.

Pewarta : *
Copy Editor : Dwi Lindawati
Penyunting : Ahmad Yani

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.