MALANG KOTA – Bisa jadi tidak banyak masyarakat Malang Raya yang tahu kalau aterosklerosis merupakan penyebab utama penyakit jantung dan stroke. Ternyata, tak hanya orang tua saja yang berisiko, remaja juga bisa memiliki faktor risiko ini.

Untuk memberikan pemahaman sekaligus pencegahan awal, Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Radiologi FK UB bersama RSUD Dr Saiful Anwar kemarin (13/7) mengadakan Pengabdian Masyarakat tentang Skrining Aterosklerosis pada Remaja Berisiko di Radiologi Sentral (ruang USG) RSSA.

Ada sekitar 39 remaja yang berpartisipasi untuk tahu lebih lanjut mengenai aterosklerosis. Aterosklerosis sendiri adalah penyempitan dan penebalan arteri karena penumpukan plak pada dinding arteri yang akibatnya bisa fatal.

Khusus di acara ini, para remaja usia 5 hingga 24 tahun yang berisiko terkena aterosklerosis karena keturunan atau kesalahan pola hidup bisa periksa dini dengan USG Doppler Karotis secara gratis.

”Dasar dari penyakit vaskuler itu aterosklerosis. Jadi bisa penyakit jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah perifer merupakan komplikasi terkait atherosklerosis. Sehingga sangat penting kami mendeteksi dini.

Deteksi dini atherosklerosis bisa dilakukan dengan USG dopler vaskuler. Dimana dengan USG tersebut bisa dinilai ketebalan lapisan intima media arteri carotis yang merupakan ‘surrogate marker’ atherosklerosis,” jelas Dr dr Yuyun Yueniwati SpRad (K), dosen ahli radiologi FK UB. “Ketebalan lapisan intima media arteri carotis menggambarkan keadaan vaskuler secara umum dan merupakan prediktor terjadinya atherosklerosis,” sambungnya.

Kegiatan yang rutin diselenggarakan empat tahun berturut-turut itu juga melibatkan banyak pihak, seperti dokter spesialis, PPDS, dokter muda, dan mahasiswa kedokteran.
Aterosklerosis selain dari bawaan genetik juga bisa timbul akibat gaya hidup dan lingkungan yang tidak sehat. Misalnya saja kurang olahraga dan merokok yang sangat bisa menimbulkan hal ini.

”Di sini semua kami cek seperti berat dan tinggi badan supaya tahu obesitas atau tidak. Lalu cek darah supaya tahu diabetes atau tidak. Dan juga kami berikan kuesioner supaya tahu ba­gaimana detail dari pasien,” imbuhnya. (del/c1/dik)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.