MALANG KOTA – Sebanyak seratusan anak SD tampak asyik dengan alat gambar di halaman Museum Mpu Purwa kemarin (21/8). Objek lukisan pun tak jauh-jauh dari peninggalan bersejarah berupa artefak koleksi museum. Mulai dari arca Ken Dedes hingga Joko Dolok.

Kegiatan menggambar ini sebenarnya untuk memperingati Bulan Kunjungan Museum. Bertema ”Ayo ke Museum”, para peserta terlebih dahulu berkeliling melihat-lihat koleksi museum satu hari sebelum lomba.

Kepala Seksi Jaranitra dan Permuseuman Disbudpar Kota Malang Dra Wiwik Rohati Rodiah menyatakan, dengan berkeliling melihat-lihat benda bersejarah, anak-anak punya referensi saat berkarya. ”Tidak hanya menggali ide, mereka juga kami ajak mencintai sejarah, khususnya sejarah Kota Malang,” tambahnya.

Event yang dibiayai Kemendikbud ini dikatakan Wiwik bukan hanya menonjolkan perlombaan menggambarnya. ”Tetapi bagaimana mengundang anak-anak agar mereka bisa mengenal sejarah yang ada,” jawabnya.

Tak hanya mengajak siswa SD berkunjung ke museum, event perdana yang digelar selama dua hari itu juga akan diikuti siswa SMP di Kota Malang. Untuk SD dilakukan kemarin dan diikuti 100 lebih peserta.

Kebanyakan, memilih menggambar arca dan museum Mpu Purwa tampak depan. Seperti peserta Queen A.H, dia menggambar arca Bodhisattva yang ditemuinya dalam museum.

Dengan lincah, siswi SD Brawijaya Smart School ini mewarnai gambarnya, Bodhisattva, dengan warna abu-abu ditambah warna agak kehijauan. ”Karena arca warnanya abu, dan hijau ini lumutnya,” terang dia. Agar semakin berwarna, arca ini diberi bunga teratai oranye sebagai alas duduk Bodhisattva.

Siswi kelas lima ini menyatakan, baru kali ini menggambar arca. ”Bagi saya sulit sekali menggambar arca. Dan selama di rumah saya latihan menggambar terus,” ungkapnya.

Tak jauh beda dengan Queen, Elsa Nativa pun juga asyik membuat beberapa arca. ”Karena kalau buat saya, museum ini rumah-nya arca, makanya saya buat gambar ada arca dan museum,” jawabnya.

Para peserta ini, nantinya dinilai tidak hanya dari bakat menggambar. Kreativitas, kebersihan, dan detail menggambar juga dinilai. Sudibyo, ketua tim juri, menyatakan, lomba menggambar artefak ini sangat bagus bagi anak-anak.

”Bagusnya begini, lomba itu juga ada edukasinya. Nah, ini lomba menggambar juga diberi edukasi sejarah,” tambah Dibyo. Dari lomba ini, Sudibyo ingin ada event berkelanjutan. Kalau bisa, tetap berbasis lomba, namun ada unsur edukasinya.

PewartA : Sandra Desi
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Ahmad Yani

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.