Bupati Rendra: Asal Petani Untung Lombok Mahal Tidak Masalah
Ilustrasi cabai@MalangTODAY.net

MALANGTODAY.NET– Ancaman kemarau panjang yang diprediksi terjadi dalam beberapa waktu ke depan harus diantisipasi demi menjaga target inflasi plus minus 3,5 persen. Kemarau panjang berpotensi membuat jebol inflasi pangan.

Ekonom Institute For Development of Economics and Finance (INDEF) Bhima Yudhistira menengarai, kemarau panjang akan berdampak terhadap produksi pangan. Pemerintah, kata dia, harus mulai mengantisipasi sejumlah komoditas mudah busuk.

“Dominan inflasinya nanti ke bawang merah, cabai, telur ayam, dan sayur-sayuran perlu dijaga pasokannya,” kata Bhima, Kamis (11/7/2019).

Bhima menyarankan pemerintah untuk mengoptimalkan peran Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) sebagai peringatan dini yang penting untuk pusat. Sehingga, manakala terjadi gejala kelangkaan di daerah, pemerintah bisa langsung mengambil tindakan.

“Kalau terjadi kelangkaan antardaerah, langsung lakukan koordinasi. Pemetaan masa tanam dan panen juga urgent dilakukan dan di-update secara berkala,” katanya.

Di sisi lain, koordinasi antardaerah guna pemenuhan kebutuhan pangan perlu melibatkan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Misalnya, kata Bhima, jika ada kelangkaan bawang merah di Surabaya, maka BUMD setempat bisa menghubungi BUMD terdekat untuk menambal pasokan.

“Jadi, ada quick response. Selain itu, juga mengantisipasi panjangnya rantai pasok dan upaya permainan harga. Ini tugas Satgas Pangan diperkuat,” tukasnya.

Terakhir, pemerintah juga diminta untuk mendorong riset dan pengembangan komoditas pertanian yang lebih adaptif terhadap cuaca ekstrem. Seperti diberitakan sebelumnya, pemerintah mulai mengambil ancang-ancang menghadapi musim kemarau panjang yang diprediksi terjadi dalam waktu dekat.

Mereka khawatir, panjangnya durasi musim kemarau akan menyerang sektor produksi pangan nasional. Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, pemerintah telah melakukan sejumlah langkah antisipasi, di antaranya kembali menata ekosistem.

“Penyiapan gudang untuk beberapa komoditas yang mudah busuk. Hal-hal seperti itu yang kami antisipasi ke depan. Kami persiapkan dengan matang,” katanya pria yang akrap disapa Ketjuk itu.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi sebesar 0,55 persen sepanjang Juni 2019. Sementara inflasi tahun kalender tercatat 2,05 persen. Besaran inflasi itu masih dipengaruhi oleh kenaikan harga kelompok bahan makanan.

Berdasarkan kelompok pengeluaran, bahan pokok memberikan andil terhadap inflasi sebesar 0,38 persen. Adapun komoditas bahan pokok yang mengalami kenaikan harga tertinggi adalah cabai merah dengan andil 0,12 persen.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.