MALANG KOTA – Disertasi yang mengangkat kekerasan guru terhadap murid sudah banyak, namun bagaimana dengan sebaliknya. Berangkat dari isu resistensi murid terhadap guru inilah yang membuat disertasi Achmad Muchlis menjadi unik dan pertama di Indonesia. Mahasiswa program doktor ilmu sosial dan politik ini bahkan menggabungkan dua disiplin ilmu yang berbeda, yaitu ilmu sosial dan pendidikan.

Wadir III Bidang Kemahasiswaan Pascasarjana UMM Dr Drs Wahyudi MSi menyatakan dalam visi Pascasarjana UMM, saat ini tengah mencoba mengembangkan kajian yang bersifat interdisipliner. Yaitu penggabungan beberapa disiplin ilmu serumpun untuk mengatasi suatu permasalahan sosial.

Salah satunya adalah mahasiswa Doktoral UMM, Achmad Muchlis, yang pada Senin (21/10) ini akan mengadakan ujian disertasi terbuka. Pada ujian disertasi Muchlis, Wahyudi menceritakan bahwa Muchlis menggabungkan teori sosiologi dan pendidikan dalam menyelesaikan disertasinya. ”Disertasi kami di sini menerapkan interdisipliner, berasal dari berbagai disiplin keilmuan, jadi tidak hanya monodisipliner,” ungkapnya.

Achmad Muchlis dalam disertasinya mengambil judul, Resistensi Murid terhadap Guru. Berangkat dari beberapa fenomena bentuk kekerasan murid terhadap guru, Muchlis pun mengambil judul tersebut.

Sebab, saat ini, konsentrasi yang banyak dibahas dalam lingkup adalah kekerasan murid terhadap guru. Sedangkan untuk kasus kekerasan murid terhadap guru tidak pernah sama sekali dibahas. ”Penelitian ini dilatarbelakangi banyak kasus kekerasan fisik terhadap guru, di daerah Sampang,” jelas Muchlis.

Dosen IAIN Madura tersebut juga menjelaskan lebih lanjut bahwa bentuk-bentuk resistensi anak tidak dapat diartikan sebagai murni penolakan dan perlawanan anak. Melainkan sebuah bentuk interaksi anak kepada gurunya. Sehingga dalam hal ini bentuk-bentuk resistensi anak, seperti perlawanan verbal maupun fisik tidak dapat ditanggapi dengan cara-cara yang kasar.

Sehingga dalam hal ini guru diwajibkan untuk bersabar dan lebih mengerti karakter masing-masing anak. ”Dalam hal ini para guru dituntut untuk profesional dalam memahami murid-muridnya, mengapa dia dapat melakukan tindakan-tindakan resistensi tersebut,” terangnya.

Dia pun menjelaskan, bahwa dalam memberikan hukuman pada siswa juga tidak diperkenankan untuk memberikan sikap kasar, baik secara verbal dan fisik. Namun, akan lebih baik jika hukuman dari tindakan-tindakan hukuman yang diberikan adalah yang bersifat memicu kreativitasnya.

Seperti hukuman membuat cerita pendek, membuat sebuah prakarya, mengaji maupun azan. Penelitian yang menggunakan metode snowball ini dilakukan di beberapa sekolah di Jawa Timur. ”Di beberapa sekolah yang saya teliti, juga sudah banyak yang menerapkan hukuman-hukuman, yang membuat muridnya lebih kreatif,” terangnya.

Harapannya, dengan disertasinya ini, para guru dalam memaknai resistensi ini, mereka tidak mengartikan bahwa siswanya bukan tidak mau belajar. Namun, di sini profesionalitas guru diuji dalam memaknai tindakan-tindakan resistensi tersebut. Guru-guru harus memiliki makna yang berbeda, dalam mengartikan bentuk resistensi siswa.

”Saya harap dengan disertasi ini, para guru menjadi lebih mengerti siswanya, karena apa yang kita lakukan kepada murid akan kembali kepada kita nantinya walaupun tidak terjadi saat itu juga,” ungkap dosen bahasa Arab tersebut.

Pewarta : Eri
Copy Editor : Amalia Safitri
Penyunting : Aris Dwi Kuncoro

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.