MALANG KOTA – Penyakit hepatitis B dan C masih menjadi ancaman di masyarakat. Sayang, tidak semua aware terhadap peradangan hati tersebut. Umumnya baru sadar ketika kondisi telah menjadi akut dan mengancam keselamatan jiwa.

dr Syifa Mustika SpPD-KGEH dari divisi Gastroenterohepatologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUB RSSA Malang membeberkan, di Malang, 7 hingga 8 persen dari total populasi positif mengidap hepatitis. “Kenapa banyak yang tidak menyadari? Karena penyakit ini memang tidak bergejala,” ungkapnya.

Bahkan, orang yang terjangkit virus hepatitis, awalnya seperti terserang flu biasa. Seperti pilek, batuk, serta gampang capek. “Kalau sudah berlanjut mata kuning, perut membesar, hingga muntah darah, maka sudah bahaya,” terang dia.

Lebih lanjut Syifa menjelaskan, jika tidak diobati, hepatitis B dan C, lama kelamaan akan menyebabkan penyakit hati kronik. Yakni liver sirosis atau hati mengkerut. Bahkan, bisa ke arah kanker hati. Jika terjadi komplikasi, maka risiko kematian tinggi.

Dia sendiri, sejak 2016, konsen melakukan screening dan edukasi tentang bahaya hepatitis. Tidak hanya di kalangan masyarakat umum, tapi juga kepada mereka yang tingkat risikonya tinggi. Seperti di lembaga pemasyarakatan dan anak-anak jalanan. “Di lembaga pemasyarakatan (LP) Lowokwaru, tahun 2016 ada 12 persen yang positif hepatitis,” ungkap dia. “Sedangkan di kalangan anak-anak jalanan, sekitar 9 persen,” sambungnya.

Pemeriksaan dini paling gress dia lakukan di LP Kelas I Medaeng, 10 Agustus lalu. Ada sekitar 250 penghuni rumah tahanan (pegawai dan napi) yang mengikuti tes sampel darah. Hasilnya, 7,2 persen positif terkena hepatitis B. Sedangkan seorang napi positif hepatitis C.

“Para napi berasal dari latar dan kasus berbeda. Mereka yang pernah memakai narkoba atau tato dengan penggunaan jarum bergantian, maka lebih rentan terserang,” beber dia.

Penggunaan alat mandi bareng, alat makan, pisau cukur, hingga piranti make up juga sangat rawan. Karena itu, ketika seseorang terkena hepatitis, maka virus bisa masuk atau menular melalui alat-alat yang meninggalkan luka di kulit.

“Hasil yang di Medaeng sudah kami komunikasikan. Mereka bisa diobati, ada alur ke rumah sakit pemerintah,” tukas Syifa.

Lebih lanjut, dalam screening hepatitis itu, Syifa membawa sekitar 40 kru yang terdiri dari dokter spesialis, dokter muda, analis medis, dan perawat. Acara ini juga menggandeng Komunitas Perempuan Peduli Indonesia (KoPPI). Selain deteksi dini, kegiatan dalam rangka memeringati Hepatitis Sedunia tahun 2019 dan menyambut HUT ke-74 RI tersebut, juga diselingi dengan ceramah kesehatan untuk warga binaan.

Foto : Istimewa
Editor : Neni Fitrin – Indra M

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.