WNI Disandera Teroris Filipina, Presiden Ogah Bayar Tebusan!
Presiden Indonesia, Joko Widodo (kiri) dan Presiden Filipina, Rodrigo Duterte @The Jakarta Post

MALANGTODAY.NET – Kelompok teroris militan Abu Sayyaf di Filipina saat ini dikabarkan menyandera dua Warga Negara Indonesia (WNI) dan satu warga Malaysia. Kelompok tersebut menuntut tebusan berupa uang yang jika tak dipenuhi akan berakibat pada pembunuhan para sandera. Namun sayangnya, pemerintah Filipina enggan membayar tebusan.

Dilansir dari CNN Indonesia, Jumat (22/2/2019), pernyataan ini disampaikan oleh juru bicara Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, Salvador Panelo. Pemerintah menegaskan bahwa memenuhi tuntutan para teroris sama saja membuat mereka malah lebih berani untuk kembali melakukan penculikan.

“Kami tengah melakukan yang terbaik untuk mengamankan pembebasan para sandera dari tangan jahat kelompok Abu Sayyaf tetapi kami tetap teguh pada kebijakan kami yang tak akan membayar tebusan,” tutur Panelo.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia, Armanatha Nasir, menegaskan komitmen pemerintah untuk menyelamatkan sandera. Sejauh ini, pihak Kemlu masih melakukan koordinasi dengan pemerintah Malaysia dan Filipina. Namun terkait tebusa, Armanatha menyebut pemerintah tak pernah membebaskan sandera dengan opsi itu.

“Biasanya hal itu (tebusan) adalah hal yang tidak pernah kita bahas dengan pihak penyandera,” kata Armanatha.

Sejauh ini, WNI yang disandera bernama Heri Ardiansyah (19 ) dan Hariadin (45). Keduanya adalah warga Wakatobi, Sulawesi Tenggara yang berporfesi sebagai nelayan pukat. Keduanya ditangkap oleh kelompok Abu Sayyaf sejak 2016 saat mereka berlabuh di Sandakan, Sabah, Malaysia.

Keduanya bahkan sempat ditampilkan dalam video amatir yang dirilis oleh kelompok Abu Sayyaf. Kondisi Heri dan Hariadin saat itu sungguh mengenaskan. Mulutnya dibekap dengan lakban dan matanya ditutup kain. Dalam video itu, salah satu meminta perhatian pemerintah Indonesia untuk mengupayakan pembebasannya.

“Saya adalah Warga Negara Indonesia, pekerjaan saya nelayan di Sabah, Sandakan. Saya kena tangkap oleh Abu Sayyaf di Laut Sandakan. Saya minta perhatian pemerintah Republik Indonesia, terutama Presiden dan Bapak Dadang yang mengurus,” ucapnya. (sig)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.