Tak Bantu Rohingnya, Penasehat Negara Myanmar Dipermalukan Saat KTT ASEAN
Penasihat Negara Myanmar Aung San Suu Kyi @ Nation Multimedia

MALANGTODAY.NET – KTT ASEAN ke-33 baru saja dilangsungkan di Singapura beberapa hari yang lalu. Jika biasanya konferensi ini berlangsung dengan nuansa yang ramah, hal berbeda tersaji dari KTT ke-33.

Hal tersebut terjadi setelah penasihat negara Myanmar Aung San Suu Kyi dipermalukan di depan umum oleh peserta konferensi yang lainnya. Bukan tanpa sebab, peserta konferensi mengecam Aung San Suu Kyi yang tidak melakukan apapun untuk mengatasi kekerasan terhadap etnis Rohingnya.

Baca Juga: 5 Pemain Sepak Bola Ini Punya Banyak Anak dari Berbagai Wanita

Seperti yang diketahui bahwa sejak tahun 2016, presekusi pada etnis Rohingnya di Myanmar menjadi tragedi yang luar biasa. Setidaknya sudah ada 10 ribuwarga sipil yang tewas dan hampir 750 ribu jiwa harus mengungsi akibat dari konflik yang terjadi.

Dalam KTT ASEAN ke-33 itu, Aung San Suu Kyi mendapatkan tekanan dan cibiran dari berbagai pihak. Salah satu yang paling vokal adalah Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad.

Mahatir Mohamad mengatakan bahwa dirinya sungguh kecewa dengan Aung San Suu Kyi beserta pemerintah Myanmar secara kesluruhan. Menurut Mahathir, Aung San Suu Kyi telah melupakan latar belakangnya dulu yang merupakan seorang pejuang HAM dan demokrasi.

“Seseorang yang pernah ditahan karena perjuangan demi hak asasi sebelumnya (Aung San Suu Kyi), seharusnya mengetahui penderitaan orang lain bukan malah menyalahkan yang menderita,” kata Mahathir seperti dilansir dari ABC, Selasa (13/11/2018).

Baca Juga: Anak dan Cucu Wiranto Pakai Cadar, Netizen: Subhanallah

Tak hanya Perdana Menteri Malaysia saja, Wakil Presiden Amerika Serikat Mike Pence pun juga angkat bicara dihadapan para pemimpin ASEAN lainnya. Mike Pence menyebut bahwa apa yang dilakukanoleh Myanmar tak termaafkan.

Namun kendati dipojokkan dalam konferensi tersebut, Aung San Suu Kyi tetap tak bergeming dan menurutnya Myanmar telah melakukan tindakan yang tepat. Ia menyatakan bahwa peristiwa presekusi etnis Rohingya tersebut adalah masalah Myanmar yang tak bisa dipahami oleh dunia luar.


Penulis: Swara Mardika
Editor: Swara Mardika

Loading...