Negara Terkaya di Afrika, Mengapa Swaziland Jadi Negara Merana?
Raja Swaziland, Mswati III (kiri) dan potret demonstrasi di Swaziland @Istimewa

MALANGTODAY.NET – Sebelumnya, data dari Transaprency International Indonesia (TII) menunjukkan bahwa tingkat korupsi pejabat publik di Indonesia setara dengan Swaziland. Negara tersebut sendiri dicap sebagai negara paling merana di dunia. Lalu pertanyaannya, seberapa merana Swaziland? Berikut ulasannya sebagaimana dirangkum dari Tirto.id.

Swaziland ternyata masuk dalam jajaran negara makmur di Benua Afrika. Negara yang kini bernama eSwatini ini pada 2016 mencatatkan PDB sebesar US$3.727 miliar. Pendapatan per kapita mencapai angka US$2.775,15 dengan keseimbangan kemampuan belanja mencapai US$9.800 per kapita. Selain itu, Raja Swaziland bernama Mswati III menjadi pemimpin terkaya ke-17 di dunia versi Forbes. Kekayaan bersihnya berkisar US$ 50 juta dan aset mencapai US$140 juta dolar.

Kekayaan luar biasa ini berimbas pada gaya hidup keluarga kerajaan. Setidaknya setahun sekali, Raja Mswati III yang memiliki 15 istri itu mengirimkan istri-istri mereka ke Amerika Serikat (AS) untuk berbelanja sepuasnya. Siapapun yang mengusik gemerlap kehidupan keluarga raja akan dihadapkan pada pengadilan dengan tuduhan meresahkan masyarakat.

Lalu, di mana letak ketimpangannya?

Pertama, pendapatan rata-rata penduduk menyentuh angka kurang dari US$1,25. Hal itu juga ditambah dengan angka pengangguran di negara itu yang menyentuh 34 persen dari jumlah populasi penduduk pada tahun 2014.

Dalam segi kesehatan, Swaziland Health HIV/AIDS and TB Project pada yahun 2014 menghimpun data bahwa negara ini mencatatkan kecepatan infeksi HIV/AIDS tertinggi di dunia. Sekitar 39 persen orang dewasa di negara ini sudah terinfeksi.

Adapun soal gizi, data Food and Agriculture Organization (FAO) pada 2016 lalu menyebut satu dari tiga orang mengalami kekurangan gizi. Imbasnya dari semua itu, Swaziland pada 2016 dinobatkan sebagai negara dengan usia harapan hidup terendah (peringkat 221 dari 224 negara) di angka 51,6 tahun.

Kesimpulannya, tirani raja dan gaya hidup keluarganya telah membunuh rakyat. Benarkah Indonesia seperti itu? (sig)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.