Hebat, Nenek Dari India Ini Tetap Bersekolah di Usia Senja
Ajibainchi Shala di desa Fangane,Thane-Mumbai, sekolah untuk para nenek @MalangTODAY/Istimewa

MALANGTODAY.NET – Pepatah langit mengatakan bahwa pendidikan tidak pandang usia, semua orang bisa belajar selama dia mau dan mampu, tidak ada kata terlambat untuk bersekolah. Usia senja tidak membuat Kanta menyerah pada pendidikan, simak kisah inspiratifnya, sebagaimana ulasan India Today berikut.
 
Dialah Kanta, seorang nenek berusia enam puluhan, yang berjalan ke sekolah setiap pagi, membaca sajak anak-anak yang sudah diajarkan sebelunya.
 
Dengan mengenakan seragam merah muda, lengkap dengan ransel di bahunya, Kanta bersama dengan 29 teman sekelasnya tengah belajar di Ajibainchi Shala, sekolah untuk para nenek yang berada di desa Fangane, Thane (Mumbai).
 
Kanta saat ini sudah bisa membaca dan menulis dalam bahasa Marathi, mengatakan bahwa dengan pendidikan, dirinya berasa bebas, independen.
 
Kanta mengatakan bahwa,
“Awalnya saya malu dan ragu-ragu, tetapi, ketika saya datang untuk mengetahui bahwa wanita seusia saya ke atas, telah bergabung dengan Shala, akhirnya saya pun ikut serta. Sekarang, saya bisa membaca dan menulis dalam bahasa saya.”
 
Kanta menambahkan kalau dirinya telah memahami betapa pentingnya sebuah pendidikan.
“Saya telah memahami pentingnya pendidikan. Ini  seperti membuat diri Anda berharga. Sebelumnya, saya harus meletakkan cap jempol pada dokumen bank, tetapi kini, saya bisa mendaftar sendiri. Saya tidak butuh bantuan orang lain.”
 
Di lain sisi ada Ramabai (87) penderita ganguan pendengaran yang tetap antusias pergi ke sekolah setiap hari. Ramabai menatakan bahwa,
“Kami tidak tahu pentingnya pergi ke sekolah seperti anak-anak. Akan tetapi, sekarang saya menjadi bisa menulis dan juga sedikit membaca.”

Hebat, Nenek Dari India Ini Tetap Bersekolah di Usia Senja
Ajibainchi Shala @MalangTODAY/Istimewa


Semangat para nenek dalam menyelesaikan pendidikannya, tidak akan terwujud tanpa adanya campur tangan seorang Yogendra Bangar (45), yang mendirikan sekolah tersebut untuk mendidik para wanita tua di desa, di mana pertanian adalah profesi yang dominan.
 
Bangar yang merupakan guru di Sekolah Dasar Fangane Zila Parished, berkolaborasi dengan Motiram Trust Amal, dan mendapatkan imbalan kepercayaan berupa papan tulis untuk kelas. Selain itu, kebutuhan logistik para nenek seperti sari, seragam pink, tas sekolah, alat tulis, dan kapur, juga diberikan.
 
Ketika disinggung terkiat latar belakang pendirian Ajibainchi Shala, Bangar mengemukakan keprihatinannya terhadap semua wanita tua di desa yang buta huruf dan tidak dapat membaca epos mitologi di Shivaji Jayanti.
“Saya merasa itu adalah tugas saya untuk mendidik mereka. Setelah dipercaya keluarga lewat tawaran pinjaman sebagian kecil dari tanah mereka untuk mendirikan sekolah, kami pun memulai perjalanan lewat peresmian tepat pada Hari Perempuan Internasional tahun lalu, dengan 28 nenek yang menjadi muridnya, kata Bangar, masih dikutip dari sumber yang sama.
 
Bangar menjelaskan bahwa kegiatan sekolah dimulai dengan berdoa, setelah itu, para nenek melafalkan huruf Marathi, belajar pendidikan dasar termasuk matematika dasar. Selain itu, para nenek juga diajak menanam pohon untuk penghijauan di lingkungan sekolah.
 
Bangar mengharapkan pemerintah setempat turut andil dalam upaya tersebut, dengan memberikan bantuan beasiswa.
 
‪”Ini akan sangat ramah dan mendorong jika pemerintah memberikan bantuan untuk siswa kami,” pungkas Bangar. ‬

Berikan tanggapan Anda

Komentar Anda

Balas

Please enter your comment!
Please enter your name here